Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketan Mangga di Thailand Harganya Rp 92.500, Kelapa Bakar Rp 25.000

Jawanto Arifin • Senin, 30 Desember 2019 | 09:02 WIB
Photo
Photo
Setiap wisatawan bisa dipastikan mencari kuliner khas. Peluang ini dimanfaatkan oleh pelaku wisata di Thailand. Beragam makanan dan minuman di-branding dan menjadi menu wajib hotel, restoran, dan tempat wisata.

-----------------

Tur yang saya ikuti kali ini merupakan “Halal Trip”. Karena itu, soal makanan dan minuman, bisa dipastikan semuanya halal. Saat makan siang di Hotel Zayn Bangkok misalnya, menu yang disajikan beragam. Mulai sayur, ayam goreng hingga nasi goreng. Cocok dengan lidah orang Indonesia. Ada juga yang khas Thailand, seperti sup Tom Yum.

Di antara sekian menu yang disajikan, ada yang menarik perhatian saya. Ketan berwarna pink dan hijau. Untuk penyajiannya, ketan dimakan dengan mangga, kelapa muda dan santan. Namanya: Mango with Coconut Sticky Rice. Biasanya untuk makanan penutup.

Photo
Photo


Hemmmm...Enak. Rasanya gurih dan manis. Ketannya punel sekali. Yang membuat menarik juga, warnanya. Kalau di Probolinggo, namanya ketan ya tidak ada warnanya,” kata Sugeng Nufindarko, pengurus Kadin bidang Kebijakan Publik dan Fiskal di sela-sela makan siang.

Demikian juga saat makan siang di restoran Hotel Nouvo City Bangkok. Lagi-lagi, ketan mangga ini juga disajikan. Termasuk saat tur, kami juga mendapat snack ketan mangga. Hanya saja tidak ada kelapa muda dan santannya.

“Di mana-mana ada ketan mangga. Kelihatannya menjadi menu wajib untuk wisatawan,” ujar Ridianto S. Putra, pengurus Kadin bidang Pariwisata dan IT saat perjalanan ke Pattaya.

Tidak hanya di restoran dan hotel. Ketan mangga ini juga ada di Bandara Suvarnabhumi. Beberapa resto menyediakan makanan ini. Ditata dengan rapi dan di-packing dalam kotak plastik. Untuk sekotak ketan dan 3 iris mangga, harganya 185 Bath (Rp. 92.500).

“Kalau di Probolinggo, bisa dapat lebih dari satu porsi,” tambah Ridi, panggilan pemilik resto D & C ini.

Dewan Pertimbangan Kadin Cipto Santosa sempat membeli ketan mangga di Bandara Suvarnabhumi. Menurutnya, packing yang bagus, dan rasa yang berbeda karena dipadu dengan mangga, menjadikan ketan naik kelas.

“Rasanya enak. Gurih dan manis. Tampilannya juga bersih,” tambah Cipto sambil menikmati ketan mangga bersama istrinya.

Thailand yang dikenal sebagai penghasil buah-buahan, juga menjual beraneka ragam buah. Mulai buah segar hingga jus. Saat kami mengunjungi Wat Arun, di sepanjang jalan menuju kapal penyeberangan, berjejer penjual buah segar. Penyajiannya juga rapi dan bersih.

Buah yang sudah diiris di-packing dalam gelas plastik besar. Agar segar, diletakkan dalam tumpukan es yang sudah dihancurkan. Harga satu gelas buah segar, 50 Bath (Rp. 25.000). Isinya macam-macam. Ada semangka, mangga, jambu, melon, dan nanas.

“Di Probolinggo, semua buah itu ada. Tinggal kemasan dan tampilannya disamakan. Selain itu, penyajiannya harus bersih,” tambah Ridi, yang ikut menikmati buah segar tersebut.

Buah lain yang bisa ditemui di banyak tempat adalah kelapa bakar. Tapi berbeda dengan yang dijual di Probolinggo. Kelapa bakar ini khas, karena bentuknya hanya sekepalan tangan orang dewasa. Diletakkan dalam boks es batu dan disajikan keadaan dingin. Untuk sebutir kelapa bakar yang sudah dikupas dan siap konsumsi, harganya 50 Bath (Rp. 25.000).

“Dagingnya tebal dan gurih. Tapi airnya dingin. Tidak terlalu besar. Pas untuk sekali minum,” tambah Sugeng, sambil memegang kelapa bakar yang masih mengeluarkan asap karena dingin.

Melihat peluang itu, Sugeng mengaku tertarik mengembangkan di Probolinggo. “Saya pikir, secara geografis Thailand dan Probolinggo, sama saja. Saya mau cari bibitnya untuk dicoba di Probolinggo,” katanya sambil menyeruput kelapa bakarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono, mengamini rencana tersebut. Menurutnya, bibit kelapa seperti itu sudah dikembangkan di Lampung. Sedangkan pusat penelitiannya di Sulawesi Utara.

“Kalau di Probolinggo, penyedianya ada di Tongas,” terang Nanang yang ikut melihat perkembangan pertanian di Thailand.

Namun, terang Pla, tour leader travel, kelapa yang dijual di Thailand, ada dua jenis. Ada pohon kelapa tinggi dan pendek. Untuk yang tinggi, biasanya diambil santannya. Sedangkan yang pendek, dikonsumsi langsung seperti di Wat Arun.

“Iya..yang di Lampung itu pohonnya pendek. Tidak tinggi seperti kelapa pada umumnya,” ungkap Nanang.

Pelaku wisata Thailand tidak hanya mengembangkan buah segar. Tapi, buah-buahan yang ada itu dikeringkan, sehingga bisa dijadikan oleh-oleh wisatawan. Kami sempat mampir ke pusat oleh-oleh buah kering (dried food) sebelum pulang menuju Bandara Suvarnabhumi.

Di tempat tersebut, ada macam-macam buah kering. Mulai durian, mangga, dan kelengkeng. Ada juga olahan ikan laut, seperti ikan, cumi, udang, dan teri.

“Packingnya bagus. Cocok untuk oleh-oleh,” tambah Sugeng, yang memborong olahan hasil laut itu.

Semua potensi di Thailand itu, juga dimiliki Kabupaten Probolinggo. Baik buah-buahannya, hasil laut, termasuk makanan olahannya. Tinggal sekarang, apakah tetap menjadi penonton dan penikmat, atau mengambil peluang untuk dijadikan produk unggulan daerah. (syt/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#liburan thailand #pariwisata thailand #ketan mangga