KRAKSAAN, Radar Bromo – Pemkab Probolinggo akan melakukan intervensi terhadap sejumlah komoditi pasar yang masih memiliki harga tinggi. Salah satunya beras. Intervensi ini diperlukan supaya harga tetap stabil.
Hal ini diungkap Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto. Ia mengatakan inflasi Probolinggo tahun ini sebesar 3,24. Oleh sebabnya hal ini perlu adanya pengendalian inflasi untuk menstabilkan harga sejumlah komoditi.
“Seperti beras, dalam waktu dekat kami akan lakukan intervensi. Dengan membuat pasar murah, yang berkerjasama dengan Bulog,” ujarnya.
Sesuai data Siskaperbapo, harga beras untuk jenis medium di Kabupaten Probolinggo ada di Rp 12.000 terkilogramnya. Harga tersebut masuk pada urutan ke empat harga tertinggi Se Jawa timur .
Urutan pertama ada pada Kabupaten Pamekasan dengan Rp12.450, kemudian Kabupaten Trenggalek Rp 12.250, dan Kabupaten Madiun Rp12.000 Perkilogramnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo Taufiq Alami mengatakan, inflasi di Probolinggo tidak dapat menjadi acuan harga secara ril. Hal itu lantaran, penilaian inflasi Kabupaten Probolinggo mengikuti Kota Probolinggo yang menjadi salah satu wilayah indeks harga konsumen (IHK).
“Inflasi itu terjadi apabila harga tinggi berbarengan dengan stok yang tidak ada. Untuk di kabupaten Probolinggo sendiri aman. Seperti beras aman. Cabai aman,” bebernya.
Ia mengatakan seperti harga sejumlah komoditi yang sedang mengalami kenaikan cukup signifikan, hal itu sudah biasa terjadi. Namun begitu, harga tersebut tidak akan berlangsung lama.
“Stok kami aman. Perlu ada pengamatan khusus perihal inflasi di Kabupaten Probolinggo. Seperti harga cabai, di wilayah kota Probolinggo ada yang tembus Rp 100 ribu lebih, di pasar (Kabupaten Probolinggo, red) masih Rp 70-85 Ribu perkilogramnya. Ini saja kan sudah berbeda,” jelasnya. (mu/fun)
Editor : Ronald Fernando