Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Pabrik Sarung Simping, Produsen Sarung di Probolinggo yang Melegenda

Inneke Agustin • Senin, 8 Desember 2025 | 03:53 WIB
DULU: Sejumlah pekerja Pabrik Simping tampak membuat sarung zaman dulu.
DULU: Sejumlah pekerja Pabrik Simping tampak membuat sarung zaman dulu.

SARUNG Simping merupakan salah satu produk tekstil legendaris asal Kota Probolinggo, tepatnya di Jalan Ikan Cucut 10, Kelurahan/Kecamatan Mayangan.

Merek ini memiliki sejarah panjang yang bermula dari tangan seorang pengusaha bernama Muhammad Haneman, warga Dusun Simping, Desa Turirejo, Kecamatan Lawang.

Cucu Muhammad Haneman, Yahya Abu Bakar Shahab menceritakan, nama Simping diambil dari nama dusun tempat kakeknya berasal.

“Karena didirikan pertama kali di Lawang, makanya nama mereknya mengikuti nama dusun tempat kakek saya tinggal dulu,” ujarnya.

Muhammad Haneman menikah dengan Fatimah Baraqbah, putri dari pemilik usaha sarung tenun Firma Kairo di Kota Probolinggo.

PRODUK: Dua merek produksi sarung dari Pabrik Simping.
PRODUK: Dua merek produksi sarung dari Pabrik Simping.
SEKARANG: Potret bangunan Pabrik Simping di Jalan Ikan Cucut 10, Kelurahan/Kecamatan Mayangan saat ini.
SEKARANG: Potret bangunan Pabrik Simping di Jalan Ikan Cucut 10, Kelurahan/Kecamatan Mayangan saat ini.

Sayangnya, Fatimah wafat ketika menunaikan ibadah haji pada 1978 dan dimakamkan di Makkah.

Haneman memiliki lima anak. Dua di antaranya meninggal dunia, menyisakan tiga anak: Farida Haneman, Mustofa Haneman, dan Fadlun Haneman. Farida yang menikah dengan Abu Bakar Shahab memiliki tiga anak—Hafifa, Yahya, dan Zakariya—sedangkan Mustofa dikaruniai empat anak. Fadlun memiliki satu anak.

Menurut Yahya, usaha Sarung Simping pertama kali berdiri di Lawang pada 1954 dengan metode tenun manual atau ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Saat itu, jumlah pekerja masih sekitar 20 orang.

“Motif sarung yang dibuat masih sederhana, seperti warna putih dengan gambar kembang,” tuturnya.

Perkembangan usahanya mulai pesat pada 1970, ketika Haneman mendapatkan pinjaman lunak dari pemerintah.

Setahun kemudian, ia mendirikan PT Industri Sandang Simping di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Sejak pabrik di Probolinggo beroperasi, pabrik lama di Lawang dijual.

Pabrik baru di Probolinggo, berdiri di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi. Area utara digunakan untuk mesin tenun dan produksi.

Sedangkan sisi selatan, menjadi rumah tinggal pimpinan perusahaan, serta gudang bahan baku di bagian paling selatan.

“Perusahaan ini bergerak di bidang produksi sarung dan kain blacu. Kain blacu biasanya dipakai untuk sprei, dan ada juga yang digunakan sebagai bahan baju karate,” jelas Yahya.

Dengan mesin elektrik, kapasitas produksi meningkat meski tidak lagi memungkinkan membuat motif bunga seperti sebelumnya. “Akhirnya kami beralih ke motif kotak-kotak dan garis-garis,” imbuhnya.

Pabrik Simping menjadi sumber penghidupan bagi ratusan warga sekitar. Seperti industri pada umumnya, sistem kerja diatur dalam tiga shift.

Hingga masa jayanya, PT Industri Sandang Simping memproduksi sejumlah merek sarung, di antaranya Simping, Dua Mangga, dan Al Mugoddam.

EKS PABRIK: Lokasi rumah pimpinan perusahaan di area Pabrik Simping di Jalan Ikan Cucut 10, Kelurahan/Kecamatan Mayangan.
EKS PABRIK: Lokasi rumah pimpinan perusahaan di area Pabrik Simping di Jalan Ikan Cucut 10, Kelurahan/Kecamatan Mayangan.
GUDANG: Lokasi gudang Pabrik Simping yang berada di dekat Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
GUDANG: Lokasi gudang Pabrik Simping yang berada di dekat Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

 

Tongkat Estafet Perusahaan

Tidak hanya memiliki satu lokasi produksi, usaha sarung tenun milik Muhammad Haneman ternyata berkembang hingga memiliki tiga titik operasional di Kota Probolinggo.

Dua lokasi tambahan berada di dekat Kantor Kelurahan Mayangan dan di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Sukabumi.

Cucu Muhammad Haneman, Yahya Abu Bakar Shahab menjelaskan, bangunan di dekat Kelurahan Mayangan, dulunya difungsikan sebagai gudang produksi.

Di lokasi tersebut, Haneman juga sempat mendirikan perusahaan tegel bernama PT Mutiara Indah pada era 1980-an.

Namun usaha tegel itu hanya bertahan sekitar satu dekade, sebelum akhirnya ditutup dan seluruh area difungsikan kembali untuk mendukung produksi Sarung Simping.

“Sementara lokasi di Sukabumi digunakan untuk proses akhir, yaitu penjahitan dan pengemasan sarung. Setelah distempel, sarung dimasukkan ke tas kemasan. Harganya pun cukup terjangkau saat itu—kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu, tergantung kualitas,” tambah Yahya.

Selain memperluas lokasi usaha, Haneman juga sempat membeli pabrik Es Arjuno.

Namun pada 1994, kondisi usaha secara keseluruhan mengalami kemunduran hingga mendekati kebangkrutan.

Untuk menyelamatkan perusahaan, Haneman menjalin kerja sama dengan seorang pengusaha asal Surabaya sebagai penyokong modal. Langkah ini terbukti efektif, karena Sarung Simping kembali bangkit.

“Bahkan setelah itu, produk Sarung Simping tidak hanya dipasarkan di Indonesia, tapi juga diekspor ke Arab Saudi. Pengusaha asal Surabaya itu punya jaringan bisnis di sana,” terang Yahya.

 

Sempat Terdampak Krisis Global

Dilansir dari Kompas Jatim Kamis 22 November 2001, Direktur Utama PT Simping Abdul Karim menjelaskan, pihaknya juga terkena dampak krisis.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pihaknya juga mengalami penurunan volume produksi.

“Tahun lalu, satu bulan sebelum hari raya Idul Fitri, kami sudah kewalahan melayani pembeli. Sekarang, persediaan barang masih banyak,” katanya.

Perang di Afganistan, ditambah dengan penyerangan Amerika Serikat ke Afganistan, jelasnya merupakan faktor utama yang menghambat usahanya.

Pasalnya, perusahaan sarung ini menjadikan Timur Tengah sebagai target ekspor.

“Saya ekspor sarung ke Afganistan terahir tahun 1998. Setelah terjadi perang, ekspor ke Afganistan terhenti total,” lanjut Karim.

Akibatnya, volume ekspor Pabrik Simping dari tahun ke tahun terus menurun. Tahun 1999 dari total produksi, 66 persen dipasarkan ke luar negeri.

Sedangkan tahun 2001, volume ekspor hanya 35 persen yaitu ke Arab Saudi.

 

Gulung Tikar usai Sempat Berjaya

Pada 1997, Muhammad Haneman meninggal dan dimakamkan di Surabaya.

Usaha kemudian diteruskan oleh anaknya, Mustofa Haneman yang kala itu tinggal di rumahnya di Jalan dr Mohamad Saleh Nomor 48—rumah yang kini menjadi kediaman Wali Kota Probolinggo, dr Aminuddin.

Namun, perjalanan perusahaan tidak berlangsung lama. “Pada 2003, perusahaan resmi tutup dengan jumlah pegawai terakhir sekitar 600 orang. Setelah itu, mesin-mesin juga kami jual,” kata Yahya.

Sekitar tahun 2012, bangunan eks Pabrik Simping dibeli oleh Syamsu Alam bersaudara, pengusaha kayu gaharu asal Sulawesi Selatan.

“Lokasinya sempat lama kosong. Setelah dibeli, sepertinya difungsikan sebagai gudang gaharu,” jelasnya.

Tahun 2014 menjadi masa duka bagi keluarga besar Haneman. Mustofa meninggal saat menjalankan ibadah haji di Makkah dan dimakamkan di sana.

Disusul saudaranya—Farida—48 hari kemudian. Delapan bulan setelah itu, Fadlun Haneman juga meninggal.

Yahya mengenang bahwa Kota Probolinggo pernah memiliki tiga perusahaan sarung besar yang cukup terkenal, yaitu Simping, Firma Kairo, dan Kasbah.

Pabrik Sarung Kasbah berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, di tempat yang kini menjadi gedung Superindo.

“Pemiliknya dulu Said Bahanan. Selain usaha sarung, ia juga punya perusahaan tegel. Gudang tegelnya berada di Jalan Panglima Sudirman, lokasi yang sekarang digunakan Auto2000. Namun dari semuanya, yang paling bertahan lama memang Sarung Simping,” tukas Yahya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#sarung #pabrik #Kota Probolinggo #tekstil