Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Kamp Bersiap di Pasuruan, Tempat "Isolasi" Bangsa Eropa Selama Perang Kemerdekaan

Fahrizal Firmani • Minggu, 1 Juni 2025 | 20:20 WIB
KUNO: Gedung Harmonie Kota Pasuruan yang dahulu jadi Kamp Bersiap.
KUNO: Gedung Harmonie Kota Pasuruan yang dahulu jadi Kamp Bersiap.

SELAMA masa perang kemerdekaan, terjadi peralihan kekuasaan antara tentara Jepang di satu pihak ke tentara sekutu atau Republik Indonesia di sisi lain.

Periode ini sering disebut sebagai "Masa Bersiap" oleh media massa Belanda. Merujuk pada periode tahun 1945 sampai 1947.

Istilah ini diambil dari kata siap yang banyak dipakai oleh pemuda dan pejuang pada waktu itu.

Oleh pejuang Bangsa Indonesia, Masa Bersiap lebih dikenal sebagai masa perang kemerdekaan.

Selama periode ini, banyak orang Belanda dan Eropa yang ditahan beserta keluarganya.

Mereka ditahan di sejumlah tempat di Indonesia. Tempat penahanan ini disebut dengan nama "Kamp Interniran" atau "Kamp Bersiap".

Sebab kamp konsentrasi yang bisa berupa penjara, rumah, atau kawasan dengan penjagaan khusus.

LAWAS: Gedung Grand Hotel Nongkodjajar yang juga sempat menjadi Kamp Bersiap.
LAWAS: Gedung Grand Hotel Nongkodjajar yang juga sempat menjadi Kamp Bersiap.
MENAWAN: Keberadaan Gedung Harmonie yang terjaga dengan baik. Gedung tersebut memiliki sejarah yang panjang.
MENAWAN: Keberadaan Gedung Harmonie yang terjaga dengan baik. Gedung tersebut memiliki sejarah yang panjang.

Kondisi ini tidak luput karena adanya perang kemerdekaan Indonesia. Akibat ulah tentara sekutu yang berupa merebut kembali kemerdekaan Indonesia.

Demi keamanan warga Eropa yang tinggal di Indonesia agar tidak terkena amukan pejuang, mereka diisolasi.

"Tidak luput di Pasuruan. Sejumlah tempat menjadi Kamp Bersiap sebagai tempat menahan Belanda dan orang Eropa," kata pemerhati sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono.

Di Pasuruan ada enam lokasi yang menjadi Kamp Bersiap. Yakni Kantor Polsek Bangil lalu dipindah Lapas Kota Pasuruan, Sekolah Cina Clara Fey yang kini menjadi Sekolah Sang Timur.

Selanjutnya. Gedung Harmonie, sebuah kamp di Puspo, dan hotel di Nongkojajar.

"Mereka orang Belanda dan Eropa ditahan di kamp ini, selama dua tahun. Hingga 1947," tutur Budiman.

 

Makanan dan Obat-Obatan Terbatas

Selama ditahan di Kamp Bersiap, orang Belanda dan Eropa diberi jatah makanan dan obat-obatan.

Namun, setiap orang diberi dengan jatah terbatas. Mereka diberi makan layaknya tahanan pribumi. Diberi jatah makan nasi putih dengan lauk seadanya.

Pemerhati sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menyebut jatah makanan yang diberikan kepada orang Belanda dan Eropa yang ditahan, dibatasi.

Bahkan, mereka yang ditahan di Sekolah Cina Clara Fey harus memasak sendiri. Itupun dengan peralatan memasak yang kurang memadai.

"Ada yang harus memasak sendiri. Ada pula yang diberi jatah harian dari kamp. Namun dengan jatah yang tentunya standar," jelas Budiman.

Ia menuturkan, Kamp Bersiap di Bangil awalnya terletak di Kantor Polisi Bangil. Namun, ini hanya berlangsung sehari.

Mereka lantas dipindah ke Lapas Pasuruan. Terdiri dari warga asing yang berasal dari daerah sekitarnya. Seperti Lawang, Tretes, Prigen dan Pandaan.

Lalu, kamp di Lapas Pasuruan (dahulunya disebut penjara Pasuruan, red) ini, difungsikan sebagai kamp pindahan dari Kantor Polisi Bangil.

Ada sekitar 150 warga asing yang ditahan di sini. Mereka ditahan dengan jatah makan nasi jagung dan nasi putih sebanyak dua kali sehari.

Porsinya masing-masing 250 gram, dengan kangkung rebus. Mereka tinggal dalam tiga sel besar.

Sehingga, masing-masing sel untuk 50 orang. Tersedia dokter untuk perawatan medis. Yang merawat saat mereka sakit adalah dr R Soedarsono.

"Jatah nasi putih dan nasi jagung sekali makan itu, separo-separo dalam satu piring. Dan tidak ada obat-obatan di kamp ini," jelas Budiman.

Kemudian Sekolah Cina Clara Fey yang merupakan pindahan dari Kamp Poespo. Ada 136 orang asing.

Mereka mendapatkan jatah makan nasi putih sebanyak 300 gram. Dengan lauk tempe, tahu dan sayur.

Namun untuk bisa makan, mereka harus memasak sendiri. Hanya saja dengan peralatan memasak yang tidak memadai.

Sebab, tidak banyak peralatan yang dalam kondisi bagus disimpan di Poespo. Dengan perabotan sekolah yang standar dan tidak memiliki tempat tidur ataupun kasur.

Penerangan lampu listrik hanya ada di ruang kelas. Ruangan lainnya menggunakan lampu minyak.

"Tapi untuk sanitasi, memadai. Ada perawatan kesehatan dan obat-obatan. Jika sakit parah dibawa ke rumah sakit," imbuh Budiman.

Kemudian, kamp di Gedung Harmonie. Gedung ini hanya dimanfaatkan selama sebulan. Merupakan pindahan dari Kamp Sekolah Cina Clara Fey.

Sebanyak 136 orang dipindah ke Gedung Harmonie pada September 1936. Namun Oktober 1936, mereka dipindahkan ke Kota Malang.

Kemudian, kamp di Nongkodjajar. Kamp di sini, terdiri dari dua buah. Satu bertempat di sekolah asrama.

Tempat lainnya di paviliun Grand Hotel. Kondisinya cukup baik. Orang asing diberi nutrisi yang cukup.

Mereka tinggal di kamp ini, dengan perabotan lengkap. Ada kunjungan dokter dan medis seminggu sekali.

"Satu lagi di Poespo bertempat di Pesanggrahan, Rings, Villa de Leeuw dan Stuip. Ada empat rumah di sini untuk 190 orang asing. Sebelum dipindah ke Clara Fey," beber Budiman.

 

Sebagian Bertahan dan Sebagian Tinggal Sejarah

Bekas tempat atau gedung yang dijadikan Kamp Bersiap ini, sebagaian masih difungsikan.

Sehingga, jejaknya masih bisa ditemukan. Namun sebagian lagi sudah tidak tersisa.

Kamp Bersiap yang terletak di Nongkodjajar dan Poespo hanya tinggal sejarah.

Pemerhati sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menyebut, Kantor Polisi Bangil yang sempat menjadi Kamp Bersiap itu masih berdiri hingga saat ini.

Kini masyarakat mengenalnya sebagai Kantor Polsek Bangil. Digunakan untuk pelayanan masyarakat di wilayah Bangil.

Lalu, Gedung Harmonie juga masih berdiri kokoh hingga saat ini di Jalan Pahlawan, Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Kini dipergunakan sebagai sekolah untuk SMK Untumg Suropati. Adapula Sekolah Cina Clara Fey yang kini dikenal dengan nama Sekolah Sang Timur.

"Saat ini, tetap dikenal sebagai Sekolah Katolik. Bedanya, dahulu itu untuk warga Cina. Sekarang pribumi juga bisa," jelas Budiman.

Penjara Pasuruan juga masih ada. Terletak di persimpangan Jalan Panglima Sudirman.

Penjara ini, sekarang dikenal sebagai Lapas Pasuruan. Digunakan sebagai tahanan bagi warga Pasuruan dan luar Pasuruan yang menunggu dan sedang menjalani masa hukuman.

Namun, adapula bangunan Kamp Bersiap yang tidak ditemukan jejaknya. Seperti Grand Hotel Nongkodjajar.

Kemungkinan, hotel ini jadi korban peristiwa bumi hangus selama perang kemerdekaan oleh pejuang Indonesia.

Selain itu, empat rumah di Poespo, keberadaannya masih misterius.

"Kemungkinan sama seperti Grand Hotel Pasuruan, juga sudah raib. Tidak diketahui jejaknya," ulas Budiman. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kamp #zaman belanda #tempat isolasi #perang kemerdekaan