Karena itu, banyak konsumen yang mengeluh. Salah satunya Habibah. Karena mahalnya harga cabai, ibu dua anak ini mengaku memilih mengurangi membuat sambal. Ia memilih menahan membuat sambal yang terlalu pedas. “Semoga cepet turun. Ini sehari nyambal satu kali. Pastinya kurang mantep,” ujarnya.
Ia mengaku setiap hari hanya membeli cabai Rp 3 ribu. Dengan duit itu, Habibah hanya mendapatkan 7 buah cabai. “Bisa dibilang satu buahnya Rp 500. Karena Rp 3 ribu dapat tujuh buah. Sampai kapan ya mau begini?" katanya.
Masih mahalnya harga cabai dibenarkan oleh salah seorang pedang di Pasar Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, Tasrufi. Katanya, harga cabai masih bertahan di atas Rp 100 ribu per kilogram. Cabai rawit Rp 110 ribu per kilogram. Sudah turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp 120 ribu. Sedangkan, cabai merah besar Rp 100 ribu per kilogram. “Masih tinggi. Mungkin karena masih belum stabil pengirimannya," katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasuruan Diano Vella Very mengatakan, penyebab mahalnya harga cabai karena pasokan yang masih minim. “Yang pasti pasokan masih tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat," katanya.
Ia mengaku terus berupaya menekan harga cabai. Salah satunya terus melaporkan perkembangan kepada Gubernur Jawa Timur.
“Untuk produksi lokal leading sector Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, yang mengimbau mengontrol ketika panen raya lombok tidak dijual semua. Tetapi, sebagian diproses ke lombok kering menghindari harga jatuh,” katanya. (sid/rud) Editor : Jawanto Arifin