Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Praticia Kurniawati, Penyebar Nasi Bungkus Bahagia Gempol yang Prihatin dengan Video Prank Sembako Sampah

Jawanto Arifin • Rabu, 13 Mei 2020 | 14:35 WIB
Photo
Photo
Video prank Ferdian Paleka tentang bagi-bagi sembako berisi sampah, mengguncang hati banyak kalangan. Tak terkecuali Praticia Kurniawati, 28. Perempuan asal Dusun Ngasem, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol ini pun membuat video “balasan” dengan menyebar nasi bungkus bahagia. Tidak hanya berisi nasi, namun juga uang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

-----------------

Waktu menunjukkan pukul 02.00. Ngantuk yang menyerang, tak mengendurkan semangatnya menyusuri jalanan Kota Pasuruan. Lampu kota yang bersinar remang-remang, menjadi penunjuk arah dari sudut satu ke sudut jalan kota lainnya.

Perempuan 28 tahun tersebut, tidak sedang menggelar patrol sahur dini hari itu. Ia sengaja menyusuri jalanan, untuk “memburu” para pekerja malam. Petugas kebersihan, pemulung, hingga penjual jagung. Tas kresek berisi nasi bungkus, menjadi “amunisinya” untuk dibagi-bagikan pada mereka, para “pekerja malam” itu.

Nasi bungkus yang dibawanya, bukanlah nasi bungkus biasa. Tidak sekadar berisi nasi bungkus dan lauk pauk. Namun, juga berisi lembaran uang senilai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Photo
Photo
VIRAL: Cuplikan video Patricia Kurniawati saat menyiapkan Nasi Bungkus Bahagia Gempol. Di dalam nasi ini dia juga memberikan uang dari Rp 50O ribu hingga 1 juta. (Foto: Repro)

 

“Ada yang sampai gemetaran waktu menerimanya. Ada pula yang sampai kebingungan, bahagia. Kami senang sekali bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka,” ungkap Praticia Kurniawati menceritakan perjalanannya menyusuri jalanan Kota Pasuruan untuk membagi-bagikan nasi bungkus berisi uang.

Momen tersebut sengaja diabadikannya melalui video. Ia bekerja sama dengan rekannya, Abdi, mengabadikan momen indah saat berbagi dengan sesama. Video berdurasi 3 menit 29 detik itu, bukan dimaksudkan untuk pamer atau ria. Melainkan untuk menjadi inspirasi bagi yang lain.

“Kalau untuk pamer atau riyak, tidak. Yang jelas, niat kami agar menjadi inspirasi. Supaya, ada kepedulian dan perhatian untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan,” jelas ibu tiga anak ini.

Aktivitas berbagi nasi bungkus bahagia itu, dilakukan Praticia –sapaannya- Jumat dini hari (8/5). Sejak diungguh, video itu langsung viral. Banyak respons positif bermunculan atas perbuatan yang dilakukan istri Ferry Angga Asmoro tersebut.

Bagi-bagi nasi bungkus bahagia itu, bukan tanpa alasan. Awalnya, dia prihatin terhadap video prank sembako berisi sampah yang dibuat Ferdian Paleka. Ia mengaku kecewa atas video prank sampah itu. Sebab, menyakiti orang lain yang dilanda kesusahan. Apalagi dengan kondisi merebaknya Covid-19 seperti sekarang ini.

Photo
Photo
SENANG: Salah satu penerima Nasi Bungkus Bahagia dari Patricia Kurniawati. (Foto: Repro)

 

Di video prank Ferdian Paleka, mereka yang mendapatkan sembako itu tampak bahagia. Namun sayang, kebahagiaan itu berubah dalam sekejap. Mereka dibuat kecewa karena paket sembako yang dibagikan, hanya berupa batu bata dan sampah.

Aksi prank itulah yang menginspirasi Patricia. Ia tidak sekadar membagi-bagikan nasi bungkus, tetapi juga uang. Supaya, mereka yang mendapatkan, bisa merasakan kebahagiaan ganda.

“Saya melihat mereka yang mendapatkan nasi bungkus saja, sudah begitu senang. Apalagi, di dalamnya ada uangnya. Ada yang sampai kaget dan tidak percaya,” kisah dia.

Pengusaha tas asal Gempol ini mengaku, ada 20 bungkus nasi berisi uang yang dibagi-bagikannya. Setiap bungkusnya, berisi Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Puluhan nasi bungkus bahagia itu, ia sebar saat sahur.

Saat bagi-bagi itu, ia melihat kebahagiaan terpancar dari wajah penerima. Terlebih lagi, pedagang jagung yang sempat ditemuinya.

“Saya melihat, jagung godoknya masih banyak. Mungkin belum laku. Saat menerima nasi bungkus bahagia saya, ia sangat senang. Kebahagiaan itulah yang membuat saya juga merasa gembira,” tutur perempuan kelahiran Surabaya, 27 Juni 1991 tersebut.

Sebenarnya, kegiatan bagi-bagi bukan hanya sekali ini dilakukannya. Setiap momen Ramadan, ia memang tak lupa berbagi. Khususnya berbagi takjil selama 25 hari.

Hanya saja, hal itu tidak dilakukannya tahun ini. Karena ia khawatir, kegiatan tersebut dilarang petugas. “Padahal, saya sudah pesan botol kemasan dan roti. Tapi, saya batalkan karena pandemi,” akunya.

Pandemi Covid-19, diakuinya banyak berdampak pada dunia usaha. Tak terkecuali, usaha kerajinan tas yang dilakoninya. Omzet yang didapatkannya anjlok hingga 50 persen. Pesanan menurun lantaran daya beli juga berkurang.

Namun, hal itu bukan menjadi penghalang untuk tetap berbagi. Mengingat, banyak masyarakat yang lebih membutuhkan.

“Saya pernah mengalami jatuh bangun usaha. Nyaris bangkrut juga pernah saya rasakan. Itu yang juga memotivasi saya untuk bisa berbagi dengan sesama. Karena saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan,” sampainya.

Ia mengisahkan, bisnis kerajinan tas yang dibangunnya, tidaklah mudah. Sebelum memiliki omzet puluhan juta hingga ratusan juta per hari seperti sekarang, ia dulunya hanyalah seorang pedagang lapak di Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Bahkan, sebelum menjadi pedagang tas, ia juga mencoba berbagai usaha dagang. Namun, semuanya ditinggalkannya setelah serius menekuni usaha kerajinan tas.

Ia merintis usahanya itu sejak 2016. Bermodal uang Rp 2,1 juta, ia gunakan untuk kulakan tas di Gempol. Tas-tas itu kemudian ia jual ke wilayah Porong. Usaha yang dirintisnya tidak berjalan mulus.

Pernah ia mendapat sabotase. Tas-tas yang dijualnya, dilubangi dengan rokok oleh orang. “Saya rugi. Sempat kecewa. Tapi terus berusaha,” bebernya.

Ia juga sempat meminjam bank untuk menambah modal. Pelan tapi pasti, usahanya berkembang. Pinjaman dari orang tuanya yang pensiun dari berkerja di pabrik mi, digunakannya untuk modal tambahan.

Usahanya pun kian menjulang. Namun, tetap saja, ada hal yang tak diduga. Pernah, ratusan tas karton yang dibebernya di lapak, diterpa hujan. Tas-tas itu rusak. Kerugian senilai mobil Avanza harus ditanggungnya. “Saat itulah saya nyaris putus asa. Tapi, kemudian berusaha bangkit,” tambahnya.

Dukungan suami dan keluarganya, mampu membangkitkan semangatnya. Hingga lambat laun, usahanya terus berkembang. Tidak hanya memiliki toko di wilayah Gempol, ia juga memiliki gudang dekat rumahnya. Dua unit mobil, Alphard dan Pajero menjadi bukti kesuksesannya.

“Semua memang terdampak. Saya pun juga terdampak. Tetapi, bukan berarti tutup mata melihat orang yang lebih susah,” tandas Praticia.

Di sampaikannya, kegiatan berbagi lainnya tengah dikonsepnya. Termasuk bagi-bagi beras dan lainnya. “Kami ingin apa yang dilakukan, bisa bermanfaat. Selain itu, bisa menjadi inspirasi bagi yang lain, untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” paparnya mengakhiri wawancara. (one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#pengusaha dermawan #prank nasi isi sampah #prank ferdian paleka #nasi bungkus bahagia gempol