Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Ayer Dingin, Salah Satu Pabrik Kopi Tertua di Indonesia yang Berada di Bermi Kabupaten Probolinggo

Inneke Agustin • Minggu, 6 Juli 2025 | 17:20 WIB
DULU: Suasana pabrik dan perkebunan kopi Ayer Dingin tahun 1935 saat dimiliki oleh Ross Tayllor and Co.
DULU: Suasana pabrik dan perkebunan kopi Ayer Dingin tahun 1935 saat dimiliki oleh Ross Tayllor and Co.

KOPI Argopuro merupakan varian kopi yang tak lagi asing di tengah penikmat kopi.

Siapa sangka, bahwa kopi yang berasal dari lereng pegunungan Hyang ini, memiliki sejarah panjang.

Termasuk sejarah pabrik kopi tertua se-tapal kuda, bahkan se-Indonesia bernama Ayer Dingin.

Penamaan ini diambil dari kondisi lingkungan di lokasi tersebut, yang memang memiliki air yang dingin.

Semua dimulai sejak seorang ekspatriat Inggris bernama Charles Hill. Ia mendapatkan masukan dari salah satu Bupati Probolinggo yang menjabat saat itu, mengenai lahan di sisi barat laut Pegunungan Yang, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, dapat dimanfaatkan pada 1874.

Semula lahan seluas 500 hektare tersebut disewa, untuk urusan pertambangan.

GOLDEN ERA: Suasana pabrik dan perkebunan kopi Ayer Dingin tahun 1901. Foto keluarga Alexander Dirk Robijn selaku karyawan dan pemroses kopi di pabrik tersebut.
GOLDEN ERA: Suasana pabrik dan perkebunan kopi Ayer Dingin tahun 1901. Foto keluarga Alexander Dirk Robijn selaku karyawan dan pemroses kopi di pabrik tersebut.

Namun ketika Hill melihat kembali kondisi di lapangan, lahan tersebut lebih cocok digunakan untuk perkebunan.

Sehingga, ia beralih membuat kebun kopi. Setelah perusahan mulai berkembang, kedua anaknya George Hill dan Philip Hill serta sejumlah keluarga lainnya turut pergi ke Indonesia.

“Mereka lantas membangun pabrik dan sebuah rumah megah di luar area pabrik pada 1878. Warga Bermi menyebut rumah tersebut Lodji Jeruk atau istana Jeruk,” kata Pegiat sejarah Bermi Herritage, Rakha Rizal Amin.

Rakha menjelaskan, George Hill menjabat sebagai Administrator di perusahaan tersebut.

Berkat tangan dinginya, Ayer Dingin menjadi pioner perusahaan budidaya di Oosthoek atau daerah tapal kuda.

Tak hanya itu, secara admistratif Perusahaan Ayer Dingin mendapatkan legalitas perseroan tahun 1892 yang didaftarkan di Amsterdam-Belanda.

“Melalui legalitas ini, lahan tersebut menjadi semakin jelas batasan-batasannya, serta harga sewanya. Sementara konsensusnya sendiri, masih akan berakhir pada 31 Desember 1942,” ungkap Rakha.

Perusahaan ini memproduksi jenis kopi Java Arabika Argopuro. Biji kopinya dijual dengan satuan pikul.

Tak hanya ke pasar lokal. Bahkan, biji kopi ini dijual ke luar negeri atau ekspor.

Tak heran kesuksesan perusahaan ini, keluarga Hill bahkan bisa membeli sebuah castle di Inggris bernama Castle Malwood Lodge.

Menjamurnya N.V. Suiker Fabriek di Probolinggo menjadi distorsi kala perkebunan kopi miliknya yang pertama dan sukses di tapal kuda.

Di tahun-tahun berikutnya, banyak pengusaha yang mengikuti jejaknya seperti Wadoeng West dan Sumber Manggis di Kali Baru-Banyuwangi.

Perusahaan ini menjadi pioner pabrik kopi di tapal kuda seperti Situbondo, Jember, maupun Banyuwangi.

LAMPAU: Tuan Tullken alias Tuan Kothol selaku Administrator pabrik kopi Ayer Dingin.
LAMPAU: Tuan Tullken alias Tuan Kothol selaku Administrator pabrik kopi Ayer Dingin.
SEKARANG: Gedung Aviland atau eks pabrik kopi Ayer Dingin pada tahun 2021. Bangungan tersebut kini dimanfaatkan sebagai kantor perusahaan kayu.
SEKARANG: Gedung Aviland atau eks pabrik kopi Ayer Dingin pada tahun 2021. Bangungan tersebut kini dimanfaatkan sebagai kantor perusahaan kayu.

Usianya sama seperti De Karanganjar Koffieplantage yang terletak di Blitar. Perusahaan ini juga didirikan tahun 1874.

“Kalau kedai atau toko kopi biasa, mungkin banyak yang lahir di tahun 1700-an. Namun, untuk sekelas pabrik kopi dan telah berlegalitas hukum, dua perusahaan ini adalah yang tertua di Indonesia,” ungkap Rakha.

Charles Hill dan salah satu anaknya Philip Hill memutuskan kembali ke Inggris.

Namun George Hill memilih menetap di Bermi, meski tak menikah selama masa hidupnya. Sang Ayah, Charles Hill dikabarkan meninggal dunia di kastilnya pada 1894.

 

Beralih Kepengurusan

Adanya krisis global saat itu, membuat perusahaan ini juga turut terdampak.

Pada awal tahun 1930-an, perusahaan ini dijual ke perusahaan dagang bernama Ross Tayllor and co. Selama masa transisi ini, perusahaan Ayer Dingin sempat vakum selama 10 tahun.

Sementara George Hill yang makin bertambah tua, memilih untuk pensiun. Dalam kondisi sakit, ia hanya bisa pasrah ketika aset dan rumahnya harus diambil alih.

Namun, ia diberikan rumah baru di sudut Desa Bermi yang masih masuk wilayah perusahaan Ayer Dingin.

“Pada 26 April 1935, ia menghembuskan nafas terakhirnya seorang diri di rumah pada usia 84 tahun. George Hill kemudian dimakamkan tak jauh dari rumah barunya, dengan berlatar belakang Pegunungan Hyang Argopuro,” terang Pegiat sejarah Bermi Herritage, Rakha Rizal Amin.

Ross Tayllor and co., mengutus tuan Watendorf sebagi pengawas dan tuan Tullken sebagi Administrator.

Di bawah kepemimpinannya, Ayer Dingin kembali memasuki masa kejayaan dan mulai mengembangkan varietas kopi lain dan juga tanaman kina pada 1935. Rumah Hills yang lama kini dihuni oleh Watendorff.

Pada masa ini, konsesi lahan pun diperluas. Walau demikian, Tullken yang dikenal oleh warga sekitar sebagai Tuan Kothol karena tangan kirinya buntung menerapkan inovasi yang brilian. Ia melakukan cangkok lilin, sehingga tanaman kopi jadi lebih cepat tumbuh.

“Sehingga meskipun sempat vakum 10 tahun, mereka bisa mengejar ketertinggalannya. Ekspor pun kembali meningkat. Bahkan biji kopi dari perusahaan tersebut, sempat menjadi juara di festival biji kopi di Paris,” jelas Rakha.

 

Berubah Fungsi sebagai Kantor Perusahaan Kayu

Sayangnya, masa kejayaan itu harus berakhir saat Jepang datang ke Indonesia.

Semua aset perusahaan ini, dialihkan sebagai kamp interniran dan tahanan bagi pejuang Hyang Barat kala itu.

Pabrik tersebut berhenti beroperasi. Biji kopi hanya dipanen untuk keperluan serdadu Jepang yang bernama Nishida bersama sang istri yang berdarah Tionghoa.

“Pabriknya beralih menjadi gudang dan camp tahanan. Sehingga kopinya tidak dijual-jual lagi,” kata Rakha.

Setelah Jepang kalah, eks pabrik tersebut kini sering disebut masyarakat sebagai Aviland.

Gedung itu masih berdiri hingga saat ini. Namun fungsinya telah berubah. Dari pabrik menjadi gedung kantor salah satu perusahaan kayu di Probolinggo.

Meski demikian, Pegiat sejarah Bermi Herritage, Rakha Rizal Amin mengatakan, masyarakat sekitar, termasuk generasi muda berupaya untuk menyelamatkan varietas kopi yang tersisa.

“Kami ingin menyelamatkan sejarah yang ada di sana. Sebab mayoritas orang mungkin hanya tahu bahwa kopi Argopuro itu berasal dari daerah lain. Padahal pabrik terbesarnya ada di Probolinggo. Kami ingin itu tetap lestari, namun tentunya kami perlu dukungan seluruh stakeholder terkait termasuk pemerintah,” ungkapnya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pabrik kopi #zaman belanda #Bermi Probolinggo