Pondok Pesantren (Ponpes) Metal Moeslim Al Hidayah di Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan merupakan pondok yang dikenal sebagai pusat rehabilitasi.
Tak hanya gangguan mental tetapi juga pecandu narkoba, serta pengasuhan anak yatim.
--------------
Ponpes tersebut didirikan oleh KH Abu Bakar Khalil pada tahun 1992 lalu.
Berdirinya ponpes setempat, berawal dari kegiatan majelis taklim pada 1989 silam.
Majelis tersebut fokus pada mengkaji dan menghafal Al Qur’an yang diasuh KH Muhammad Kholil dan Hj Ummi Kultsum orang tua KH Abu Bakar Khalil.
Jemaahnya merupakan warga sekitar yang merupakan golongan orang-orang yang bukan berbasis seorang santri.
Di bawah asuhan KH Abu Bakar Khalil, ponpes setempat, semakin berkembang.
“Dulu bangunan rumah di sebelah utara pondok. Kegiatan majelis taklim digelar di sana. Puncaknya, pada tahun 1995 santri semakin banyak. Waktu itu berjumlah 300 santri dari berbagai daerah,” ujar Pengasuh Ponpes Metal Rejoso, KH Nur Kholis.
Gus Kholis-sapaannya bercerita, setelah KH Muhammad Kholil wafat, istrinya Ummi Kultsum memerintahkan anak-anaknya untuk meneruskan majelis taklim yang dibina oleh ayahnya. Salah satunya, adalah Muhammad Said, anak kedua dari almarhum.
Dia diminta membina majelis taklim tersebut, dengan dibantu adiknya yang bernama KH Abu Bakar Khalil yaitu pendiri pondok pesantren Metal Moeslim Al Hidayah itu sendiri.
Kebetulan KH Abu Bakar Khalil waktu itu sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Hidayah tepatnya di daerah Lasem Rembang Jawa Tengah. Dimulai dari sinilah, asal usul nama Ponpes Metal Moeslim Al Hidayah.
KH Abu Bakar Kholil memutuskan pulang dari mondok, usai diminta orang tuanya.
Apalagi, ilmu yang dimilikinya sudah mumpuni. Gambaran kegiatan majelis taklim yang dibina KH Kholil, merupakan majelis ilmu dan dzikir.
Kebetulan, warga di wilayah Desa Rejoso Lor, minim akan pengetahuan ilmu agama.
Dari situlah, KH Abu Bakar Khalil termotivasi dalam penyebaran agama di desanya.
Ditambah, ia pandai bersosialisasi. Bahkan, dengan para pemuda desa, dia sangat akrab.
Dengan kegiatan majelis taklim itulah, perlahan ia mampu mengubah perilaku masyarakat setempat ke arah lebih baik.
Terutama kalangan pemuda. Tak sekedar salat bersama, tetapi juga mengaji bersama di musala Al Hidayah. Lambat laun, aktivitas layakanya seorang santri, melekat.
Jemaah yang mengikuti pengajian pun, kian bertambah. Tidak hanya warga sekitar, tetapi juga berasal dari luar Pasuruan.
“Ada pula yang sampai bermukim. Sejak itulah, beliau (KH Abu Bakar Kholil, red) memutuskan membangun pondok. Dulu bangunan dan halamannya hanya memiliki luas sekitar 1 hektar. Kini, mencapai 12 hektar,” sampainya.
Pendirian pondok direalisasikan tahun 1992. Nama Pondok Pesantren Metal Moeslim Al-Hidayah disematkan.
Nama tersebut diambil dari nama pondok pesantren yang pernah disinggahi olehnya di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Ponpes tersebut memiliki keistimewaan dibanding ponpes kebanyakan.
Karena menangani para penderita penyakit gangguan jiwa, pecandu narkoba, anak jalanan, wanita hamil pra nikah, serta anak yatim piatu.
Hal itu bukan tanpa alasan. Dalam benak KH Abu Bakar Kholil, banyak ponpes yang hanya mengkhususkan kepada orang waras atau sehat.
Sementara yang memiliki masalah sosial maupun masalah keilmuan, sangat minim.
Padahal, mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan ilmu maupun penanganan yang baik.
Penanganan yang diberikan oleh pengasuh, berbeda dengan tenaga medis. Di rumah sakit lebih pada obat-obatan.
Sedangkan di pondok pesantren menggunakan model spiritual, dengan upaya penyembuhan menggunakan model dhohiriyah dan rohiniyah.
Yakni dengan membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur’an. Serta dengan dzikir, do’a, salat dan kegiatan religius lainnya.
Semua itu dilakukan bertujuan untuk mengembalikan jiwa manusia yang bersih dan sehat seperti manusia yang baru dilahirkan.
“Dengan begitu, mereka sadar dan bisa menghadapi permasalahan, mengatasi permasalahan dikehidupannya. Jika mereka dekat pada Sang Khalik maka mereka akan merasakan ketenangan dalam hidupnya dan bisa tehindar dari penyakit yang mengganggu jiwanya,” jelasnya. (zen/one)
--------------
Berbeda dengan Ponpes Kebanyakan
Pondok Pesantren (Ponpes) Metal Moeslim Al Hidayah di Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, memang berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya.
Pondok ini, banyak menampung santri yang bermasalah. Dari orang gila, pecandu narkoba, sampai perempuan hamil pranikah.
Di depan gerbang pondok, ada patung beton berwarna merah dan berbentuk metal atau salam tiga jari bercat merah menyala. Di tengahnya bertulisan Metal Moeslim.
Metal sendiri bukan berarti metal seperti layaknya musik rock ataupun musik-musik cadas.
“Arti dari tiga jari yang dilambangkan metal memiliki arti tersendiri yang berarti Iman, Islam, dan Ihsan,” ujar Pengasuh Ponpes Metal Rejoso, KH Nur Kholis.
Kata Metal sendiri merupakan membaca tulisan Al-Qur’an. Setiap santri yang ingin menimba ilmu di Ponpes Metal Moeslim Al Hidayah, harus bisa membaca tulisan Al-Qur’an.
Mengingat, Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat Islam. Karena itu, setiap muslim harus bisa memahami Al-Qur’an.
Setelah bisa membaca Al-Quran dan memahami tajwid dan makhrojjul huruf, maka metal juga bisa diartikan menghafal Al-Qur’an. Sebab, almarhum KH Abu Bakar Khalil juga penghafal Al-Qur’an.
Jika sudah memahami dan hafal, maka metal juga bisa diartikan menghayati tulisan Al-Qur’an.
Karenanya, siapapun yang ingin menimba ilmu di Pondok Pesantren Metal Moeslim Al-hidayah minimal bisa membaca Al-Qur’an jadi yang dimaksud dengan Metal adalah membaca, menghafal, dan menghayati tulisan Al-Qur’an.
Makanya, tidak heran kalau hampir semua santri yang berada di pondok tersebut kebanyakan menghafal Al-Qur’an seperti saat ini.
“Jadi itulah sejarah pendirian pondok ini. Sampai saat ini tetap berjalan sesuai awal tujuan,” ucapnya.
Gus Kholis-sapaannya-menyatakan, perkembangannya bukan seperti santri di ponpes pada umumnya. Yakni perkembangan keilmuan. Melainkan lebih ke pendidikan pembacaan Al Quran dan rehabilitasi.
Walau demikian, ponpes menyediakan Sekolah Dasar, SMP, Madrasah Diniyah dan pendidikan lanjutan.
------------------
Tak Lagi Menampung Penyandang Gangguan Jiwa
Sejak diasuh Nyai Lutfiah, istri KH Abu Bakar Kholil, Pondok Pesantren Metal Moeslim Al Hidayah mengalami banyak perubahan.
Tidak lagi menampung mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi masih menampung kalangan anak-anak terlantar.
Selain itu, Bu Nyai juga memberikan pembelajaran agama sejak dini. Mendidik dengan cara amar ma’ruf nahi munkar dan memperbaiki akhlaq.
Yaitu mengajak dan menganjurkan hal-hal yang baik serta mencegah hal-hal buruk bagi anak santri.
Serta membenahi tingkah laku anak-anak santri agar memahami dan menerapkan ajaran agama yang telah dibina sejak dini.
“Pada tahun 2014, jumlah santri mulai menurun. Sekarang, jumlahnya sekitar 180 santri,” ujar Pengasuh Ponpes Metal, KH Nur Kholis.
Meski begitu, pola pembinaan di pondok setempat, tidak berubah. Kegiatan tetap dilaksanakan yang wajib diikuti oleh seluruh santri.
Gus Kholis-sapaannya-menguraikan, kegiatan dimulai pukul 03.00. Santri diajak mengikuti Salat Tahajud, dilanjutkan Salat Hajad serta Salat Subuh.
Pukul 05.00, membaca Al-Qur’an dan dzikir. Pukul 07.00 membersihkan seluruh kawasan pondok pesantren.
Kemudian, pukul 09.00, kembali membaca Al-Qur’an. Bagi santri bersekolah segera mempersiapkan diri. Pukul 11.00 persiapan Salat Dhuhur.
Pukul 14.00 dzikir dan bagi santri yang masih sekolah, bersiap-siap untuk sekolah. Pukul 15.00 Salat Ashar dan baca Al-Qur’an.
Pukul 17.00 persiapan membaca Al-qur’an, dzikir dilanjut kajian. Pukul 19.00 Salat Isya’ dan baca Al-Qur’an serta siraman rohani dari penceramah.
“Sampai sekarang, kegiatan pada pondok ini tidak berubah. Ada pengajian umumnya juga, ketika hari Minggu,” sampainya. (zen/one)
Editor : Moch Vikry Romadhoni