Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Sepak Bola di Kota Probolinggo, dari Sekadar Hiburan hingga Menjadi Kompetisi Adu Gengsi

Inneke Agustin • Minggu, 9 November 2025 | 18:45 WIB
LAWAS: Foto anggota klub Voetbaleftal te Probolinggo di Lapangan Karya Bakti.
LAWAS: Foto anggota klub Voetbaleftal te Probolinggo di Lapangan Karya Bakti.

SEPAK bola menjadi salah satu olahraga paling populer di dunia. Permainan ini digemari oleh berbagai kalangan, baik laki-laki maupun perempuan.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tak heran bila setiap pertandingan sepak bola, selalu ramai disaksikan. Baik secara langsung di stadion maupun melalui layar kaca.

Secara umum, sepak bola dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 pemain.

Tujuan utamanya adalah mencetak gol sebanyak mungkin ke gawang lawan dengan memanfaatkan teknik menggiring, mengoper, dan menendang bola.

Menurut laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud), sejarah sepak bola telah ada sejak abad ke-2 hingga ke-3 sebelum Masehi di Tiongkok, tepatnya pada masa Dinasti Han.

Pada masa itu, masyarakat Tiongkok mengenal permainan bernama Tsu Chu, yaitu kegiatan menggiring bola kulit dan menendangnya ke arah gawang kecil yang terbuat dari jaring.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh para tentara untuk melatih ketahanan fisik, sekaligus menjadi hiburan dalam perayaan ulang tahun kaisar.

SEKARANG: Persipro 1954 saat mengikuti Liga 4 PSSI 2024.
SEKARANG: Persipro 1954 saat mengikuti Liga 4 PSSI 2024.
BERTANDING: Skuad Persipro saat melawan Mitra Surabaya di Liga 4 Jatim 2024.
BERTANDING: Skuad Persipro saat melawan Mitra Surabaya di Liga 4 Jatim 2024.
KINI: Persipro 1954 dengan suporter Curva Sud saat bertandang ke Banyuwangi.
KINI: Persipro 1954 dengan suporter Curva Sud saat bertandang ke Banyuwangi.

Selain di Tiongkok, permainan serupa juga muncul di Jepang dengan nama Kemari.

Dalam permainan ini, masyarakat Jepang menendang bola yang terbuat dari kulit kijang dan berusaha menjaganya agar tidak jatuh ke tanah.

Jejak permainan sejenis sepak bola juga ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti Inggris, Meksiko, hingga Mesir Kuno.

Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat kuno sudah mengenal permainan menggunakan bola dari bahan karet, meski belum memiliki aturan baku seperti sepak bola modern saat ini.

Perkembangan sepak bola modern dimulai di Inggris pada tahun 1863, ketika sebelas perwakilan klub sepak bola mengadakan pertemuan di Freemasons Tavern.

Dari pertemuan ini, lahirlah Football Association (FA) yang menyusun aturan resmi permainan sepak bola, sekaligus membedakannya dari olahraga rugby.

Keputusan tersebut menjadi tonggak lahirnya sepak bola modern yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Selanjutnya, pada 21 Mei 1904, terbentuk organisasi sepak bola dunia bernama Fédération Internationale de Football Association (FIFA).

Organisasi ini digagas oleh Henry Delaunay dan Jules Rimet, serta diikuti oleh tujuh negara pendiri: Denmark, Spanyol, Swedia, Swiss, Belgia, Belanda, dan Prancis.

Sejak saat itu, sepak bola semakin berkembang dan pada tahun 1908, resmi menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di ajang Olimpiade.

“Sebelum dikenal dengan nama sepak bola, masyarakat Nusantara mengenal permainan serupa bernama sepak raga. Permainan ini menggunakan bola yang terbuat dari anyaman rotan dan dimainkan dengan cara menendang bola agar bisa melewati lingkaran di atas bambu, mirip dengan permainan basket modern,” jelas Edi Martono, pegiat sejarah Kota Probolinggo dari komunitas Pojok Literasi.

Masuknya sepak bola ke Indonesia diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sekitar tahun 1914, ketika berdirinya organisasi sepak bola Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU).

Namun, organisasi ini hanya menaungi klub-klub milik warga Belanda. Setahun kemudian, berdirilah Voetbal Bond Indonesia (VBI) yang mewadahi klub-klub pribumi.

Momentum penting dalam sejarah sepak bola nasional terjadi pada 19 April 1930, ketika Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi didirikan di Yogyakarta oleh Soeratin Sosrosoegondo, seorang insinyur lulusan Jerman yang dikenal sebagai tokoh nasionalis.

Soeratin mendirikan PSSI bukan hanya untuk mengembangkan olahraga, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan Belanda melalui semangat persatuan.

Setelah berdirinya PSSI, kompetisi sepak bola di Indonesia mulai digelar secara rutin sejak 1931 hingga 1941, sebelum sempat terhenti akibat pendudukan Jepang pada 1942.

Setelah masa kemerdekaan, kompetisi kembali diadakan pada 1951, menandai kebangkitan sepak bola nasional.

Tahun 1952, PSSI resmi bergabung dengan FIFA, dan dua tahun kemudian menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation).

Seiring waktu, sistem liga terus berkembang. Liga sepak bola pertama di Indonesia dikenal dengan nama Galatama (Liga Sepak Bola Utama).

Kemudian, pada 1994, PSSI memadukan Galatama dengan kompetisi Perserikatan menjadi Liga Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas klub.

Namun, perjalanan sepak bola Indonesia tak selalu mulus. Pada 2014, PSSI mendapat sanksi dari FIFA yang membuat kegiatan liga dibekukan pada 2015.

Setelah melalui berbagai pembenahan, kompetisi resmi kembali digelar pada 2017 dengan nama Liga 1, yang hingga kini menjadi ajang tertinggi sepak bola nasional.

 

Lebih Profesional dan Terstruktur

Sepak bola tidak hanya menjadi olahraga populer di tingkat nasional, tetapi juga memiliki sejarah panjang di berbagai daerah, termasuk Kota Probolinggo.

Siapa sangka, olahraga yang kini menjadi kebanggaan masyarakat ini sudah dikenal di Kota Probolinggo sejak awal abad ke-20.

“Diperkirakan sekitar tahun 1930, sepak bola sudah ada di Probolinggo,” ungkap Edi Martono, pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi.

Pernyataan ini diperkuat oleh keberadaan foto lawas dalam Digital Collection Leiden University Libraries yang berjudul Voetbaleftal te Probolinggo.

Foto tersebut memperlihatkan sekelompok pemain sepak bola dan diduga diambil di Lapangan Karya Bakti, salah satu lapangan bersejarah di kota ini. “Dulu lapangan itu sempat direncanakan menjadi stadion,” tambah Edi.

Pada masa penjajahan Belanda, sepak bola mulai dikenal luas di kalangan masyarakat lokal.

Olahraga ini menjadi hiburan baru bagi para pemuda pribumi, sekaligus wadah untuk berkumpul dan menunjukkan semangat kebersamaan.

“Pertandingan saat itu dilakukan secara informal, hanya melibatkan tim-tim lokal,” ujar Edi.

Seiring meningkatnya minat masyarakat, berbagai klub sepak bola lokal pun bermunculan.

Klub-klub ini berfungsi sebagai tempat latihan, sekaligus ajang kompetisi antarpemuda. Dari sinilah embrio sepak bola Probolinggo mulai tumbuh.

Memasuki tahun 1960-an, turnamen sepak bola pertama di Kota Probolinggo resmi digelar.

Ajang ini mempertemukan berbagai tim lokal dan menjadi sarana mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.

“Turnamen tersebut awalnya bersifat sederhana, tapi dalam beberapa tahun mulai berkembang menjadi lebih terstruktur dengan pembagian grup dan sistem eliminasi,” jelas Edi.

Turnamen-turnamen ini menjadi momentum penting bagi sepak bola lokal untuk naik kelas.

Dari yang semula hanya pertandingan persahabatan, kini berubah menjadi kompetisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setiap tahunnya.

Mengutip laman resmi PSSI Probolinggo, pada 1980-an sepak bola Probolinggo memasuki babak baru.

Profesionalisme mulai diterapkan dalam penyelenggaraan turnamen. Standar kompetisi semakin tinggi, regulasi diperketat, dan fasilitas olahraga mulai ditingkatkan.

Beberapa liga lokal bahkan mendapat dukungan sponsor dari perusahaan daerah.

Dukungan ini tidak hanya menambah kemeriahan acara, tetapi juga meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan semangat para pemain. Popularitas sepak bola di kalangan warga pun semakin meningkat.

Memasuki 1990-an, perhatian terhadap pengembangan bakat muda semakin besar.

Turnamen sepak bola tidak lagi terbatas pada klub-klub profesional. Kompetisi antar sekolah dan antar komunitas mulai digelar secara rutin.

Kegiatan ini menjadi ajang bagi siswa dan anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat untuk mengasah kemampuan, sekaligus menanamkan nilai sportivitas dan kerja sama tim sejak dini.

Sejak awal tahun 2000-an, Kota Probolinggo mulai aktif berpartisipasi dalam turnamen sepak bola tingkat regional, termasuk liga daerah Jawa Timur.

Keikutsertaan ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas permainan, pengalaman, serta prestasi tim-tim lokal.

Memasuki 2010-an, penyelenggaraan turnamen di Probolinggo semakin modern dan inovatif.

Teknologi mulai dimanfaatkan dalam berbagai aspek, mulai dari pengumpulan data pemain, sistem penjadwalan, hingga pelaporan hasil pertandingan.

Kini, format turnamen sepak bola di Probolinggo semakin beragam. Sistem grup, round-robin, dan play-off diterapkan untuk meningkatkan dinamika pertandingan.

Hadiah bagi pemenang pun semakin menarik berkat dukungan sponsor, mendorong tim-tim dari luar daerah ikut berpartisipasi.

Perjalanan panjang sepak bola di Kota Probolinggo mencerminkan bagaimana olahraga ini terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dari foto hitam putih di Lapangan Karya Bakti hingga penggunaan teknologi digital dalam penyelenggaraan turnamen, sepak bola tetap menjadi magnet yang menyatukan masyarakat lintas generasi.

Lebih dari sekadar olahraga, sepak bola di Probolinggo telah menjadi bagian dari identitas kota—sebuah kisah tentang semangat, kebersamaan, dan kecintaan terhadap permainan yang sederhana namun penuh makna.

 

Klub Bola Persipro 1954

Salah satu klub yang cukup terkenal adalah Persipro (Persatuan Sepak Bola Probolinggo), yang didirikan pada 11 April 1954.

Klub ini menjadi salah satu pelopor dalam pengembangan sepak bola di Probolinggo, berpartisipasi dalam berbagai turnamen dan kompetisi tingkat nasional.

Tim kebanggaan arek Probolinggo ini dulunya disebut sebagai Laskar Minak Jinggo.

Julukan ini lahir dari suporter Jinggo Mania dengan melalui kesepakatan bersama tim dan manajemen Persipro kala itu.

Namun tahun 2016, sebutan terbaru diberikan oleh Suporter Curva Sud Probolinggo yakni Serigala Tengger.

“Sebab Tengger ini menggambarkan Probolinggo. Sementara Serigala memang merupakan hewan yang ada di lokasi tersebut. Selain itu menggambarkan keberanian, kesetiaan, perlindungan, dan kebijaksanaan,” kata salah satu koordinator Curva Sud, Ali.

Diketahui, pada musim 2011–2012 tim ini mendapat investor dari Bondowoso dan sempat bernama Persipro Bondowoso United.

Namun pada pertengahan musim, klub ini diambil alih dan kembali bernama Persipro Probolinggo.

Lalu pada tahun 2022, Persipro kembali berganti nama menjadi Persipro 1954. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#persipro #sejarah #Kota Probolinggo #sepak bola #pssi