Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Stasiun Kereta Api Jati Probolinggo: Dua Jalur Kereta Api yang Pernah Berjaya di Masanya

Inneke Agustin • Minggu, 26 April 2026 | 06:15 WIB

 

PETA: Lokasi Station Djati milik Staatsspoorwegen (SS) dan Station Djati milik Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) pada masa kolonial. Inset kondisi eks stasiun Djati kini. (Istimewa-Inneke Agustin/ Radar Bromo)
PETA: Lokasi Station Djati milik Staatsspoorwegen (SS) dan Station Djati milik Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) pada masa kolonial. Inset kondisi eks stasiun Djati kini. (Istimewa-Inneke Agustin/ Radar Bromo)

 

Jejak sejarah perkeretaapian di Kota Probolinggo menyimpan kisah yang menarik dan jarang diketahui.

Selain Stasiun Probolinggo yang masih dikenal hingga kini, dahulu wilayah ini juga memiliki satu simpul penting lain, yakni Stasiun Jati.

Bahkan, di Kelurahan Jati terdapat dua stasiun berbeda, yaitu Station Djati milik Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) dan Station Djati milik Staatsspoorwegen (SS).

-----------------

Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono menjelaskan, perbedaan utama kedua stasiun tersebut, terletak pada perusahaan pengelolanya.

SS merupakan perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Sedangkan PbSM, adalah perusahaan trem uap swasta yang beroperasi di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

Sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia sendiri, bermula dari kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang dicetuskan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada 1830.

Saat itu, transportasi massal sangat dibutuhkan, untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman menuju pelabuhan.

Awalnya, pembangunan jalur kereta api digagas oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Namun, karena mengalami krisis keuangan, pemerintah kolonial kemudian mengambil alih dan mendirikan Staatsspoorwegen (SS) pada 6 April 1875.

Tak lama berselang, tepatnya pada 8 April 1875, SS meresmikan jalur kereta api negara pertama dengan rute Surabaya–Pasuruan–Malang. Peresmian tersebut dihadiri oleh Gubernur Jenderal J. W. van Lansberge.

Seiring waktu, SS berkembang pesat dengan mengakuisisi berbagai aset kereta api dan trem milik perusahaan kecil.

Hingga akhirnya, dikenal dengan nama Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch-Indie.

Pada akhir 1928, panjang jaringan rel kereta api dan trem di Indonesia mencapai 7.464 kilometer.

Dari jumlah tersebut, 4.089 kilometer merupakan milik pemerintah, sementara 3.375 kilometer dikelola swasta.

Di tengah perkembangan tersebut, investor swasta juga berlomba membangun jaringan transportasi rel.

Salah satunya adalah Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM), yang mulai beroperasi berdasarkan besluit pemerintah kolonial, tertanggal 15 Desember 1894 Nomor 6.

PbSM membuka jalur pertamanya pada 21 April 1897, yakni lintas Jati–Gending sepanjang 10 kilometer dan Gending–Jabung sepanjang 19 kilometer.

Selanjutnya, jalur Probolinggo–Jati sepanjang 1 kilometer dibuka pada 22 Juni 1897.

Ekspansi terus dilakukan, dengan pembangunan jalur Jabung–Paiton sepanjang 5 kilometer pada 22 Juni 1898.

Serta jalur Jati–Pelabuhan Probolinggo sepanjang 3 kilometer pada 22 September 1898.

Jalur terakhir yang dibangun adalah Kraksaan–Kalibuntu sepanjang 2,8 kilometer pada Mei 1900, yang dijadikan sebagai lintas cabang pendukung Pelabuhan Kalibuntu.

Menurut Edi, jalur Probolinggo–Paiton awalnya terhubung dari Pelabuhan Tanjung Tembaga dan sejajar dengan jalur SS di petak Probolinggo–Jati.

Di kawasan inilah depo lokomotif PbSM berada, tempat lokomotif-lokomotif uap milik PbSM dirawat. Lokasinya masih satu kompleks dengan Stasiun Jati.

Pada masa kejayaannya, jaringan trem uap PbSM menjadi tulang punggung distribusi komoditas, terutama gula dari sejumlah pabrik seperti PG Bagu, PG Paiton, PG Kandangjati, PG Pedjarakan, dan PG Sebaung.

Meski berfungsi utama sebagai angkutan barang, trem ini juga melayani penumpang. Hal itu dibuktikan dengan adanya gerbong khusus penumpang pada armadanya.

Secara keseluruhan, jalur trem PbSM membentang dari Sumber Kareng hingga Paiton dengan panjang sekitar 40 kilometer.

Armada yang dioperasikan antara lain lokomotif seri B16 dan C25. Pada masa kolonial, layanan juga dibedakan berdasarkan kelas sosial, antara penumpang pribumi dan kolonial—mirip dengan sistem kelas ekonomi dan eksekutif saat ini.

Memasuki masa Perang Dunia II, tepatnya tahun 1942, kekuasaan Hindia Belanda berakhir setelah menyerah kepada Jepang.

Seluruh sistem perkeretaapian kemudian diambil alih dan dikelola oleh dinas kereta api Jepang, Rikuyu Sokyoku.

Pada masa ini, operasional kereta lebih difokuskan untuk kepentingan militer, meski Jepang juga membangun jalur baru seperti Saketi–Bayah dan Muaro–Pekanbaru untuk mendukung distribusi logistik perang.

Setelah Indonesia merdeka, tonggak penting terjadi pada 28 September 1945. Para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih pengelolaan kereta api dari Jepang.

Mereka menegaskan bahwa perkeretaapian berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia, yang kemudian dikelola oleh Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).

Seiring perjalanan waktu, lembaga ini mengalami beberapa kali perubahan nama hingga akhirnya pada 2010 resmi menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang beroperasi hingga sekarang.

Edi menegaskan, perbedaan mendasar antara SS dan PbSM terletak pada jenis layanan dan fungsinya.

SS merupakan cikal bakal kereta api modern seperti yang masih digunakan saat ini. Sementara PbSM adalah layanan trem uap yang kini sudah tidak lagi beroperasi.

“Kalau SS itu seperti kereta api sekarang. Sementara PbSM ini trem yang dulu melayani jalur-jalur pendek, dari kota ke wilayah seperti Kraksaan. Fungsinya bisa angkut barang maupun penumpang, tapi rutenya berbeda,” bebernya.

Berdasarkan peta yang diterbitkan oleh Belanda pada 1914, stasiun ini memiliki jalur tunggal pada petak jalan menuju Stasiun Probolinggo milik SS.

Percabangan jalur menuju Paiton berada di selatan emplasemen, kemudian bergabung dengan jalur trem dari Stasiun Probolinggo PbSM.

Jalur trem dari Probolinggo PbSM menuju arah Paiton berjalan di pinggir jalan raya dan memotong jalur kereta api di selatan emplasemen Stasiun Jati.

Bengkel kereta api PbSM tidak dapat dijangkau dari emplasemen stasiun ini, tetapi melalui jalur trem dari arah Paiton.

Pada peta terbitan tahun 1940, berdasarkan pemetaan tahun 1928, petak jalan antara Jati dan Probolinggo SS berubah menjadi jalur tunggal ganda.

Jalur di sisi timur merupakan milik PbSM, sementara jalur di sisi barat merupakan milik SS.

Kedua jalur berakhir di emplasemen barang Stasiun.Probolinggo dan Pelabuhan Probolinggo.

Jalur baru milik PbSM tersebut ditujukan supaya angkutan barang tidak melewati tengah Kota Probolinggo, seiring dengan semakin ramainya aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Probolinggo.

Percabangan jalur penghubung antara jalur kereta api dan trem berada di sisi utara emplasemen, bukan selatan emplasemen seperti pada peta-peta topografi sebelumnya.

Dari percabangan, jalur berbelok ke timur menuju emplasemen depo kereta milik PbSM.

Jalur penghubung ini kemudian bergabung dengan emplasemen Stasiun Jati milik PbSM di jalan raya pos.

Berdasarkan foto-foto udara ini pula, tampak jalur trem milik PbSM dari Jati ke Probolinggo Pelabuhan telah dicabut pada 1947, menyisakan sebuah bekas wesel yang dipinggirkan dari jalur.

Stasiun Jati SS memiliki lima jalur, dengan jalur 1 sebagai sepur lurus. Terdapat dua sepur badug dan jalur 5 yang berakhir di badug sebagai sepur simpan. Stasiun Jati juga memiliki sebuah gudang dengan dua jalur di sisi barat.

Sementara itu, Stasiun Jati PbSM memiliki dua jalur dan terletak di selatan Stasiun Jati SS.

Percabangan menuju jalur penghubung ke arah depo kereta dan pelabuhan berada di sisi timur emplasemen.

Dari jalur trem di barat Halte Jati PbSM, terdapat pula percabangan sepur simpang menuju sebuah pabrik. (gus/one)

Editor : Muhammad Fahmi
#stasiun jati #stoomtram maatschappij #probolingga #kereta api