------------------
OLEH orang-orang di sekelilingnya, Kurniawan, 30, dikenal sebagai seorang penari, juga guru tari. Maklum, tiap hari pria berperawakan kurus asal Dusun Gelang, Desa Tawangrejo, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, itu memang melatih tari. Dia mengajar tari untuk kegiatan ektrakurikuler di sejumlah sekolah.
Mulai di sekitar Pandaan dan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Hingga ke Porong, Kabupaten Sidoarjo. Bahkan, Kurniawan memiliki sanggar tari di rumahnya. Yaitu, Sanggar Tari Greged.
Namun bukan sekadar guru tari. Bapak tiga anak itu juga seorang sinden. Kurniawan bahkan cukup lama menjadi sinden. Yaitu sejak 2009. Dia pun sering tampil di pagelaran wayang kulit di berbagai daerah.
Boleh di bilang, Kurniawan begitu total terjun di bidang seni. Sebab, tidak hanya bisa menari dan nyinden. Suami dari Rosita Isabella ini juga piawai memainkan gamelan.
“Saya pemain gamelan, spesialis memainkan bonang. Saya juga menari dan sinden,” terang pria kelahiran Sidoarjo ini.
Aktivitasnya di bidang seni ini terasah sejak dia kuliah di Unesa, Jurusan Seni Tari. Di sana, dia total mendalami semua kegiatan seni yang ada.
Meski demikian, menjadi penari dan sinden sebenarnya jauh dari bayangannya. Ceritanya berawal saat Kurniawan duduk di bangku SMA sekitar tahun 2009.
Kala itu ia aktif ikut karawitan karena diajak gurunya. Selama ikut karawitan, dia berlatih di Taman Candra Wilwatikta (TCW) Pandaan. Karena rajin berlatih, semua alat pun bisa dimainkannya. Namun, spesialisasinya adalah bonang.
Di sela-sela berlatih karawitan, Kurniawan penasaran dengan sinden. Sebab, selama ini sinden hanya dilakukan perempuan. Dia pun ingin menjajal kemampuannya menjadi sinden laki-laki.
Meski demikian, keinginannya itu tidak bisa dia lakukan secara vulgar. Sebab, saat itu memang tidak ada sinden laki-laki. Maka, Kurniawan pun secara sembunyi-sembunyi berlatih nyinden. Tanpa sepengetahuan guru dan teman-temannya di grup karawitan.
Setelah merasa bisa, Kurniawan pun memberanikan diri tampil. Namun lagi-lagi dia belum berani tampil terbuka di depan teman-temannya.
“Pertama kali tampil sebagai sinden, justru di desa sendiri. Itu sekitar tahun 2010. Saat itu ada kegiatan sedekah desa yang nanggap wayang kulit. Di sana saya nyinden pertama kali,” tuturnya.
Awalnya, tidak ada yang tahu bahwa pesinden yang tampil saat itu Kurniawan. Bahkan, tidak ada yang mengenali Kurniawan. Termasuk orang tuanya, almarhum Samsu dan Suhartik.
Sebab, wajahnya memang memakai full make up. Dengan blangkon dan jarik. Sehingga, penampilan Kurniawan tampak berbeda. Hanya suaranya saja yang menyerupai wanita.
“Pakaian tetap laki-laki, tapi dirias. Dan saat melantunkan gending, suara yang keluar suara perempuan. Bukan laki-laki,” cetusnya.
Kini, Kurniawan sudah menguasai puluhan gending. Seperti Jula Juli, Gondo Kusumo, Samirah, Walang Kekek, dan masih banyak lainnya.
Untuk menjadi seorang sinden laki-laki, menurut Kurniawan, kuncinya harus paham mengandalkan notasi gamelan. Selain itu, harus sering menyimak para sinden senior saat tampil.
“Di luar itu, saya harus bisa menjaga kestabilan tenggorokan. Lalu istirahat yang cukup, olahraga, dan tidak minum es,” bebernya.
Sampai saat ini, Kurniawan kerap tampil di berbagai tempat. Bahkan, jam terbangnya relatif tinggi. Banyak yang mengundang Kurniawan, justru karena dia pesinden laki-laki.
Di Jatim misalnya, dia seriang diundang ke Surabaya, Pasuruan, Malang, Jombang, Mojokerto, Kediri, Sidoarjo, dan sebagainya. Dia juga pernah tiga kali tampil di Jakarta. Masing-masing di TMII, Museum Fatahillah, dan Depok.
“Dari sindenlah, saya menemukan jodoh dan akhirnya menjadi istri. Istri saya juga seorang sinden, kami pun sering tampil bersama. Awalnya sebagai tambahan penghasilan, lama kelamaan menjadi pekerjaan utama,” ujar penggemar berat Waljinah ini.
Memang selama pandemi ini, Kurniawan dan istrinya tidak bisa lagi tampil. Sebab, pertunjukan seni dilarang.
“Selama pandemi korona, kegiatan sinden kosong. Sekarang fokus menjadi mengajar tari di rumah dan sekolah-sekolah. Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir. Biar bisa nyinden lagi,” harapnya. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin