Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Putuk Truno, Air Terjun Keabadian dari Kisah Pangeran Majapahit

Jawanto Arifin • Minggu, 22 November 2020 | 16:00 WIB
WILAYAH PERHUTANI: Wisatawan menikmati air terjun Putuk Truno di Kelurahan/Kecamatan Prigen. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
WILAYAH PERHUTANI: Wisatawan menikmati air terjun Putuk Truno di Kelurahan/Kecamatan Prigen. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
Kawasan wisata di Prigen tak melulu Tretes. Wilayah daratan tinggi ini memiliki banyak destinasi alam cukup bagus. Ada dua terjun di wilayah Prigen yang kerap dikunjungi. Selain Kakek Bodo, ada Putuk Truno. Air terjun Putuk Truno dikenal dengan sebutan lain air terjun keabadian.

------------------------

LOKASI air terjun Putuk Truno berada di Kelurahan/Kecamatan Prigen. Lahannya masuk di kawasan hutan lindung yang berada di bawah naungan Kantor Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Wisata ini dikelola Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Ecotourism Perhutani.

“Wilayah Perhutani di Prigen ada dua air terjun dimanfaatkan untuk wisata. Selain Kakek Bodo, juga ada Putuk Truno,” ujar Valdy Eka Putra, pengelola lapangan dari Perhutani.

Untuk menuju ke lokasi air terjun Putuk Truno, dapat ditempuh dengan naik motor, mobil hingga minibus. Dari ruas jalan jurusan Pandaan–Prigen, pengunjung perlu masuk ke timur sekitar 500 meter. Pengunjung juga tak perlu bingung saat di dalam karena di lokasi lahan parkir tersedia lumayan luas.

Lalu dari loket masuk ataupun tempat parkir, pengunjung hanya cukup berjalan kaki 400 meter, untuk menuju ke air terjun Putuk Truno. Jalannya pun sudah nyaman karena sudah dipaving dan diplester.

Aksesnya mudah dan terjangkau, jalannya landai dan tidak terlalu jauh. Di sekeliling banyak terdapat tanaman jenis mahoni, kemiri, randu dan sono keling. “Udaranya sejuk, karena berada di lereng Gunung Welirang, yang ketinggiannya sekitar 700 meter dari permukaan air laut,” tuturnya.

Photo
Photo
TERJANGKAU: Wisata air terjun Putuk Truno terbilang wisata murah karena tiket masuk hanya belasan sampai puluhan ribu untuk wisatawan asing. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Luas lahan yang ada, untuk wisata air terjun Putuk Truno sejatinya tidak terlalu luas. Karena totalnya hanya sekitar 0,6 hektare saja. Kemudian lebar jalannya dari loket dan tempat parkir menuju lokasi air terjun, hanya lebar dua meter saja.

Saat berjalan kaki, sekitar 100 meter sudah terdengar suara grojokan air terjunnya. Air terjun Putuk Truno memiliki ketinggian 45 meter. Airnya selalu mengalir deras dan stabil. Meski saat kemarau.

Meskipun masa pandemi seperti sekarang, tetap beroperasi normal. Tentunya pengunjung yang datang wajib mengikuti protokol kesehatan sebelum masuk ke lokasi wisata. Di antaranya cuci tangan, pakai masker dan dicek suhu tubuhnya. Lalu, juga jaga jarak.

Hari biasa, untuk pengunjung rata-rata 50-75 orang. Kemudian Sabtu sekitar 200-an orang. Lalu Minggu tembus hingga 400 orang. “Rata-rata datang dan berasal dari sekitaran Pasuruan, juga Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Tuban dan Madura. Akhir-akhir ini juga banyak datang dari Jateng,” katanya.

Sedangkan wisatawan mancanegara kebanyakan dari Korsel, India, Jepang, Vietnam. Juga Jerman, Prancis dan Inggris. Dengan tiket masuk yang terjangkau, wisatawan bisa puas menikmati alam.

Adapun tiket yang dijual saat weekday Rp 12.000 per orang, weekend Rp 18.000 per orang dan wisatawan mancanegara Rp 25.000 per orang.

“Pastinya pengunjung yang datang senang. Tidak hanya dapat melihat dan menikmati air terjun. Juga bisa spot selfi di depan air terjun, duduk santai di bawah pepohonan yang rindang dan sejuk. Serta bisa mampir ke cafe dengan beberapa sopt selfi dengan nuansa hutan,” terangnya.

Adanya pandemi seperti sekarang ini, tidak terlalu mempengaruhi pengunjung yang dating. Bahkan relatif stabil. Air terjun ini hanya sepi saat cuaca tidak mendukung, seperti ketika turun hujan.

Air terjun ini juga dinamakan air terjun keabadian. Konon beberapa cerita yang ada, air terjun ini dipercaya oleh orang yang berkunjung ke tempat ini akan mendapat berkah cinta yang abadi.

Dari cerita yang ada, Putuk Truno diambil dari kata Putuk, yang artinya dalam Bahasa Jawa gunung kecil. Sedangkan Truno sebuah nama dari Joko Truno. Nama terakhir yang disebut dikabarkan adalah seorang pangeran dari Majapahit, putra dari Hayam Wuruk.

“Joko Truno beserta kekasihnya Sri Gading Lestari putri Raja Arya Wirajaya dari sebuah kerajaan di Madura. Keduanya sama-sama semedi atau tapa brata hingga muksa. Di tempat inilah kisah asmara keduanya bersatu dan abadi, dengan dibuktikan adanya tetenger atau tanda berupa petilasan di atas air terjun,” bebernya. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin
#prigen pasuruan #air terjun #putuk truno