Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Sejarah Natal di Kota Probolinggo, Gereja Merah Menandai Awal Tempat Ibadah dan Perayaan Bersama

Inneke Agustin • Minggu, 21 Desember 2025 | 20:45 WIB
MASA KINI: Minggu Adven. Sekretaris Gereja Merah Kota Probolinggo, Mila Sarri Rossa saat berada di dalam Gereja Merah atau Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel.
MASA KINI: Minggu Adven. Sekretaris Gereja Merah Kota Probolinggo, Mila Sarri Rossa saat berada di dalam Gereja Merah atau Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel.

NATAL merupakan salah satu hari raya paling penting dalam agama Kristen yang diperingati oleh umat Kristiani di seluruh dunia setiap tanggal 25 Desember.

Perayaan ini menjadi momen untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat sekaligus meneguhkan nilai kasih, damai, dan pengharapan.

Mengutip portal Universitas Negeri Surabaya (Unesa), asal mula perayaan Natal berkaitan erat dengan perkembangan Gereja Kristen.

Pada abad keempat, Paus Julius I secara resmi menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Penetapan ini kemudian menjadi dasar perayaan Natal yang dikenal hingga saat ini.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa peringatan Natal pertama kali tercatat pada tahun 336 Masehi dalam kalender Romawi Kuno, tepat pada tanggal 25 Desember.

Seiring waktu, ajaran Kristen berkembang pesat. Pada akhir abad ke-4, agama Kristen ditetapkan sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi.

DULU: Tempat khutbah di dalam Gereja Merah tempo dulu dan sekarang.
DULU: Tempat khutbah di dalam Gereja Merah tempo dulu dan sekarang.
BERSEJARAH: Kitab injil kuno pada masa kolonial Belanda yang masih tersimpan rapi di dalam Gereja Merah.
BERSEJARAH: Kitab injil kuno pada masa kolonial Belanda yang masih tersimpan rapi di dalam Gereja Merah.

Bahkan pada sekitar tahun 1100, Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di kawasan Eropa.

Memasuki abad pertengahan, perayaan Natal mulai diperkaya dengan berbagai tradisi baru, baik dalam kehidupan gereja maupun masyarakat.

Namun, tradisi saling memberi hadiah pada Hari Natal baru berkembang pesat pada abad ke-19.

Tradisi ini tidak lepas dari hadirnya sosok Santa Claus atau Sinterklas, yang terinspirasi dari Santo Nikolas, seorang uskup dari Myra yang dikenal luas karena kedermawanan dan kepeduliannya kepada sesama.

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Santa Claus digambarkan mengantarkan hadiah kepada anak-anak di seluruh dunia pada malam Natal.

Ia konon menaiki kereta salju penuh hadiah yang ditarik oleh delapan ekor rusa kutub, terbang menembus langit malam untuk membawa sukacita.

Pada abad ke-19 pula, muncul dua kebiasaan baru dalam perayaan Natal, yakni menghias pohon Natal dan mengirim kartu ucapan kepada sanak saudara maupun teman.

Tradisi ini kemudian menyebar luas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal modern.

Dalam tradisi gerejawi, masa menjelang Natal dikenal sebagai masa Adven, yakni masa penantian akan kedatangan Mesias, Yesus Kristus.

Masa Adven berlangsung selama empat minggu dan memuncak pada malam sebelum Natal, yakni 24 Desember.

Pada masa ini, gereja-gereja biasanya dihiasi dengan lilin, lampu, dedaunan hijau, serta bunga poinsettia.

Salah satu simbol penting dalam masa Adven adalah lingkaran Adven. Lingkaran ini berbentuk rangkaian dedaunan hijau yang melambangkan kehidupan kekal serta kasih Tuhan yang tak berkesudahan.

Di dalamnya terdapat empat lilin yang dinyalakan secara bertahap pada empat Minggu Adven.

Tiga lilin berwarna ungu melambangkan pertobatan, kerendahan hati, dan penantian, sementara satu lilin berwarna merah muda dinyalakan pada Minggu Gaudete sebagai simbol sukacita atas kedatangan Kristus yang semakin dekat.

Jejak perayaan Natal di Kota Probolinggo juga tidak dapat dilepaskan dari berdirinya gereja tertua di kota ini, yakni Gereja Merah atau Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel yang berlokasi di Jalan Suroyo.

Sekretaris Gereja Merah Kota Probolinggo, Mila Sarri Rossa menjelaskan bahwa sebelum gereja tersebut berdiri, umat Kristen di Probolinggo harus pergi ke Pasuruan untuk beribadah. Kondisi ini mendorong pembangunan gereja pada masa kolonial Belanda.

“Dulu umat Kristen yang hendak beribadah harus ke Pasuruan, karena di sini belum ada gereja. Pada masa Residen pertama Keresidenan Probolinggo, Reinier Scherius, gereja ini kemudian dibangun tepat di depan rumah dinas residen,” tutur Mila.

Ia menambahkan, pada masa kolonial, Kota Probolinggo dikenal sebagai kawasan industri dengan banyak pabrik gula serta pabrik kopi.

Sebagian besar pimpinan pabrik tersebut adalah orang Belanda yang menganut agama Kristen.

Oleh karena itu, pada tahun 1862 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gereja, yang kemudian diresmikan dan mulai digunakan untuk ibadah pada tahun 1863.

Bahan-bahan bangunan gereja tersebut diketahui didatangkan langsung dari luar negeri melalui jalur laut.

Meski tidak diketahui secara pasti asal negaranya, terdapat dugaan kuat bahwa material tersebut berasal dari Jerman, mengingat pada sejumlah bagian besi tertulis keterangan “Made in German”.

“Bahan dan konstruksinya menggunakan sistem yang sama dengan pabrik gula. Karena dikirim lewat laut dan rawan korosi, akhirnya seluruh material itu dicat dengan warna merah,” jelas Mila.

Sejak tahun 1863, perayaan Natal pun dapat dirayakan secara bersama-sama di Gereja Merah.

Namun, terdapat perbedaan mencolok antara perayaan Natal pada masa lalu dan masa kini, khususnya dalam penggunaan pohon Natal.

Salah satu diaken Gereja Merah, Liskarsten, menuturkan bahwa pada masa lampau, pohon Natal yang digunakan adalah pohon asli, bukan pohon buatan seperti sekarang.

“Dulu di sekitar gereja ini masih banyak pohon cemara dan pinus. Saat itu juga belum ada listrik, jadi hiasannya menggunakan lilin yang digantung dengan plat,” terangnya.

Pohon Natal sendiri dipilih karena melambangkan keteguhan dan kehidupan. Pohon cemara dan pinus tetap hijau dan hidup meski berada di musim dingin atau bulan Desember.

Bentuknya yang menjulang ke atas juga menjadi simbol pengharapan dan pengakuan bahwa segala sesuatu bersumber dari Tuhan.

 

Keutuhan Arsitektur Gereja Merah

Gereja Merah atau Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Immanuel Kota Probolinggo menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah kota, termasuk masa penjajahan.

Pada periode pendudukan Jepang, fungsi gereja ini sempat berubah drastis. Dari yang semula menjadi tempat ibadah umat Kristen, bangunan bersejarah tersebut dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan senjata.

Seiring perubahan fungsi tersebut, tampilan gereja pun ikut mengalami penyesuaian.

Warna merah yang menjadi ciri khas bangunan ini sempat diganti menjadi putih pada masa kekuasaan Jepang.

Namun, setelah kekuasaan Jepang berakhir dan wilayah ini kembali berada di bawah pemerintahan Belanda, fungsi gereja dikembalikan seperti semula.

Warna dindingnya pun dicat kembali menjadi merah dan dipertahankan hingga kini, sehingga melekat kuat sebagai identitas “Gereja Merah”.

Meski telah berusia lebih dari satu abad, bentuk asli bangunan gereja ini relatif tidak banyak berubah.

Beberapa bagian memang mengalami penyesuaian, terutama untuk menjaga keutuhan bangunan dan kenyamanan jemaat, tanpa menghilangkan karakter arsitektur awalnya.

“Perubahan yang dilakukan hanya berupa penambahan, bukan mengubah bentuk aslinya. Tujuannya agar jemaat tidak kepanasan saat beribadah dan bangunan tetap kokoh,” ujar Sekretaris Gereja Merah Kota Probolinggo, Mila Sarri Rossa.

Di bagian dalam gereja, sejumlah penyesuaian tampak pada penambahan partisi kayu, pemasangan plafon dari papan kayu jati, serta penggantian lantai.

Jika sebelumnya menggunakan teraso, kini lantai gereja dilapisi marmer. Meski demikian, seluruh perubahan tersebut tetap mengikuti bentuk dan struktur bangunan asli.

Berbagai peninggalan bersejarah dari masa kolonial Belanda juga masih disimpan dengan baik hingga sekarang.

Salah satu yang paling ikonik adalah mimbar pendeta di ruang utama gereja. Menariknya, mimbar tersebut terbuat dari baja, sama seperti struktur utama bangunan gereja.

“Untuk menjaga kesakralannya, mimbar pendeta tidak boleh dinaiki sembarang orang. Hanya pendeta yang hendak khutbah yang diperbolehkan naik ke atas mimbar,” jelas Mila.

Di dalam gereja juga terdapat balkon yang pada awalnya difungsikan sebagai tempat paduan suara.

Namun, seiring usia bangunan yang semakin tua, fungsi balkon tersebut kini dialihkan menjadi tempat jemaat.

Penggunaannya pun dibatasi jumlahnya demi alasan keamanan. Sementara itu, paduan suara kini menempati area lantai utama di bagian depan, berhadapan langsung dengan jemaat lainnya.

Menjelang perayaan Natal, suasana Gereja Merah tampak semakin semarak. Pohon Natal berdiri anggun dengan hiasan pita-pita, sementara lilin Adven telah tertata rapi sebagai simbol penantian akan kelahiran Kristus.

“Biasanya rangkaian perayaan Natal dimulai pada malam tanggal 24 Desember, dilanjutkan pada tanggal 25 Desember. Selain itu, ibadah juga dilaksanakan pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari,” tukas Mila.

Hingga kini, Gereja Merah tidak hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga simbol sejarah, keteguhan iman, serta warisan budaya yang terus dijaga dan dirawat oleh jemaat dan masyarakat Kota Probolinggo. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#sejarah #Kota Probolinggo #Gereja Merah #natal