----------------
SUASANA MAN 1 Pasuruan di Bangil tampak lengang saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung, beberapa waktu lalu. Maklum, kebijakan daring membuat suasana sekolah sepi.
Tidak ada pelajar di sana. Tapi bukan berarti sekolah setempat tanpa kehidupan. Beberapa guru ada di sana. Tak terkecuali Fauziah, guru bahasa Jepang, warga Dermo, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
"Lagi pandemi Covid-19. Jadi siswa belajar dari rumah. Tapi, sebagian guru masuk," kata Fauziah bercerita suasana madrasah setempat.
Fauziah merupakan salah satu guru honorer atau GTT di MAN 1 Pasuruan. Sudah sekitar 4 tahun ia bertugas sebagai tenaga pendidik, khusus bahasa Jepang di sekolah setempat.
Meski sebagai guru honorer, kiprahnya jangan dipandang sebelah mata. Ia beberapa kali mengantarkan anak didiknya ke tangga juara. Mulai dari juara Shodo atau seni kaligrafi Jepang; juga juara Rodoku, yaitu membaca dan melafalkan teks bertuliskan Hiragana dan Katakana dalam bahasa Jepang.
Tidak hanya kejuaraan lokal. Karena kejuaraan tingkat nasional pernah disabet santri MAN 1 Pasuruan atas didikannya.
Kiprah Fauziah dalam mencetak santri berprestasi, dimulai saat ia menjadi guru di MAN 1 Pasuruan pada 2017. Sebelum menjadi guru di MAN 1 Pasuruan, ia sempat mengajar di SMPN 1 Bangil. Tak lama, hanya sekitar 3 tahunan.
Sejak menjadi tenaga pengajar di MAN 1 Pasuruan, ia memang bertekad mengangkat reputasi sekolah setempat. Karena prestasi yang berkaitan dengan pendidikan bahasa Jepang di sekolah setempat minim. Bahkan, nyaris tidak ada.
"Saya berusaha untuk memberikan yang terbaik. Santri yang ada di sini kami dorong untuk bisa juara," urai perempuan kelahiran 10 Juni 1989 tersebut.
Sejumlah kompetisi diikuti santri didikannya. Pada Januari 2019, anak didiknya atas nama Nur Ayni, menyabet juara pertama lomba Rodoku atau membaca cepat. Nur Ayni juara di tingkat Jatim dalam dua ajang kompetisi berbeda di Surabaya.
Selain itu, siswanya yang bernama Nur Lailiyul Mukkaromah, juga menyabet juara Shodo atau melukis kaligrafi Jepang pada tiga ajang berbeda. Mulai dari ajang Bunkasai XII di Surabaya, 5 Januari 2019; Japanese Word di Surabaya pada Juli 2019; serta Bunkasai XXII pada Januari 2020.
Hasilnya, selain meraih juara dua tingkat Jatim, santriwatinya tersebut juga meraih juara satu tingkat Jatim. "Selain Nur Lailiyul, ada Anisa Chandra Kartika yang juga meraih juara dua dan tiga dalam ajang serupa di tahun-tahun sebelumnya," imbuh dia.
Bukan hanya lomba kaligrafi Jepang ataupun Rodoku. Ia juga pernah mengantar siswanya menjuarai kompetisi nasional dalam ajang The Japan Festifal Udayana ke-9 di Bali pada Januari 2020. Lomba mading sastra Jepang itu, berhasil mengantar anak-anak didiknya meraih jawara.
Prestasi-prestasi siswanya itulah, yang membuatnya senang menjadi guru. Padahal, sebelumnya tidak terpikir olehnya untuk menjadi tenaga pendidik.
"Keinginan awal saya waktu itu bisa bekerja di perusahaan," aku lulusan Sastra Jepang Universitas Brawijaya Malang tersebut.
Ia mengaku memang sempat mendaftarkan diri ke beberapa perusahaan swasta di wilayah Bangil dan tempat lainnya. Bahkan, ia sempat mendapat panggilan. Namun batal diambilnya lantaran suaminya melarang.
"Saya menikah waktu masih kuliah. Dan saat semester akhir, saya mendaftar kerja di pabrik yang ada di Bangil. Memang dipanggil, tapi batal saya ambil, karena suami tidak menghendaki," bebernya.
Ia tak menyesal dengan keputusan yang diambilnya. Toh, ia sekarang bisa menularkan ilmunya kepada siswanya. Bahkan, tidak sedikit yang meraih prestasi. Meski hal itu tak mudah. Karena butuh ketelatenan dan kesabaran.
"Apalagi, ketika menghadapi pelajar yang putus asa karena gagal meraih juara. Sebisa mungkin kami memberikan dorongan agar mentalnya tidak down," tandasnya. (one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin