Kholifah, pedagang di Pasar Kebonagung mengaku sudah menjual cabai kering selama beberapa pekan terakhir. Itu lantaran harga kulakan cabai kering yang lebih terjangkau. Meski demikian ia menyebut cabai kering tidak mengurangi rasa pedas.
”Pedasnya sama. Yang lebih terjangkau sekarang itu,” ujarnya.
Rata-rata pemburu cabai rawit kering ialah pedagang makanan. Terutama yang memang memerlukan cabai rawit sebagai salah satu pelengkap dagangannya. ”Mereka lebih memilih cabai kering, karena kalau cabai segar nggak nututi harganya,” ungkap Kholifah.
Betapa tidak, harga cabai rawit segar saat ini sudah benar-benar setara daging sapi. Perkilogramnya kisaran Rp 100 ribu hingga 120 ribu. Sedangkan harga cabai rawit kering hampir separo di bawahnya. Yakni sekitar Rp 76 ribu per kilogram.
Kendati demikian, tidak semua pedagang menjual cabai kering. Di Pasar Besar misalnya, belum satupun pedagang yang menjual cabai kering ke konsumen. Pasokan barang yang selama ini masuk ke pasar itu masih berupa cabai rawit segar. Namun harganya tetap saja mahal. Karena itu pedagang memilih mengurangi jumlah kulakannya.
”Nggak berani kulakan banyak-banyak. Dikurangi separo, biasanya satu kresek besar sekarang separo saja,” kata Musrifah, pedagang di Pasar Besar.
Ia khawatir bila kulakannya terlalu banyak justru merugi. Sebab dengan mahalnya harga cabai rawit sekarang banyak konsumen yang juga mengurangi pembeliannya. Sementara Musrifah menjual cabai rawit itu seharga Rp 30 ribu per seperempat kilogram.
”Kalau kulakan terlalu banyak terus nggak laku kan busuk,” bebernya. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin