HIBURAN telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu, termasuk pada masa kolonial Belanda.
Dari kalangan bawah hingga atas, berbagai bentuk hiburan telah dinikmati sebagai pelepas penat.
Di masa awal, hiburan populer berupa pertunjukan langsung seperti wayang kulit, ketoprak, hingga opera.
Seiring perkembangan teknologi, bentuk hiburan pun ikut berubah. Muncullah tempat pertunjukan baru yang dikenal dengan bioskop-ruang khusus untuk menonton gambar bergerak atau film.
Kehadiran bioskop menjadi simbol modernitas. Khususnya di wilayah perkotaan Hindia Belanda.
Tak heran, sepanjang abad ke-20, gedung bioskop menjamur di berbagai kota besar di Nusantara.
Menonton film menjadi tren hiburan baru yang digemari berbagai kalangan. Film-film yang akan diputar, biasanya dipromosikan secara unik dan kreatif.
Salah satu cara yang digunakan, dengan menyebarkan informasi melalui delman atau sado yang berkeliling kota.
Selain itu, iklan film juga muncul di majalah dan koran lokal. Di depan gedung bioskop, poster-poster film dipajang berjajar, disertai tulisan “Sedang Tayang” atau “Akan Tayang” sebagai penanda kepada pengunjung.
Kehadiran bioskop di Hindia Belanda, dimulai pada 5 Desember 1900, lima tahun setelah Robert Paul mendemonstrasikan teknologi proyeksi film kepada publik di London pada 1895.
Awalnya, pemutaran film di tanah jajahan Belanda ini, hanya menjadi ajang kebanggaan kaum kulit putih, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka tak ketinggalan dari saudara-saudara mereka di tanah Eropa.
Saat itu, masyarakat mulai mengenal istilah “gambar idoup” sebagai sebutan untuk film.
Menurut catatan HM Johan Tjasmadi, seorang tokoh penting dalam dunia perfilman Indonesia, pada tahun 1936 terdapat setidaknya 225 gedung bioskop yang tersebar di wilayah Hindia Belanda.
Menariknya, pada masa itu, kepemilikan bioskop mulai beralih dari tangan pengusaha Belanda ke tangan pengusaha Tionghoa.
Kaum Tionghoa merasa tertantang untuk turut serta dalam industri hiburan ini dan melihatnya sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Munculnya Bioskop Regina di Kota Probolinggo
Di Kota Probolinggo, terdapat sebuah bangunan tua yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat, yakni Bioskop Regina.
Gedung yang berdiri di Jalan dr. Soetomo Kota Probolinggo ini, dikenal sebagai salah satu bioskop tertua dan menyimpan sejarah panjang sejak era kolonial Belanda.
Pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengungkapkan bahwa gedung bioskop ini, telah berdiri sejak masa penjajahan dan awalnya bernama Gedung Dewi.
“Memang fungsinya sejak dahulu, sebagai tempat pertunjukan. Selain menayangkan film, gedung ini juga digunakan untuk pementasan seni seperti kabaret dan teater,” ujar Edi.
Seiring waktu, nama Gedung Dewi mengalami beberapa kali perubahan.
Nama pertamanya setelah era kolonial adalah Bioskop Flora. Meski Edi tak ingat pasti kapan pergantian nama itu terjadi, ia menyebut nama Flora sangat melekat di benak masyarakat.
“Saking populernya, hingga sekarang simpang empat yang ada di dekat gedung itu, sering disebut Simpang Empat Flora,” jelasnya.
Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, gedung ini kembali berganti nama menjadi Bioskop Ria.
Lalu diubah lagi menjadi Bioskop Regina, nama terakhir yang paling dikenal warga Kota Probolinggo.
Ada yang menarik dari bioskop ini. Mayoritas film yang ditayangkan, adalah film India.
Edi menyebut, film-film dari Bollywood selalu menyedot penonton. Terutama dari kawasan Mayangan.
“Kalau film India yang main, pasti penuh. Warga Mayangan sangat antusias,” ungkapnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Yoyok Juma’ali, 65, mantan petugas tiket yang pernah bekerja di bioskop tersebut.
Yoyok mengaku, telah mengabdi di dunia bioskop Kota Probolinggo selama lebih dari 20 tahun.
“Kapasitas gedung bisa menampung ratusan orang. Kalau yang diputar film Amitabh Bachchan, sudah pasti penuh sesak,” kenang pria yang berdomisili di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini.
Yoyok juga menceritakan, bahwa sebelum Regina, sudah ada dua bioskop lain yang berdiri lebih dahulu.
Yakni Bioskop Garuda dan Bioskop Guntur. Ia sempat bekerja di dua bioskop tersebut, sebelum akhirnya pindah ke Regina.
Menurutnya, keberadaan bioskop pada masa itu, sangat diminati. Karena televisi, belum umum dimiliki masyarakat dan perangkat hiburan digital seperti sekarang belum ada.
“Makanya bioskop selalu ramai. Tapi ketika televisi mulai banyak di rumah-rumah, barulah bioskop mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Yoyok juga berbagi cerita, tentang teknis pemutaran film saat itu. Film disajikan lewat kaset pita berukuran besar, yang harus ia ambil langsung dari Surabaya hampir setiap hari.
“Naik bus ke Surabaya cuma Rp 3 ribu. Setelah kaset sampai Probolinggo, langsung diputar dengan alat khusus di bioskop,” jelasnya.
Jadwal tayang bioskop pun cukup panjang. Mulai pukul 15.00 hingga dini hari pukul 03.00.
Khusus hari Minggu, ada tambahan tayangan pagi hingga pukul 10.00. Harga tiket pun cukup terjangkau, hanya Rp 3 ribu per orang untuk jam reguler.
Namun, untuk tayangan khusus “Midnight Show” dari malam hingga dini hari, harga tiket naik menjadi Rp 5 ribu. Karena menayangkan film-film terbaru dari Barat atau Hong Kong.
Sayangnya, kejayaan Bioskop Regina tinggal kenangan. Gedung ini tak lagi difungsikan sebagai bioskop.
Sejak 2019 lalu, bangunan tersebut disiapkan untuk disulap menjadi area kuliner bernama Food Land.
Gedung yang dahulu penuh tawa dan tepuk tangan penonton itu, kini kosong dan tak lagi dimanfaatkan. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin