Perkembangan inflasi pada Oktober 2022 di angka 0,16; November 0,37; dan Desember 0,66. Sementara, dilihat dari tren tahunan pada 2022 dalam tiga bulan terakhir, pada Oktober berada di angka 5,43; November 5,57; Desember 5,45.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kabupaten Probolinggo Jurianto mengatakan, ada sejumlah faktor pemicu meningkatnya inflasi. Salah satunya meningkatnya permintaan.
Serta, diiringi dengan pencairan sejumlah bantuan sosial. Salah satunya bantuan langsung tunai dari dana desa (BLT-DD). Hal ini dapat menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. “Ketika jumlah uang beredar bertambah, maka akan menyebabkan kenaikan inflasi,” ujarnya.
Longgarnya aturan terkait aktivitas masyarakat usai pandemi Covid-19, juga dapat menyumbang naiknya angka inflasi. Terutama di bidang pendidikan. “Karena meningkatnya permintaan akan kebutuhan atau perlengkapan sekolah, biaya transportasi, dan penggunaan BBM untuk menunjang mobilitas siswa dan guru,” ujarnya.
Selain itu, pada Desember 2022, permintaan telur, daging, dan kebutuhan pokok lain meningkat. Dampak dari adanya hari besar keagamaan Natal dan tahun baru.
“Cuaca buruk sepanjang Desember 2022 juga turut memengaruhi hasil pertanian yang menyebabkan gagal panen, sehingga beberapa harga komoditas pertanian mengalami kenaikan. Seperti beras dan cabai,” ujarnya.
Pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 juga mempengaruhi inflasi. Karena, banyak orang mulai belanja dan beraktivitas secara normal kembali. Diikuti dengan naiknya harga BBM, turut menyumbang inflasi lebih cepat dari pergerakan alamiahnya.
“Menurut kami, meski adanya penurunan harga BBM jenis Pertamax, sangat susah untuk menurunkan inflasi. Karena, adanya harga kaku atau price rigid. Price rigid ini dibentuk oleh ekspektasi produsen dalam menentukan harga,” katanya. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin