Kepala BPS Kota Probolinggo Heri Sulistyo mengatakan, dalam dua tahun terakhir, inflasi Desember selalu lebih tinggi dari November. Pada 2020, tercatat 0,47 persen dan pada 2021 mencapai 0,78 persen.
Angka ini lebih tinggi daripada inflasi November. Pada 2020 terjadi inflasi sebesar 0,41 persen dan pada 2021 inflasi 0,24 persen. Kemungkinan besar kondisi ini tidak berbeda akan terjadi tahun ini.
“Momen Nataru selalu memicu inflasi tinggi. Karena saat itu banyak perayaan, sehingga masyarakat cenderung membeli banyak komoditas pangan. Seperti daging, ayam, ataupun telur,” ungkapnya.
Meski begitu, pihaknya meyakini jika inflasi tahun ini tidak akan sebesar tahun lalu. Sebab, tahun 2021, momen Nataru terjadi bersamaan dengan naiknya harga minyak goreng. Mencapai dua kali lipat akibat terjadinya kelangkaan.
Menurutnya, inflasi Desember juga tidak akan melampaui inflasi April yang mencapai 1,08 persen. Karena, saat April ada momen Ramadan yang terjadi selama sebulan penuh. Berbeda dengan Nataru yang hanya berlangsung sekitar satu pekan.
“Inilah tugas dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Probolinggo, agar kenaikan harga komoditas pangan tetap terjaga, sehingga inflasi tidak terlalu tinggi,” pesan Heri. (riz/rud) Editor : Jawanto Arifin