Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ini Kramat Lanceng, Makam Dua Pemuda Asal Madura yang Dibunuh Jepang

Jawanto Arifin • 2021-09-18 20:20:56
ZIARAH: Salah seorang datang ke makam Kramat Lanceng. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
ZIARAH: Salah seorang datang ke makam Kramat Lanceng. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
Ada sebuah makam di Dusun Bong, Desa Kalibuntu, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang dikeramatkan warga. Warga menyebutnya Kramat Lanceng. Makam itu diyakini adalah makam dua pemuda asal Madura yang dibunuh Jepang pada masa penjajahan.

-------------

MAKAM itu ada di pinggir muara aliran Sungai Kertosono di Dusun Bong, Desa Kalibuntu. Dua tahun lalu, makam itu direnovasi. Sehingga saat ini kondisinya jauh lebih bagus. Lantainya keramik, sejumlah bendera merah putih dipasang di pinggir pagarnya.

Sayumi, juru kunci makam tersebut menceritakan, di makam itu dikubur kepala dua pemuda asal Sumenep, Madura. Mereka dibunuh oleh Jepang saat tiba di Kalibuntu. Kemudian, jasadnya dibuang ke laut.

Serahnya (kepala dua orang itu, Red) hanyut ke Kalibuntu dan badannya berada di Sumenep,” ujar lelaki yang mengaku sudah berusia 139 tahun itu.

Jepang membunuh mereka karena keduanya dikira mata-mata pasukan Sabilillah. Sabilillah adalah pasukan atau laskar dari kalangan kiai dan santri pada masa kemerdekaan.

Photo
Photo
TIRAKAT: Makam Lanceng banyak didatangi peziarah untuk tirakat. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Saat itu, resolusi jihad melawan Jepang yang dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari ditindaklanjuti dengan gerakan nyata oleh kaum sarungan. Dan kini, resolusi jihad itu diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HRS) setiap tanggal 22 Oktober.

“Mereka itu datang ke jebeh (Jawa, red) tidak lain untuk mondok di sini. Namun, karena dikira mata-mata, kemudian dibunuh. Makamnya satu memang. Tapi di dalamnya ada dua serah,” ujarnya.

Warga setempat menyebut makam itu dengan nama Kramat Lanceng. Artinya kira-kira, pemuda perjaka yang sakti. Bagi warga setempat, kematian dua pemuda dari Madura itu menyisakan sisi kegaiban yang membawa berkah.



Sayumi sendiri berasal dari Pamekasan, Madura. Dia sampai di Kalibuntu pada tahun 1983. Saat itu, makam tersebut sudah ada.

“Tahun 1945 saya sudah berumur 62 dan tahun 1983 saat sampai di sini, makam itu sudah ada,” tuturnya.

Saat awal tiba di Jawa (Kalibuntu, Red), dirinya pernah melakukan tirakat di makam tersebut selama 41 hari. Diiringi puasa mutih, hanya berbuka segelas air dan sahurnya.

“Saya tirakati 41 hari untuk mengenal namanya. Dari situ datang isyarah, nama salah satunya Muhammad Syam. Beberapa waktu lalu, kembali dan mengatakan Langgeng namanya,” ujarnya.

Sementara Kramat Lanceng julukan warga yang diberikan pada makam tersebut. Sejak dulu banyak warga yang sering ziarah ke makam tersebut.

“Misal ada yang memiliki hajat dan berhasil, warga akan ziarah ke sini. Sehingga masyarakat banyak yang menyebutnya Kramat Lanceng,“ ujarnya.

 

Banyak Diziarahi untuk Tirakat

Kramat Lanceng yang berada di Dusun Bong, Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, dulu sering diziarahi sebagai tempat tirakat. Orang yang bertirakat di sana memiliki beragam tujuan. Namun, kebanyakan ingin hidupnya berkah.



Namun, sedikit yang berhasil lantaran cobaannya sangat berat. Namun, kini tidak ada lagi orang yang tirakat di sana. Entah karena takut atau faktor lain. Yang jelas, dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak ada.

“Sudah tidak ada yang tirakat di sini. Kalau yang bernazar datang ke sini, karena hajatnya terkabul masih ada. Kadang tasyakuran, berdoa, ada yang bawa uang juga, kemudian ditaruh di makam,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin
#desa kalibuntu #makam lanceng