Kota Probolinggo memiliki banyak sumber air. Salah satunya adalah Sumber Umbul yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Curahgrinting. Keberadaan sumber ini, memiliki sejarah yang panjang.
-----------------------
Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono menyebut bahwa sumber air ini, memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan Pabrik Gula (PG) Oemboel, yang berdiri tidak jauh dari lokasi sumber.
PG Oemboel didirikan pada 1834 oleh pengusaha Inggris, Charles Etty, bersamaan dengan PG Wonolangan. Dua pabrik gula tersebut kemudian dikenal sebagai Zuster Suiker Fabriek atau “pabrik gula bersaudara”.
Setelah Charles Etty wafat pada 1856, pengelolaan kedua pabrik diteruskan oleh putranya, Matthew Etty, yang menetap di wilayah Oemboel.
Secara geografis, PG Oemboel berada di jalur utama Jalan Raya Pos, atau yang kini menjadi area Pabrik Eratex Djaja.
Proses produksi gula—mulai dari pencucian tebu, ekstraksi nira, hingga pengolahan menjadi gula kristal—membutuhkan sumber air dalam jumlah besar.
Di sinilah Sumber Umbul memegang peran penting sebagai penyuplai air bagi pabrik.
Pada 1890, PG Oemboel mengalami perubahan kepemilikan. Pabrik tersebut diakuisisi oleh pria asal Skotlandia, Alexander MacNeill.
Tujuh tahun kemudian, pada 1897, ia menikahi Johanna Bezoet de Bie, seorang perempuan kreol Belanda yang lahir dan dibesarkan di Jawa, diperkirakan di Surabaya.
Johanna berasal dari keluarga kaya keturunan pedagang besar Rotterdam.
Ayahnya, Hermann Bezoet de Bie, merupakan pengusaha mapan yang memiliki jaringan kuat di bidang perdagangan dan pelayaran Belanda.
Di bawah pengelolaan MacNeill dan Johanna, PG Oemboel memasuki masa modernisasi.
Alexander menjabat sebagai administrateur atau general manager. Ia mengadopsi teknologi industri gula terbaru dari Jerman, merekrut tenaga ahli dari Eropa, dan meningkatkan kualitas serta efisiensi produksi. Berkat langkah–langkah terbaru ini, PG Oemboel berkembang menjadi salah satu pabrik gula yang termashur di wilayah Probolinggo pada awal abad ke-20.
Kedekatan antara pabrik dan Sumber Umbul tidak hanya dalam konteks industri, tetapi juga sosial.
Sumber Umbul pada masa itu dikenal sebagai tempat pemandian favorit noni-noni Belanda, terutama keluarga para pejabat dan pegawai PG Oemboel.
Jejak sejarah ini salah satunya ditemukan dalam sebuah foto yang diunggah di journals.openedition.
Dalam foto tersebut tampak Eugenia Jackson, seorang pengasuh asal Inggris sedang menemani anak dari pasangan MacNeill dan Johanna Bezoet de Bie.
Foto itu diperkirakan diambil pada 1904, saat Eugenia berusia sekitar 37 tahun.
Kemunculan foto ini menguatkan dugaan bahwa Sumber Umbul telah menjadi ruang rekreasi eksklusif bagi keluarga Eropa yang tinggal dan bekerja di sekitar pabrik.
Johanna Bezoet de Bie sendiri dikenal sebagai seorang menir perempuan kaya yang cukup berpengaruh di Probolinggo pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Bersama suaminya, Alexander MacNeill, ia menjadi bagian dari lingkaran elite yang mengelola sektor gula—komoditas yang menjadi nadi penting ekonomi kolonial di wilayah ini.
“Dia memiliki perusahaan pabrik gula di Hindia Belanda bersama suaminya yang sukses, Alexander MacNeill,” kata Edi. (gus/one)
---------------
Pernah Digunakan Sebagai Sumber Utama AMDK
Pada awal 2003, Sumber Umbul kembali dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Probolinggo sebagai sumber air baku untuk produksi air minum dalam kemasan.
Upaya ini diwujudkan melalui pendirian PT Utama Tirta Bestari (UTB), sebuah pabrik AMDK yang berdiri di atas lahan seluas 4.350 meter persegi.
Seluruh saham perusahaan ini pada akhirnya dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Probolinggo.
Secara historis, PT UTB awalnya merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Probolinggo dan PT Air Cerdas Ganesa Bandung.
Pada fase awal pendirian, komposisi saham dibagi menjadi 2.625.000 lembar milik Pemkot Probolinggo dan 510.123 lembar milik PT Air Cerdas Ganesa.
Pada periode ini, produk air minum yang dihasilkan masih menggunakan label “Ganesa”, mengikuti identitas perusahaan rekanan tersebut.
Produk PT UTB meliputi dua jenis. Yaitu air galon 19 liter dan air cup 240 ml (isi 48).
Kinerja penjualannya dari tahun 2005 hingga 2009 menunjukkan tren yang tidak stabil dan cenderung menurun.
Data penjualan (2005–2009) menggambarkan bahwa pada 2005 terjual 17.019 cup dan 57.848 galon; 2006 terjual 12.791 cup dan 23.433 galon; 2007 terjual 11.027 cup dan 18.210 galon; 2008 terjual 12.662 cup dan 13.915 galon; dan 2009 terjual 9.467 cup dan 12.558 galon
Menurut Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono, meskipun tercatat bahwa produksi masih berlangsung hingga 2009, terdapat catatan lain yang menyebut bahwa pabrik sebenarnya sudah mulai stagnan sejak 2006.
Mesin-mesin produksi mulai rusak, dan kegiatan operasional menurun tajam.
Memasuki 2010–2011, kondisi perusahaan semakin melemah hingga aktivitas produksi berhenti sepenuhnya.
Pada November 2011, seorang investor baru datang dengan niat menghidupkan kembali pabrik tersebut.
Pemerintah Kota Probolinggo bahkan menggelar rapat untuk membahas rencana revitalisasi PT UTB.
Namun, pabrik yang telah mati cukup lama membutuhkan banyak pembenahan.
Semua perizinan harus diurus ulang, termasuk perizinan sumber air baru, karena sumber lama telah terkontaminasi.
Selain itu, sebagian besar peralatan produksi harus diganti karena tidak layak pakai.
Setelah proses pembenahan dan perizinan rampung, produksi air minum akhirnya kembali dijalankan.
Pada fase kebangkitan ini, manajemen memutuskan untuk mengganti identitas produk.
Jika sebelumnya dikenal dengan merek Ganesa, produk baru diluncurkan dengan nama “Manalagi”—merek air minum kemasan asli Kota Probolinggo.
Sayangnya, meski telah dibangkitkan kembali, PT UTB tetap mengalami kerugian berkelanjutan.
Upaya revitalisasi tidak mampu menahan laju penurunan kinerja usaha.
Pada akhirnya, sekitar 2013–2014, Pemerintah Kota Probolinggo secara resmi menyatakan bahwa pabrik air minum tersebut ditutup.
“Sayang, kondisinya terus mengalami kerugian. Akhirnya pada 2013–2014 oleh pemkot dinyatakan ditutup,” jelas Edi. (gus/one)
--------------------
Memiliki Potensi Destinasi Wisata
Kondisi Sumber Umbul saat ini, banyak ditumbuhi tanaman liar dan bagian bawahnya mengalami pendangkalan.
Tahun ini, ada WNA Tom yang hendak mengetahui kisah mengenai buyutnya yaitu Johanna Bezoet de Bie.
“Ia menanyakan di mana buyutnya tersebut dulu tinggal, di mana pabrikanya. Akhirnya saya tunjukkan seluruhnya. Termasuk kisah mengenai buyutnya tersebut,” ungkap Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi, Edi Martono.
Terpisah, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Probolinggo, Muhamad Abas, mengatakan di Kota Probolinggo ada 14 sumber mata air termasuk Sumber Umbul.
“Kini kami masih melakukan pengembangan potensi destinasi wisata. Saat ini sudah ada beberapa yang berhasil kami kembangkan seperti Sentong dan Mutiara. Sisanya masih akan kami kaji,” tuturnya.
Abas mengatakan, bahwa dari kajian tersebut nantinya dapat diketahui wisata apa yang cocok dikembangkan di titik sumber mata air tersebut.
“Termasuk nanti kami juga akan melihat area sekitar ada potensi apa. Tentunya semua akan kami lakukan dengan berkolaborasi antara OPD terkait,” paparnya. (gus/one)
Editor : Fahreza Nuraga