Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang sangat bergantung pada elpiji melon untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Selain mahal, gas melon juga disebut-sebut sulit ditemukan di sejumlah wilayah.
Siti Aminah, 39, warga Kraksaan mengaku harus berkeliling untuk mendapatkan LPG. Bahkan, ketika tersedia, harganya jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).
“Sejak lebaran harganya Rp 25 ribu, itupun tidak selalu ada. Kadang harus cari ke beberapa warung dulu baru dapat. Sangat memberatkan,” ujarnya, Selasa (31/3).
Ia menuturkan, kondisi ini sudah terjadi sejak sebelum Lebaran dan hingga kini belum juga membaik. Akibatnya, pengeluaran rumah tangga meningkat, sementara kebutuhan lain juga ikut naik.
"Padahal Pemerintah Kabupaten Probolinggo katanya sudah menambah stok pasokan. Tapi kok masih langka dan mahal," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Nur Hayati, warga lainnya. Ia mengatakan, kelangkaan elpiji membuat warga harus antre sejak pagi di pangkalan maupun pengecer.
“Kalau telat sedikit saja, sudah habis. Terpaksa beli di pengecer dengan harga mahal. Padahal ini kebutuhan utama untuk masak,” keluhnya.
Sejumlah pengecer mengungkapkan, keterbatasan pasokan menjadi penyebab utama tingginya harga di lapangan. Distribusi dari agen dinilai belum stabil pascalebaran, sehingga stok cepat habis.
Sebelumnya, menyikapi hal ini, Pemkab Probolinggo telah menambahkan pasokan harga di Kabupaten Probolinggo sebanyak 100 ribu tabung kepada Pertamina. Langkah ini selain untuk hari raya, juga untuk antisipasi panic buying yang kerap dilakukan masyarakat.
Terkait masih langka dan tinggunya harga ini, Jawa Pos Radar Bromo berupaya mengkonfirmasi kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto. Namun sampai berita ini ditulis yang bersangkutan, belum merespons maupun menjawab panggilan seluler yang dilayangkan. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid