------------------
Suasana kantor Kejari Kota Probolinggo pagi itu sedikit lengang. Hanya ada beberapa orang yang terlihat di kantor yang berlokasi di sisi selatan Bundaran Gladak Serang Kota Probolinggo. Hanya terlihat beberapa penjaga yang stand by di gedung yang tinggi dan gagah tersebut.
Setelah membuat janji, Radar Bromo langsung menuju ke ruang Kepala Kejari (Kajari) Kota Probolinggo, yang berada di ruang lantai II. Saat memasuki ruangannya, seorang wanita berhijab warna cokelat tengah duduk di meja kerja. Dialah, Yeni Puspita yang kini memegang pucuk pimpinan di Kejari Kota Probolinggo.
Perempuan yang mengenakan kacamata itu, rupanya sangat terbuka dengan kedatangan Jawa Pos Radar Bromo. Dia pun langsung bercerita tentang karirnya di Korps Adhyaksa.
Mantan Kajari Pesisir Selatan Sumatera Barat, sangat welcome dengan awak media. Apalagi, saat menjabat Kasi Penuntutan Pidsus Kejati Bengkulu, awak media sudah menjadi teman sekaligus saudara. Karena sering bertemu dan berkumpul. ”Silakan duduk, Mas, santai saja. Saya dengan media welcome, Mas,” sapa Yeni sambil berjabat tangan.
Mengetahui tujuan kedatangan Jawa Pos Radar Bromo¸Yeni -sapaan akrabnya- menceritakan, dirinya asli Pagar Alam, Sumatera Selatan. Dia berkarir di kejaksaan sejak tahun 2000. Dinas pertama di Kejari Bengkulu. Hingga akhirnya, dirinya pun diberikan amanah tugas di Kejari Kota Probolinggo.
”Gak ada bayangan atau bermimpi sebelumnya tugas di sini (Probolinggo). Inginnya dekat keluarga (Bengkulu), tapi jaksa siap ditugaskan di mana saja. Jadi, siap dan nikmati tugas dan amanah ini,” cerita ibu tiga anak itu.
Sebelumnya, dikatakan Yeni, dirinya menjabat Kajari Pesisir Selatan, Sumatera Barat selama 3 tahun. Paling lama, dirinya jabat sebagai Kasi Penuntutan Pidsus di Kejati Bengkulu. Yaitu, selama 8 tahun mulai tahun 2004 sampai 2012.
Selama itu, dirinya bergelut dalam menangani perkara korupsi. Mulai dari perkara korupsi mantan bupati, gubernur Bengkulu, sampai 30 anggota dewan yang terjerat korupsi.
”Ada sekitar 35 perkara korupsi yang pernah saya tangani selama jadi kasi penuntutan Pidsus Kejati,” ungkap alumi Fakultas Hukum Universitas Prof dr Hazairin, Bengkulu untuk S-1 dan S-2 Universitas 17 Agustus Jakarta tersebut.
Bagi perempuan kelahiran 27 November 1971, menangani perkara korupsi memiliki nilai dan tantangan yang lebih. Dari itu juga, dirinya dengan awak media seperti teman dan saudara. ”Bagi saya, media itu mendukung dalam penegakan hukum. Informasikan dengan benar dan publikasikan kinerja juga,” tuturnya.
Ditanya prioritas kinerja di Kejari Kota Probolinggo terkait tindak pidana korupsi? Kajari mengatakan, untuk saat ini tetap kedepankan upaya prefentif. Dengan sosialisasi pencegahan ke pemerintahan dan instansi di luar serta bantuan hukum gratis. ”Kami membuka diri. Jika kalian bingung, silakan minta pertimbangan hukum. Seandainya prefentif sudah dilakukan, tapi masih saja melanggar, maka selanjutnya penindakan,” tegas Kajari yang hobi musik itu.
Kajari mengatakan, menjadi seorang perempuan yang berkarir itu harus superpower. Karena ada dua tanggung jawab yang diembannya. Dalam keluarga dan tugas. Namun, dirinya tetap berupaya profesional dalam melaksanakan tugas.
”Tugas jauh tidak menjadi halangan bagi saya. Karena sekarang teknologi sudah canggih. Waktu luang, manfaatkan teknologi untuk pantau dan komunikasi dengan keluarga (suami-anak),” terangnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin