KRAKSAAN, Radar Bromo- Sinergitas lintas sektor dalam mengendalikan inflasi daerah menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dilakukan pemkab.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar pasar murah. Dinas Pertanian (Diperta) bekerja sama dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) menggelarnya di sejumlah pasar tradisional dan pusat aktivitas masyarakat.
Pasar murah ini dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dengan sasaran masyarakat berpenghasilan rendah, wilayah padat penduduk serta pusat-pusat kegiatan ekonomi.
Pasar murah dinilai menjadi instrumen strategis pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga pangan, menekan potensi lonjakan harga akibat meningkatnya permintaan, sekaligus membantu daya beli masyarakat.
Kepala Bidang Sarana Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian Faiq El Himmah mengatakan, menjelang nataru biasanya terjadi peningkatan kebutuhan bahan pangan yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasaran. Kehadiran pasar murah diharapkan mampu menjadi penyeimbang harga.
“Pasar murah ini merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah. Kami ingin memastikan harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat, khususnya menjelang nataru ketika permintaan cenderung meningkat,” ujarnya.
Menurut Faiq, selain menjaga keterjangkauan harga, pasar murah juga bertujuan mencegah terjadinya panic buying yang kerap muncul menjelang hari besar keagamaan dan pergantian tahun.
“Dengan pasokan yang cukup dan harga yang lebih murah dari harga pasar, kami berharap masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak melakukan pembelian berlebihan,” jelasnya.
Di Pasar Paiton, pasar murah menyediakan bawang merah sebanyak 27,5 kilogram dengan harga Rp 40.000 per kilogram (harga pasar Rp 50.000 per kilogram), terong 20 kilogram dengan harga Rp 4.000 per kilogram, telur ayam ras Rp 27.500 per kilogram serta gula pasir Rp 15.500 per kilogram.
Sementara di Pasar Maron dan Pasar Patalan, komoditas yang disediakan meliputi telur ayam ras Rp 27.500 per kilogram dan gula pasir Rp 15.500 per kilogram.
Di Pasar Bayeman, masyarakat dapat membeli berbagai komoditas dengan harga lebih murah, di antaranya telur ayam ras Rp 27.500 per kilogram, gula pasir Rp 15.500 per kilogram, cabai merah 5 kilogram dengan harga kemasan Rp 5.000 per 150 gram, cabai rawit hijau 2 kilogram dengan harga Rp 2.000 per 100 gram, bawang merah 5 kilogram dengan harga Rp 10.000 per 250 gram, tomat 20 kilogram dengan harga Rp 5.000 per 850 gram, terong 20 kilogram dengan harga Rp 5.000 per 900 gram serta jagung manis 50 biji dengan harga Rp 2.500 per dua biji.
Pasar Semampir menyediakan telur ayam ras Rp 27.500 per kilogram, gula pasir Rp 15.500 per kilogram, tomat 5 kilogram dengan harga Rp 3.500 per 500 gram serta cabai merah 5 kilogram dengan harga Rp 5.000 per 150 gram.
Selain itu, pasar murah juga digelar di Stadion Gelora Merdeka (partisipasi) dengan komoditas bawang merah 25 kilogram seharga Rp 40.000 per kilogram, cabai rawit 5 kilogram seharga Rp 10.000 per seperempat kilogram, tomat 10 kilogram seharga Rp 7.000 per kilogram, terong 30 kilogram seharga Rp 2.000 per setengah kilogram serta kacang panjang 5 kilogram dengan harga Rp 2.000 per ikat.
Faiq menegaskan, pasar murah ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi stabilitas ekonomi daerah, khususnya dalam menjaga harga pangan tetap terkendali.
“Kami berharap harga pangan lebih stabil, inflasi daerah bisa ditekan dan masyarakat terbantu memenuhi kebutuhan pokoknya menjelang Natal dan Tahun Baru,” tegasnya. Ia menambahkan, sinergi antara Diperta dan DKUPP akan terus diperkuat sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
“Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar kebijakan yang diambil benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid