Sebuah bangunan kuno, berdiri kokoh di Dusun Krajan, Desa Semut, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Bangunan tersebut memiliki sejarah yang panjang. Karena dibangun pada era kolonial Belanda. Keberadaannya pun masih terjaga hingga sekarang.
------------------------
Lokasinya berada di sebelah barat jalan utama jurusan Purwosari – Tutur, Kabupaten Pasuruan.
Cat putih tampak menghiasi rumah tersebut. Namun, kondisinya sudah kusam. Lantaran tergerus zaman.
Begitupula bagian atapnya. Genteng yang terpasang, tidak lagi berwarna merah cerah. Namun sebagian besar sudah menghitam, karena usia.
Panjang rumah itu, sekitar 13 meter hingga 14 meter. Lebarnya, mencapai tujuh meter. Warga menyebutnya, rumah kuno Semut.
“Rumah ini merupakan salah satu bangunan kuno yang masih ada di desa kami. Warga menyebutnya dengan rumah kuno Semut,” kata Kepala Desa Semut, Tioso.
bongkasriBaca Juga: Sejarah Bong Kasri, Bangunan Belanda untuk Distribusi Air Bersih
Rumah tersebut didirikan pada tahun 1928 silam. Hal itu ditandai dengan tulisan pada tembok bagian atas rumah yang tampak dari depan.
Dengan tanda itupula, bangunan kuno itu, sudah berusia hampir seabad.
Menurut Tioso, bangunan tersebut telah dibelinya dari ahli waris. Dahulu, bangunan itu memang difungsikan sebagai tempat tinggal. Namun kini, telah kosong dan belum ditempati.
Hal tersebut, karena kondisinya yang tak lagi utuh. Seperti pada bagian dapur atau kamar mandinya, yang sudah roboh.
Hanya menyisakan teras depan, rumah tamu dan tiga kamar yang masih terjaga.
“Jendela, pintu serta kusen-kusennya, masih orisinal. Meski perabotannya sudah tidak ada. Sekarang, memang kondisinya kosong. Kami belum berencana untuk membongkar atau merehabnya. Sementara, kami biarkan begitu adanya,” ungkap dia.
------------------------
Memiliki Halaman Luas, Dijadikan Tempat Usaha
Ukuran bangunan rumah kuno tersebut, memang tidak seberapa. Namun, halaman yang menyertainya, terbilang cukup luas. Khususnya, pada bagian belakang.
Karena bisa tiga kali lipat dibandingkan halaman depan. Saking luasnya, sampai dijadikan tempat budidaya ikan nila dan perkebunan kelengkeng.
Bahkan, juga dipergunakan untuk area peternakan berupa penggemukan atau pembesaran kambing.
“Lahan bagian belakang, memang cukup luas. Daripada dibiarkan kosong, mubazir. Makanya, saya jadikan sebagai tempat usaha kecil-kecilan,” beber Kepala Desa Semut, Tioso.
Ia menguraikan, akses masuk dan keluar ke area rumah kuno ini, hanya satu. Yakni melewati pintu depan. Karena ada pagar tembok yang mengelilinginya.
“Pagar tembok dan gerbangnya merupakan bangunan baru. Sebelumnya, tidak ada. Biar aman saja,” ungkapnya.
---------------
Pernah Menjadi Transit Ratu Helena dari Belanda
Bangunan kuno di Dusun Krajan, Desa Semut, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan ini, ternyata memiliki kisah yang menarik.
Kepala Dusun Krajan, Desa Semut, M. Solehudin menuturkan, dahulu rumah kuno Semut pernah disinggahi Ratu Helena asal Belanda.
Kala itu, Ratu Helena tengah dalam perjalanan dari Surabaya menuju Malang. Sang Ratu menyempatkan diri untuk berkunjung ke pabrik gula yang berada di Dusun Puntir, Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Dari situlah, ia kemudian ke Dusun Krajan, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan untuk transit di rumah kuno tersebut. Kebetulan, memang lokasinya tidak begitu jauh.
“Cerita itu santer disuarakan oleh orang-orang tua terdahulu di desa kami,” urainya.
Ia menambahkan, tak mengetahui persis siapa pemilik dari rumah itu sebelumnya.
Namun, orang terakhir yang menempatinya, disebut-sebut pasangan suami istri (pasutri), yakni Sariman dan Suyana. Keduanya telah meninggal dunia.
“Orang tua dari pasutri almarhum Sariman dan Suyana, dikenal sebagai orang terpandang. Mereka merupakan tokoh di desa ini. Bahkan, disebut-sebut sebagai pejuang,” jelasnya. (zal/one)
Editor : Moch Vikry Romadhoni