-------------------
Pameran bertajuk Sarah Sirah Sumendi itu digelar dengan persiapan yang terbilang singkat. Sekitar sebulan yang lalu ketika Biennale Jatim 8 menggandeng komunitas Kuas Pati’s. Diskusi panjang antara beberapa seniman di komunitas itu lantas mengecurut pada tema yang akan diusung.
Yaitu tradisi ziarah yang telah melekat dengan kebiasaan masyarakat di bumi Nusantara. Karena itu pula, para seniman lukis dan instalasi di Pasuruan tersebut tak canggung ketika mereka hendak mengangkat sosok Mbah Semendi. Alasannya, tokoh tersebut notabene sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di Pasuruan.
Makamnya yang terletak di Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan juga tak pernah surut dari peziarah. Namun, para seniman itu menilai sosok Mbah Semendi selama ini banyak dikenal sekadar nama dan tempat pemakamannya saja. Sedangkan histori dan peranannya di masa lampau, nyaris tak diketahui khalayak.
Para seniman itu khawatir jika kondisi tersebut dibiarkan, nilai historis yang melekat pada sosok Mbah Semendi akan luntur. Tanpa pikir panjang, para seniman yang tergabung dalam Kuas Pati’s itu langsung inisiatif menggali informasi lebih banyak lagi. Melalui ziarah, dan riset dari berbagai sumber. Termasuk juga berbincang dengan anak cucu turun Mbah Semendi sendiri.
Gayung bersambut, anak cucu turun Mbah Semendi begitu antusias dengan keinginan para seniman itu. Bahkan, seorang anak cucu turun dari Sidoarjo sampai datang ke Pasuruan. “Kami juga sempat ditunjukkan salah satu kitab Mbah Semendi,” kata Kurator Pameran Sarah Sirah Mbah Semendi Figo Dimas Saputra.
Gufron, salah seorang seniman yang karyanya juga dipamerkan menuangkan secuil isi kitab itu. Melalui seni instalasi dengan nama Asma’, Gufron menggoreskan cat dalam hamparan mika. Ia menorehkan beberapa kalimat berbahasa Arab yang disebutnya merupakan wirid Mbah Semendi. Menyerupai kaligrafi. Pancaran cahaya yang menembus sela-sela kaligrafi itu membentuk bayangan dalam kain putih.
Pertemuan dengan anak cucu turun itu pula, yang menguak asal-muasal Mbah Semendi yang masih memiliki trah Kerajaan Mataram dan Kerajaan Cirebon. Sebelum meninggal pada abad ke 17, Mbah Semendi pula yang berperan menyebarluaskan Islam di bumi Pasuruan.
“Kami langsung berpikir, beliau agent of change yang luar biasa pada masanya. Makanya kami ingin mengapresiasi sosok Mbah Semendi melalui karya. Ibarat kata, karya inilah bentuk ziarahnya para seniman di sini,” sahut Ketua Gang Wolu Art Space Badrie.
Kisah lainnya berkaitan dengan karakter Mbah Semendi yang begitu rendah hati dituangkan dalam lukisan berjudul Pembalas Kebaikan Di atas Rata-rata. Dalam kanvas berukuran 100x70 sentimeter itu, Zaky Mas Habiburrofiq menceritakan kisah Mbah Semendi dengan tetangganya.
Lukisan itu memuat gambar gentong atau tempayan terbuat dari tanah liat yang biasa digunakan sebagai tempat menampung air. Ada tetangga Mbah Semendi yang usil, gentong itu diam-diam dimasuki kotoran, sehingga airnya menjadi berwarna dan berbau. Mendapati hal itu, Mbah Semendi menggantinya dengan air yang bersih.
“Padahal air itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Figo. Namun si tetangga tetap saja usil. Hal yang sama terus diulang. Hingga akhirnya Mbah Semendi mengutus cantriknya untuk menyelidiki siapa yang mengotori gentongnya. Namun dengan pesan kepada si cantrik, untuk tidak menegur sekalipun.
“Jadi tujuannya Mbah Semendi hanya ingin tahu siapa orangnya. Setelah tahu tetangganya sendiri, justru dibalas oleh Mbah Semendi dengan mengirimkan beras,” tutur Figo.
Namun hal itu tak juga menyadarkan si tetangga. Gentong yang berisi air bersih tetap saja kedapatan kotor oleh Mbah Semendi. Namun selalu dibalas pula dengan mengirimkan beras. “Lama-kelamaan luluh dan si tetangga minta maaf. Ia kemudian memeluk Islam,” pungkas Figo. (fun) Editor : Jawanto Arifin