Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Rumah Keluarga Schultz, Bangunan Kuno yang Dibongkar Lantaran akan Dijadikan Kafe

Inneke Agustin • Minggu, 14 September 2025 | 19:55 WIB
DULU: Foto kuno tahun 1895 atau abad ke-19 tampak sepasang kakek nenek Schultz berfoto di teras depan rumah tersebut.
DULU: Foto kuno tahun 1895 atau abad ke-19 tampak sepasang kakek nenek Schultz berfoto di teras depan rumah tersebut.

SEBUAH rumah kuno berdiri megah di Jalan dr Mohamad Saleh Kota Probolinggo.

Jalan ini, dahulu bernama Zeestraat atau Jalan Laut karena aksesnya yang langsung menuju pelabuhan.

Pada masanya dahulu, rumah ini dihuni oleh keluarga Schultz dari Belanda.

Pemerhati sejarah Pasuruan-Probolinggo, Achmad Budiman Suharjono mengatakan bahwa berangkat dari foto kuno tahun 1895 atau abad ke-19 tampak sepasang kakek nenek Schultz berfoto di teras depan rumah tersebut. Foto itu lantas disimpan baik oleh anak cucu mereka.

Delapan puluh tahun kemudian, sekitar tahun 1975 dua orang cucunya yakni Bont dan Warungian berangkat ke Indonesia dari Florida, USA. Tanpa berekspektasi apapun dari rumah kakek dan neneknya itu.

“Ternyata sesampainya di sini, rumah itu masih utuh. Tidak ada yang berubah. Hanya ada pagar sebagai tembok pemisah antara jalan dan halamannya,” terang Budiman.

USANG: Dua orang cucu Schultz yakni Bont dan Warungian berfoto di pagar pembatas rumah tersebut sekitar tahun 1975.
USANG: Dua orang cucu Schultz yakni Bont dan Warungian berfoto di pagar pembatas rumah tersebut sekitar tahun 1975.
KORAN TEMPO DULU: Potongan berita pertunangan dan pernikahan G.P.A. Luyt dan P Schultz yang ada di rumahnya di Zeestraat 18, Probolinggo di Nieuwe Courant pada 26-08-1948.
KORAN TEMPO DULU: Potongan berita pertunangan dan pernikahan G.P.A. Luyt dan P Schultz yang ada di rumahnya di Zeestraat 18, Probolinggo di Nieuwe Courant pada 26-08-1948.

Sejumlah pot-pot bunga tua, hilang. Namun secara keseluruhan, masih tetap sama persis dengan yang ada di foto.

Bahkan, pohon mangga pun masih berdiri kokoh di halamannya.

“Semua tampak bersih terawat oleh orang-orang yang dinilai mereka ramah. Kedua cucu Schultz ini lantas diajak berkeliling bangunan dan berfoto di depan rumah tersebut,” ungkapnya.

Budiman mengatakan, setelah itu rumah ini diduga ditinggali oleh cucu Schultz sampai 1950.

“Ketika Jepang menduduki Indonesia, mereka biasanya menginternir pria dewasa, sehingga kemungkinan masih dihuni oleh para wanita dan anak-anak. Baru ketika penyerahan kedaulatan RI mereka diaspora ke USA,” imbuhnya.

Setelah 48 tahun berlalu tepatnya di 2023, foto cucu Schultz ini baru ditemukan.

Dimuat dalam majalah Tong Tong edisi 15 Desember 1976 halaman 20.

Hal ini diperkuat dengan adanya dokumen lain, yakni dari sebuah berita keluarga yang dimuat di Nieuwe Courant pada 26-08-1948.

“Berita itu menceritakan tentang pertunangan dan pernikahan G.P.A. Luyt dan P Schultz yang ada di rumahnya di Zeestraat 18, Probolinggo pada 1 September 1948,” tuturnya.

Sementara pada 10 September 2023 (abad ke-21), fasad rumah dan dinding masih utuh. Namun sayang, atapnya sudah ambruk.

Dari pengamatan citra satelit, atap rumah ini sudah ambruk sejak sekitar 10 tahun yang lalu.

“Pohon mangganya juga masih bertahan dan tampak semakin menua. Di pagar depan rumah itu, kini tergantung banner yang tertulis disewakan,” ungkapnya.

Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan bahwa keluarga Schultz merupakan keluarga pengusaha tekstil di tanah Jawa.

Tapi kemungkinan, bukan pemilik pabrik tekstil, hanya sebagai importir.

“Jadi makanya ketika Jepang menduduki Probolinggo, mereka tidak ditawan karena bukan pejabat. Tapi mungkin, kalaupun ditahan tapi pria saja. Setelah merdeka rumah itu kosong. Sampai sekarang kosong tapi sudah ada pemiliknya,” katanya.

KOKOH: Tampak rumah kuno milik keluarga Schultz pada tahun 2023. Masih sama persis, hanya saja atapnya sudah ambruk.
KOKOH: Tampak rumah kuno milik keluarga Schultz pada tahun 2023. Masih sama persis, hanya saja atapnya sudah ambruk.
KINI: Pembangunan di rumah kuno milik keluarga Schultz yang disewa untuk dijadikan kafe.
KINI: Pembangunan di rumah kuno milik keluarga Schultz yang disewa untuk dijadikan kafe.

 

Dibangun Menjadi Bakal Kafe

Sayangnya saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi lokasi yang dimaksud, rumah ini telah dibongkar.

Rumah kuno tersebut kini direnovasi untuk kemudian dibangun menjadi sebuah kafe.

Pengawas proyek, Sutrisno, 58, mengatakan bahwa proses pembangunan tersebut telah berlangsung kurang lebih 2 bulan.

Sejumlah bagian bangunan dirombak, termasuk teras depan yang ikonik dari foto lawasnya. Proyek ini diprediksi baru selesai dalam setahun mendatang.

“Dulu ada terasnya, tapi penyewa minta untuk dibongkar sesuai desain yang sudah ada. Tapi terasnya dipertahankan, tidak dibongkar. Masih pakai teras lama. Hanya ada tambahan tembok baru di bagian depan, sepertinya ruangan kafe juga,” kata pria asal Malang ini.

Sementara bagian dalam, dahulu ada empat kamar tidur dengan ukuran jumbo, sekitar 5 x 6 meter.

Kemudian ada ruang tamu dan ruang keluarga. Sementara dapur ada di sisi belakang, terpisah dengan rumah namun kondisinya memang sudah roboh.

Tebal dindingnya pun menggunakan dua bata khas rumah Belanda. Dinding ini nantinya akan diplester, tanpa finishing lagi.

“Jadi kamar itu dindingnya dilubangi, dibuat los. Kemudian ada lubang jendela yang ditutup, nantinya jendela akan full kaca dan di dalam ruangan juga menggunakan AC. Di belakang bekas dapur itu, akan dibangun musala, kamar mandi, dan juga dapur baru,” ujarnya.

Sementara di bagian depan, ada ruangan di sisi utara. Ruangan ini dahulunya merupakan kamar bagi penjaga rumah. Namun nantinya, juga akan dibongkar. “Mungkin kalau yang depan ini jadi tempat parkir,” jelasnya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#bangunan kuno #peninggalan belanda