MASJID Jami’ Arroyan Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, berada di lokasi yang cukup strategis. Berada di pinggir jalur pantura, membuat musafir memilih beribadah di masjid ini. Termasuk ketika Ramadan. Ada saja musafi yang sengaja menunggu waktu berbuka puasa karena masji ini juga menyediakan takjil. Masid ini selalu terbuka bagi siapa saja.
Namun, “kebaikan” itu tahun ini tidak akan ditemukan. Karena takmir masjid sudah memutuskan melalui rapat internal pengurus untuk “menutup diri.” Banyak perbedaan pelayanan selama Ramadan 1441 Hijriah. Mulai salat tarawih sampai persiapan takjil.
Sekretaris Takmir Masjid Jami’ Arroyan Muhammad Wahyudi mengatakan, antisipasi dan pencegahan penyeberan virus korona tetap menjadi perhatian. Pelaksanaan ibadah pada Ramadan, juga tetap berjalan. Namun, untuk salat tarawih hanya dikhususkan masyarakat sekitar.
“Kami tetap laksanakan salat tarawih, tapi hanya untuk masyarakat sekitar. Karena letaknya di tepi Jalan Raya Tongas, kami tutup akses bagi musafir atau pengemudi yang melintas dan berhenti,” ujarnya.
Wahyudi menambahkan, penutupan akses bagi warga luar Desa Tongas, dilakukan dengan memasang spanduk besar yang menyebutkan ibadah di masjid hanya untuk warga sekitar. Termasuk, memasang pagar sementara dari kayu di tepi jalan raya. Supaya kendaraan tidak bisa parkir dan tidak berhenti di area masjid. “Termasuk salat Jumat, kami adakan salat Jumat di masjid. Tapi, tidak diperbolehkan bagi warga luar atau pengemudi yang melintas,” ujarnya.
Pelaksanaan tarawih tahun ini, kata Wahyudi, tidak diumumkan lewat pengeras suara masjid seperti tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, masyarakat sekitar yang hendak salat tarawih di masjid dipersilakan, jika tidak, juga tidak masalah. Namun, pihaknya melarang warga yang sakit untuk beribadah di masjid. Larangan ini demi menjaga warga lain yang sehat.
Biasanya, kata Wahyudi, setiap tahunnya warga selalu digilir untuk menyiapkan takjil bagi warga yang hendak salat Magrib dan musafir. Tetapi, tahun ini penggalangan takjil ini ditiadakan. Tidak ada lagi ngabuburit. Masjid ditutup sebelum Magrib demi mengantisipasi adanya musafir yang berhenti untuk menunggu Magrib dan salat.
“Warga sekitar yang hendak berjamaah salat Magrib dipersilakan datang saat azan. Selesai salat Magrib langsung pulang. Kalau sudah azan Isya, dipersilakan ke masjid lagi untuk salat tarawih. Tapi, hanya untuk warga sekitar,” ujarnya, menegaskan.
Selain itu, kata Wahyudi, pihaknya juga menerapkan protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah daerah. Bagi masyarakat sekitar masjid yang hendak salat di masjid, wajib cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Serta, diimbau mengenakan masker. “Kami hanya buka gerbang satu pintu. Nanti ada petugas yang menjaga di pintu itu. Supaya bisa mengontrol warga sekitar atau bukan,” ujarnya. (arif mashudi/rud/fun) Editor : Fandi Armanto