BERDIRI kokoh di koridor Jalan Hasanudin, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, sebuah kompleks bangunan kolonial yang kini dikenal sebagai Gedung Pancasila, menyimpan rekam jejak sejarah peradaban yang panjang.
Tepat berada di seberang Rumah Singa yang ikonik, bangunan yang kini riuh oleh aktivitas anak-anak sekolah tersebut, menyimpan perjalanan sejarah lebih dari satu abad.
Dulunya, bangunan ini merupakan rumah tinggal pribadi milik Han Hoo Tong.
Ia merupakan salah satu penguasa komoditas manis dalam takhta “Trio Raja Gula” Pasuruan pada akhir abad ke-19.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menceritakan, Han Hoo Tong yang lahir pada tahun 1860, merupakan putra bungsu dari pasangan Han Sam Khwee (1830–1877) dan Tan Tian Nio (1830–1902). Ia adalah cucu dari Han Swie Hien (1795–1860), pemilik pabrik gula Sari Redjo sekaligus manajer pabrik gula Kawis Redjo milik keluarga Kwee.



Keluarga Han berasal dari desa leluhur Tian Bao di Provinsi Fujian, China selatan, dan telah menetap di Nusantara sejak abad ke-18.
Han Hoo Tong memiliki dua orang saudara laki-laki yang juga sangat berpengaruh di Pasuruan.
Kakak sulungnya, Han Hoo Tjoan (1852–1899), menjabat sebagai Kapitein der Chinezen Pasuruan dari tahun 1881 hingga 1886.
Sementara kakak keduanya, Han Hoo Lam (1854–1904), juga terlibat aktif dalam gurita bisnis keluarga.
"Kakak beradik ini, dikenal dalam literatur sejarah sebagai Trio Raja Gula Pasuruan, yang menguasai industri gula pada akhir abad ke-19," tutur Budiman.
Kejayaan keluarga ini, tercermin pada salah satu putranya dari pernikahan kedua bersama Ong Ik Nio (1868–1933), yaitu Han Tiauw Tjhiang (1881–1939).
Di kemudian hari, ia dikenal sebagai Crazy Rich Pasuruan, pemilik kuda pacu berharga fantastis 12.000 gulden per ekor.
Dibangun sekitar tahun 1880, Menurut Budiman, rumah tinggal ini awalnya dinamai "Rumah Sangar" oleh keluarga internal Han, meski masyarakat tempo dulu lebih akrab menyebutnya "Rumah Hoo Tong". Istilah ini bertahan hingga pertengahan abad ke-20.
Bangunan megah bertipe Indische Empire, perpaduan unsur Eropa dan Tionghoa yang populer di Hindia Belanda pada abad ke-19 ini, berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, dengan luas bangunan fisik mencapai 1.258 meter persegi.
Arsitekturnya memadukan pilar-pilar atau kolom besar nan kokoh khas Eropa yang menopang bangunan dengan megah.
Disandingkan dengan ornamen-ornamen khas Tionghoa, yang detail pada bagian ujung atap.
Perpaduan gaya ini menjadi simbol penanda status sosial yang sangat tinggi di masa Hindia Belanda.
Menjadi Ruang Kelas Pertama THHK
Han Hoo Tong bukan sekadar konglomerat yang sibuk menumpuk harta, ia tercatat memiliki kepedulian yang sangat tinggi, terhadap dunia pendidikan sipil.
Pada masa kolonial, akses pendidikan bagi anak-anak keturunan Tionghoa, sangatlah terbatas.
Karena mereka tidak dapat bersekolah di lembaga Belanda, yang diperuntukkan bagi warga Eropa.
Situasi ini mendapat perhatian serius setelah kunjungan Kang You Wei, tokoh reformis kesohor asal Tiongkok, ke Pasuruan pada tahun 1903.
Kang You Wei menyerukan kepada para perantau Tionghoa, untuk mempelajari kebudayaan leluhur dan membangun sekolah modern bagi anak-anak mereka.
Merespons seruan itu, pada 3 Mei 1904, para tokoh masyarakat Tionghoa di Pasuruan, mendirikan sekolah modern bernama Tiong Hwa Hwee Koan (THHK).
Han Hoo Tong diangkat sebagai ketua pertama dan memegang jabatan tersebut selama 15 tahun berturut-turut.
Dari tahun 1904 hingga 1918 (periode ke-1 hingga ke-5). Dalam struktur kepengurusan, ia dibantu oleh Liem Bong Lien (wakil ketua), yang saat itu menjabat sebagai Luitenant der Chinezen (Letnan Tionghoa) di Pasuruan.
“THHK bertujuan menyediakan pendidikan gratis bagi anak keturunan Tionghoa lintas lapisan sosial ekonomi,” kata Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Karena lembaga baru tersebut belum memiliki gedung sendiri, Han Hoo Tong dengan sukarela meminjamkan rumah tinggal pribadinya inim secara gratis.
Tanpa memungut biaya sepeser pun, untuk diubah menjadi ruang kelas darurat.
Ketika jumlah murid melonjak hingga lebih dari seratus anak dalam setahun, ia kembali meminjamkan gedungnya yang lebih luas di Djalan Raya 26 (kini Jalan Soekarno-Hatta).
Baru pada tahun 1919, THHK memiliki sarana pendidikan permanen mandiri di lokasi yang kini menjadi SMA Negeri 1 Pasuruan.
Transformasi Menjadi Gedung Pancasila
Perjalanan waktu, membawa bangunan di Jalan Hasanudin ini, melalui berbagai pusaran sejarah dan alih fungsi.
Dari tahun 1880 hingga 1919, gedung ini berfungsi sebagai rumah tinggal keluarga Han.
Mulai tahun 1916, perkumpulan olahraga bernama Tjhing Nien Hwe (TNH), juga mulai menggunakan gedung ini sebagai pusat kegiatan olahraga warga Tionghoa Pasuruan.
Pascaperistiwa pergolakan politik G30S pada tahun 1965, kompleks bangunan ini sempat dialihkan fungsinya menjadi markas tentara akibat gejolak keamanan.
Sebelum kemudian, difungsikan menjadi gedung kesenian kota yang menjadi wadah seni budaya masyarakat Pasuruan.
Titik balik pengelolaan terjadi pada dekade 1970-an, dengan berdirinya Yayasan Pancasila yang mengambil alih pengelolaan gedung untuk dijadikan lembaga pendidikan formal. Sejak saat itulah, nama "Gedung Pancasila" melekat resmi hingga hari ini.
Penggunaan nama tersebut, merupakan bentuk adaptasi dan komitmen nyata komunitas Tionghoa peranakan di Pasuruan, untuk berasimilasi serta menyatu utuh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saat ini, kompleks gedung aktif menampung jenjang sekolah mulai dari TK, SD, hingga SMP Pancasila.
Pemerintah Kota Pasuruan memberikan perhatian penuh pada warisan sejarah bernilai tinggi ini.
Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kota Pasuruan, Agus Budi Raharjo menegaskan, nilai histori dan arsitektur kokoh bangunan ini, membuat institusinya menyematkan perlindungan hukum formal.
“Gedung Pancasila ini adalah cagar budaya. Sudah resmi ditetapkan bersama 16 situs cagar budaya lainnya, yang dilindungi di wilayah Kota Pasuruan,” beber Agus. (riz/one)
REKAM JEJAK DAN TRANSFORMAST GEDUNG PANCASILA PASURUAN
· Nama Awal: Rumah Sangar / Rumah Hoo Tong
· Nama Terkini: Gedung Pancasila Pasuruan
· Lokasi: Jl. Hasanudin, Kel. Karanganyar, Kec. Purworejo, Kota Pasuruan
· Tahun Berdiri: ± 1880
· Luas Lahan: 5.000 meter persegi
· Luas Bangunan: 1.258 meter persegi
· Gaya Arsitektur: Indische Empire (Akulturasi pilar kokoh Eropa dan ornamen atap Tionghoa)
· Status Hukum: Situs Cagar Budaya Resmi Kota Pasuruan (Dilindungi UU)
LINIMASA TRANSFORMASI ZAMAN
1880–1919 | Rumah Tinggal Keluarga Han
· Berfungsi sebagai istana pribadi Han Hoo Tong, salah satu konglomerat "Trio Raja Gula" Pasuruan.
1904–1918 | Jantung Pendidikan (THHK)
· Dipinjamkan gratis tanpa biaya sebagai ruang kelas darurat pertama sekolah Tiong Hwa Hwee Koan (THHK).
1916 | Pusat Olahraga (TNH)
· Digunakan oleh perkumpulan olahraga Tjhing Nien Hwe (TNH) untuk aktivitas fisik komunitas Tionghoa.
1965 | Markas Militer
· Dialihfungsikan sementara menjadi markas tentara pascaperistiwa pergolakan politik G30S demi keamanan.
Pasca-1965 | Gedung Kesenian
· Menjadi wadah ekspresi seni dan pusat berkumpulnya kebudayaan masyarakat Kota Pasuruan.
1970-an–Sekarang | Gedung Pancasila dan Sekolah
· Dikelola Yayasan Pancasila sebagai wujud asimilasi NKRI. Aktif menjadi ruang belajar siswa TK, SD, dan SMP Pancasila.
SILSILAH SINGKAT SANG RAJA GULA
· Letak: Kotak kecil di sudut bawah atau kanan sebagai pelengkap aspek humanis sejarah.
· Kakek: Han Swie Hien (Pemilik PG Sari Redjo)
· Orang Tua: Han Sam Khwee dan Tan Tian Nio
· Tokoh Utama: Han Hoo Tong (Lahir 1860)
· Jabatan Sosial: Ketua Pertama THHK Pasuruan (15 Tahun menjabat).
· Saudara (Trio Raja Gula): Han Hoo Tjoan (Kapitein der Chinezen) & Han Hoo Lam.
· Anak Kesohor: Han Tiauw Tjhiang (Dikenal sebagai Crazy Rich Pasuruan tempo dulu, pemilik kuda pacu seharga 12.000 gulden).
Editor : Jawanto Arifin