Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Permintaan Kebutuhan Pokok Ikut Picu Tingginya Inflasi di Probolinggo

Jawanto Arifin • Rabu, 11 Januari 2023 | 16:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
KRAKSAAN, Radar Bromo - Inflasi di Probolinggo dalam tiga bulan terus bergerak naik. Hal ini terjadi karena sejumlah faktor. Salah satunya karena tingginya permintaan kebutuhan pokok.

Perkembangan inflasi pada Oktober 2022 di angka 0,16; November 0,37; dan Desember 0,66. Sementara, dilihat dari tren tahunan pada 2022 dalam tiga bulan terakhir, pada Oktober berada di angka 5,43; November 5,57; Desember 5,45.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Kabupaten Probolinggo Jurianto mengatakan, ada sejumlah faktor pemicu meningkatnya inflasi. Salah satunya meningkatnya permintaan.

Serta, diiringi dengan pencairan sejumlah bantuan sosial. Salah satunya bantuan langsung tunai dari dana desa (BLT-DD). Hal ini dapat menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. “Ketika jumlah uang beredar bertambah, maka akan menyebabkan kenaikan inflasi,” ujarnya.

Longgarnya aturan terkait aktivitas masyarakat usai pandemi Covid-19, juga dapat menyumbang naiknya angka inflasi. Terutama di bidang pendidikan. “Karena meningkatnya permintaan akan kebutuhan atau perlengkapan sekolah, biaya transportasi, dan penggunaan BBM untuk menunjang mobilitas siswa dan guru,” ujarnya.

Selain itu, pada Desember 2022, permintaan telur, daging, dan kebutuhan pokok lain meningkat. Dampak dari adanya hari besar keagamaan Natal dan tahun baru.

“Cuaca buruk sepanjang Desember 2022 juga turut memengaruhi hasil pertanian yang menyebabkan gagal panen, sehingga beberapa harga komoditas pertanian mengalami kenaikan. Seperti beras dan cabai,” ujarnya.



Pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 juga mempengaruhi inflasi. Karena, banyak orang mulai belanja dan beraktivitas secara normal kembali. Diikuti dengan naiknya harga BBM, turut menyumbang inflasi lebih cepat dari pergerakan alamiahnya.

“Menurut kami, meski adanya penurunan harga BBM jenis Pertamax, sangat susah untuk menurunkan inflasi. Karena, adanya harga kaku atau price rigid. Price rigid ini dibentuk oleh ekspektasi produsen dalam menentukan harga,” katanya. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin
#kebutuhan pokok #inflasi