HA. Suyuti, Probolinggo
Pagi itu, Minggu (29/11), badan mulai sedikit greges. Saya anggap itu biasa. Karena sejak dulu, greges adalah sakit yang sering saya alami. Jadi, saya tetap beraktivitas. Tidak ke dokter atau minum obat. Apalagi, siang harinya saya sudah telanjur berjanji ikut lamaran salah satu keluarga.
Ke acara lamaran saya dan istri berangkat pukul 13.00. Karena masih pandemi, saya memakai masker dan membawa hand sanitizer. Tapi yang lain tidak. Kalau pun pakai masker, masker ditaruh di dagunya atau hanya menutupi mulut, hidungnya tidak.
Di tempat acara, tuan rumah juga banyak tidak bermasker. Selain itu, duduknya berdempetan di ruang tamu dan teras. Sebab, di luar hujan deras. Kursi yang disiapkan tidak terpakai, basah terkena hujan.
Acara selesai, kami langsung pulang. Greges tidak mereda. Saya masih khusnudzon. Ini demam biasa. Obatnya gampang: pijat, kerokan, dan minum obat penurun panas. Maka, saat itu saya langsung pijat dan kerokan. Kemudian, minum obat penurun panas. Demam mulai mereda. Malam itu saya bisa tidur. Meski tidak senyenyak hari-hari sebelumnya.
Pagi harinya, badan masih greges. Suhu badan naik, di atas 37 derajat. Badan mulai sakit semua. Apa karena bekas pijat atau akibat greges, saya tidak tahu. Akhirnya, saya minum obat penurun panas. Tapi kelihatannya tidak mempan. Pagi minum, siang panas lagi. Siang minum, malamnya panas lagi.
Keesokan harinya saya ke dokter. Kemudian diberi obat penurun panas dengan dosis lebih tinggi. “Kalau dua hari dari sekarang masih panas, sebaiknya Bapak rapid test saja,” pesan dr. NH Hidayati, yang sehari-hari menjabat Plt Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Probolinggo ini.
Ternyata benar, selama dua hari sejak periksa, panas tidak turun-turun. Bahkan, sampai 38 derajat. Saya pun mulai khawatir terserang virus korona. Untuk mengatisipasi hal tersebut, saya mulai isolasi mandiri. Saya tidur di kamar tersendiri.
Untuk mengetahui apakah dugaan saya benar atau tidak, saya mengikuti anjuran dr. Ida – panggilan dr. NH. Hidayati. Saya menghubungi Laboratorium Klinik Dharma Husada untuk rapid test antigen dan cek darah.
“Hasilnya reaktif, Pak. Untuk darah normal,” katanya lewat telepon. Saya tidak kaget, tapi entah kenapa saya keringatan luar biasa. Gobyos. Baju basah semua.
Saya lantas berkonsultasi dengan dr Rosid Achmad, Sp.PK., penanggung jawab Laboratorium Klinik Dharma Husada. “Apakah indra penciuman normal?” tanya dr Rosid. Saya jawab,”Masih normal”. “Biasanya, nanti akan hilang (indra penciuman/anosmia),” terang dr Rosid.
Ternyata benar. Keesokan harinya, sudah tidak bisa mencium aroma parfum. Termasuk minyak kayu putih.
Saya langsung konsultasi ke dr. Intan Sudarmadi, Sp.S., ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Probolinggo. “Ya..itu (hilang indra penciuman) salah satu gejala (virus korona). Saya konsultasikan ke dokter di rumah sakit (RSUD Dr. Moh. Saleh) dulu, Pak,” katanya.
Akhirnya, saya disarankan untuk ke IGD RSUD Dr. Moh. Saleh untuk diterapi. Pagi itu, Jumat (4/12) saya langsung ke IGD. Saya langsung diperiksa tensi hingga saturasi oksigen. Kemudian difoto torax. Untuk darah, tidak dicek karena sudah hasil dari lab.
“Untuk foto torax normal,” kata dr Adrian, dokter jaga di IGD RSUD Dr. Moh. Saleh. Saya kemudian diberi resep dan diminta istirahat di rumah.
Selama di rumah, panas tetap tidak stabil. Bahkan, muncul keluhan lain. Perut tidak enak. Mual. Tidak selera makan. Setelah itu, diare dan badan lemas.
Karena kondisi tidak ada perubahan, istri melapor ke surveilans Puskesmas Ketapang. Kemudian disarankan untuk swab PCR di Rusunawa Mayangan. Senin (7/12), saya ke Rusunawa Mayangan.
Setelah itu, langsung ke IGD untuk periksa kembali. Selain foto torax, saya juga dicek darah. “Semua normal. Saya beri obat saja. Tidak usah opname,” kata dr Arif, dokter jaga di IGD RSUD Dr. Moh. Saleh waktu itu.
Selama menunggu hasil swab PCR, saya isolasi mandiri di rumah. Tiap pagi berjemur dan melatih pernapasan. Terutama setelah salat Subuh, di saat udara masih segar. Obat dari rumah sakit, rutin saya minum. Termasuk beberapa obat herbal, seperti habbatussauda, probiotik, madu, lemon, dan propolis. Tidak lupa selalu mengukur suhu tubuh dan saturasi oksigen.
Hasilnya, saturasi oksigen normal. Antara 95-97. Tapi suhu badan tidak stabil. Paling rendah 37,8 derajat. Pernah sampai 39 derajat. Hal tersebut sangat menyiksa. Apalagi, saat malam hari. Tidur tidak nyenyak. Tiba-tiba bangun tengah malam dalam kondisi panas tinggi. Bahkan, sampai berhalusinasi.
Rabu (9/12) malam, istri mendapat informasi dari dr. Ida, kalau hasil swab PCR saya positif. Tapi baru keesokan harinya, Kamis (10/12), istri menyampaikan ke saya. Setelah salat Subuh.
“Abi tenang ya. Hasil swab-nya positif. Sekarang Abi harus ke rumah sakit. Kalau terjadi apa-apa, Umi tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau di rumah sakit ada dokter yang menangani. Pokoknya pagi ini harus ke rumah sakit,” tegas istri tanpa kompromi.
Di tengah gerimis pagi hari, saya diantar istri dan anak-anak ke pintu gerbang rumah. Tanpa jabat tangan dan pelukan. Kulihat lekat-lekat istri dan anak-anak, sebelum saya masuk ke ambulans. “Abi berangkat ya. Doakan Abi. Bismillah, Allah Akbar,” ucap saya pelan.
Sambil menenteng tas berisi baju dan kebutuhan lainnya, saya masuk ke ambulans. Dari dalam ambulans, saya melihat ke belakang. Kulihat lambaian tangan istri dan anak-anak mengiringi kepergian saya. (bersambung) Editor : Jawanto Arifin