Sosok Tan Kong Sing di Balik Sejarah Rumah Singa Pasuruan: dari Rumah Elite hingga Villa Kebon Agung

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 21:11 WIB
SAKSI BISU: Foto dokumentasi Tan Kong Sing semasa hidup yang hingga kini masih terbingkai rapi dan dipertahankan di dalam ruang utama Rumah Singa di Jalan Hasanuddin, Kota Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)
SAKSI BISU: Foto dokumentasi Tan Kong Sing semasa hidup yang hingga kini masih terbingkai rapi dan dipertahankan di dalam ruang utama Rumah Singa di Jalan Hasanuddin, Kota Pasuruan. (Budiman for Radar Bromo)

RUMAH Singa merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Pasuruan. Kisah rumah singa itu tak bisa dipisahkan dari sosok Tan Kong Sing. 

Tan Kong Sing merupakan sosok yang paling dikenal sebagai pemilik rumah Singa tersebut.

Kekayaan Tan Kong Sing tidak hanya terlihat dari Rumah Singa di kawasan Pecinan, Kota Pasuruan.

Saudagar sekaligus Letnan Tionghoa itu, juga memiliki villa mewah di Kebon Agung yang pada zamannya menjadi salah satu tempat peristirahatan paling bergengsi di Pasuruan.

Pemerhati Sejarah Pasuruan Ahmad Budiman Suharjono menjelaskan, Rumah Singa mengalami renovasi besar sekitar tahun 1860.

Kala itu, Tan Kong Sing mendatangkan marmer lantai, pagar besi, kaca Venesia hingga berbagai ornamen langsung dari Italia.

BERTAHAN: Bangunan Rumah Singa yang bertahan hingga sekarang. Bahkan, bangunan tersebut sudah menjadi cagar budaya. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
BERTAHAN: Bangunan Rumah Singa yang bertahan hingga sekarang. Bahkan, bangunan tersebut sudah menjadi cagar budaya. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

"Ini menunjukkan kemampuan ekonomi keluarga Tan yang luar biasa. Mereka bahkan mampu mengimpor material bangunan langsung dari Eropa," katanya.

Rumah Singa menjadi simbol perpaduan budaya Jawa, Tionghoa dan Eropa.

Bangunan memiliki kolom Ionik bergaya Yunani-Romawi, jendela tinggi, denah simetris khas Indische Empire, atap ekor burung walet khas Fujian Selatan, altar leluhur permanen, ukiran naga, hingga seperangkat gamelan pusaka.

Interiornya juga dipenuhi lukisan langit-langit bergaya Renaisans, kaca Jugendstil, kaca Venesia biru, furnitur Eropa kuno serta koleksi antik Dinasti Qing.

Menurut Budiman, nama Rumah Singa justru baru dikenal setelah tahun 1937.

Sebab, dua patung singa yang kini menjadi ikon rumah, sebenarnya berasal dari kediaman keluarga Kwee Sik Poo di Jalan Raya atau kini disebut Jalan Pantura dan bernama Jalan Soekarno-Hatta.

Ketika Kwee Khoen Ling mengalami kebangkrutan dan menjual rumahnya yang kini menjadi Hotel Daroessalam, keluarga tersebut pindah ke Rumah Singa serta membawa dua patung singa itu. "Sejak itulah masyarakat mengenalnya sebagai Rumah Singa," jelasnya.

Selain Rumah Singa, Tan Kong Sing juga mempunyai villa Kebon Agung. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1889, bahkan menyebut Kebon Agung sebagai tempat peristirahatan indah milik salah satu orang Tionghoa terkaya di Pasuruan.

Di dalam kompleks tersebut terdapat rumah besar, pendopo, kolam pemandian dengan air sumber alami sebening kristal, taman yang tertata rapi, serta fasilitas rekreasi yang terbuka untuk masyarakat.

Pengunjung hanya diminta mengambil kartu masuk agar tidak saling mengganggu.

"Tidak semua orang kaya zaman itu, mau membuka rumah peristirahatan untuk masyarakat. Tan Kong Sing justru terkenal sangat terbuka," ujar Budiman.

Villa itu juga pernah menjadi lokasi pesta selama tiga hari tiga malam pada Mei 1889. Tamu yang hadir bukan orang sembarangan, mulai Mayor der Chinezen Semarang, Luitenant titulair Tjoa Sien Hie hingga kalangan bangsawan.

Pada 8 Agustus 1902, surat kabar kembali memberitakan pesta besar Tan Kong Sing, dengan tiga korps musik sekaligus dan menyebutnya sebagai schatrijke luitenant atau letnan yang sangat kaya.

Editor : Muhammad Fahmi
rumah singa pecinan kota pasuruan tionghoa bangunan bersejarah