DERAP langkah prajurit berseragam loreng dan hilir mudik kendaraan amfibi taktis, kini menjadi pemandangan karib di Markas Kompi Bantuan Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 10/Jaladri Palaka, Jalan Balai Kota No. 14, Kota Pasuruan.
Namun, siapa sangka, benteng pertahanan kedaulatan NKRI ini menyimpan jejak sejarah panjang sebagai pusat urat nadi kapitalisme kolonial.
Di masa Hindia Belanda, kompleks militer ini merupakan galangan perahu modern dan gudang komoditas perkapalan milik raksasa keuangan Nederlandsch-Indische Handelsbank (NIHB).
NIHB merupakan bank perdagangan besar, yang berbasis di Amsterdam. Memasuki era 1920-an, bank ini melebarkan sayapnya secara masif ke Hindia Belanda.


Menurut catatan sejarah, eksistensi NIHB di Kota Pasuruan sangat diperhitungkan.
Laporan tahunan NIHB tahun 1927, menempatkan Pasuruan dalam daftar Overzeesche Agentschappen (agen luar negeri).
Statusnya resmi naik menjadi Agentschap (kantor cabang mandiri), sejajar dengan kota-kota besar dunia seperti Batavia, Bandung, Medan, Makassar, Bombay, Singapura, dan Surabaya.
"Pada 1 Mei 1927, NIHB resmi membuka kantor cabangnya di Pasuruan yang awalnya dipimpin oleh E.F.A. Rosberger, sebagai pengelola di bawah pengawasan agen Probolinggo. Namun, pada akhir 1927, cabang Pasuruan berhasil mandiri," jelas pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Suksesi kepemimpinan pun bergulir seiring perkembangan bisnis. Mulai dari E.F.A Rosberger (1927–1928), D.I. Kernkamp (1929), P.J. Dammers (1929–1931), C.J. Spier (1931–1934), hingga pimpinan terakhir V.E. van den Broeke (1934–1942).
Memasuki tahun 1928, NIHB mencapai puncak kejayaannya di Pasuruan, dengan meresmikan sebuah galangan perahu modern (prauwenwerf). Proyek ambisius ini dilengkapi spesifikasi teknis mutakhir di zamannya.
Sebuah kanal khusus digali hampir tegak lurus dengan Kali Gembong, lengkap dengan landasan luncur sepanjang 50 meter, yang mampu menampung empat perahu, sekaligus melalui sistem kombinasi kolam kering (dry dock).
Ekspansi NIHB kian menggeliat pada Januari 1930. Kantor operasionalnya dipindah ke gedung baru di Embong Semarangan, bekas gedung Gewestelijke Werken (Dinas PU Provinsi) yang dibeli tahun 1928.
Gedung kantor lama di Herenstraat kemudian dialihfungsikan menjadi gudang.
Guna menjaga estetika kota, arsitektur gudang tersebut dirancang menyerupai rumah tinggal dan perkantoran biasa, agar menyatu serasi dengan lingkungan sekitarnya.
Bertahan di Tengah Badai Great Depression
Awan hitam ekonomi global melanda dunia pada tahun 1930-an. Krisis ekonomi hebat (Great Depression), berimbas langsung pada jatuhnya industri gula yang menjadi komoditas andalan Pasuruan. Dampaknya, NIHB terpaksa mengambil keputusan krusial.
Koran Soerabaijasch Handelsblad edisi 15 Oktober 1934 mencatat, NIHB resmi menghapus fungsi keagenan banknya per 1 November 1934.
Status kantor Pasuruan diturunkan, dari agen bank penuh (yang melayani kredit, deposito, dan transfer), menjadi sekadar afscheepkantoor atau kantor perkapalan yang murni, mengurusi arus ekspor-impor barang.
Kendati fungsi perbankan dipangkas, aktivitas galangan perahu sepanjang 50 meter dipastikan tetap beroperasi.
"Investasi besar dengan teknologi kolam kering yang canggih saat itu, tentu diproyeksikan untuk jangka panjang, minimal 10 hingga 15 tahun. Penurunan status menjadi kantor perkapalan, justru membuktikan bahwa fungsi galangan sebagai penunjang ekspor-impor tetap dipertahankan," ulas pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Meski intensitas kegiatannya menurun pasca-1934, keberadaan fisik galangan ini masih tergambar jelas dalam peta militer tahun 1946.
Operasional total NIHB di Pasuruan, baru benar-benar lumpuh total pada Maret 1942, seiring masuknya invasi militer Jepang yang menyita seluruh aset perbankan barat.
Transformasi Menjadi Markas Militer
Pasca Perang Dunia II dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengambil langkah tegas, menasionalisasi seluruh aset eks-kolonial.
NIHB awalnya bersalin nama menjadi Nationale Handelsbank (NHB) pada 1950, sebelum akhirnya seluruh asetnya diambil alih penuh oleh pemerintah Indonesia, pada tahun 1959.
Seluruh aset bangunan tanah eks-NHB diserahkan kepada Bank Umum Negara, yang menjadi cikal bakal Bank Mandiri.
Melalui dinamika penataan aset daerah, eks kompleks pergudangan dan galangan perahu NHB di Jalan Balai Kota, dialihfungsikan menjadi Markas Kompi Bantuan Yonzipur 10 Kostrad.
Sementara itu, bekas kantor agen NIHB di Embong Semarangan (kini Jalan Hayam Wuruk), kini bertransformasi menjadi Kantor Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Timur.
"Ini adalah sebuah transformasi sejarah yang sangat besar. Dari yang dulunya merupakan simbol kapitalisme murni di masa kolonial, kini berdiri kokoh menjadi benteng pertahanan dan kedaulatan utama Negara Kesatuan Republik Indonesia," beber pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin