Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Europeesche Lagere School di Probolinggo, SD Khusus Keturunan Belanda yang Kini Menjadi SDN Tisnonegaran 1

Inneke Agustin • Minggu, 19 Januari 2025 | 20:31 WIB
BERSEJARAH: Bangunan Europeesche Lagere School (ELS) di Kota Probolinggo tempo dulu yang sekarang menjadi SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.
BERSEJARAH: Bangunan Europeesche Lagere School (ELS) di Kota Probolinggo tempo dulu yang sekarang menjadi SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.

TIDAK semua masyarakat Probolinggo di era Belanda, bisa mendapatkan pendidikan yang mumpuni.

Terutama bagi masyarakat pribumi, yang berada di kalangan menengah ke bawah. Meski sejatinya, banyak sekolah yang berdiri.

Pada tahun 1903, Probolinggo mendapatkan otonomi melalui Undang-Undang Desentralisasi (Desentrasatie-wetgeving 1903).

Desentralisasi merupakan suatu kebijakan menyerahkan atau pengalihan tanggung jawab kewenangan kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

BERUBAH: Ruangan yang dulunya merupakan ruang kelas pada masa ELS, kini menjadi perpustakaan, ruang guru dan tata usaha di SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.
BERUBAH: Ruangan yang dulunya merupakan ruang kelas pada masa ELS, kini menjadi perpustakaan, ruang guru dan tata usaha di SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.

Desentralisasi ini kemudian membuat Probolinggo resmi disebut dengan Gemeente atau Kotamadya sejak 1918.

Hal ini dicatat dalam Stbl 322-1918 pada tanggal 1 Juli 1918. Dengan penetapan ini, sejak tahun 1918 Gemeente Probolinggo memiliki pemimpin yang disebut Asisten Residen.

Yakni seorang pimpinan di bawah keresidenan lain. Probolinggo sendiri berada di bawah Karesidenan Pasuruan.

Meski demikian, stratifikasi sosial pada era penjajahan tetap berlaku. Tak hanya dalam kehidupan sosial sehari-hari, namun juga terjadi dalam bidang pendidikan.

Orang Belanda dan keturunan Eropa memiliki akses yang lebih mudah ke pendidikan formal. Sementara orang pribumi, memiliki akses yang terbatas.

Pada masa itu, orang Belanda dan keturunan Eropa lainnya, ditempatkan di puncak hierarki sosial. Selanjutnya, diikuti oleh orang-orang Tionghoa. Baru kemudian orang pribumi.

Pribumi pun masih dibagi lagi menjadi beberapa lapisan. Seperti priyayi yang merupakan keturunan bangsawan Jawa hingga rakyat biasa.

“Orang pribumi yang tidak termasuk dalam kelompok priyayi, seperti petani, nelayan dan buruh, tidak bisa masuk ke sekolah yang didirikan oleh bangsa Belanda pada masa itu. Meraka hanya dapat mengakses pendidikan informal. Bisa lewat lembaga agama atau sekolah-sekolah pribadi,” ujar Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.

Probolinggo sendiri merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang mendapatkan perhatian dari pemerintah Hindia-Belanda dengan dibangunnya fasilitas pendidikan untuk masyarakat.

Alasan utama dibangunnya fasilitas pendidikan, yaitu untuk memenuhi kepentingan administrasi pemerintahan Gemeente Probolinggo.

Berdasarkan Jurnal Historica Vol 7 Nomor 2 Desember 2023 Universitas Jember, selama menjadi status gemeente, Probolinggo tercatat menyediakan fasilitas sekolah tingkat dasar dan lanjut.

Pada tahun 1929-1930 di Probolinggo, terdapat 7 sekolahan. Yaitu Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsche Inlandsche School (HIS), Hollandsche Chineesesche School (HCS), Schakelschool (sekolah rakyat), Volkschool (sekolah desa), Vervogschool (sekolah lanjutan) dan Voll. 2e kl. School (sekolah ongko loro).

PENINGGALAN BELANDA: Jendela-jendela besar pada ruang kelas 1A dan 2A di SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.
PENINGGALAN BELANDA: Jendela-jendela besar pada ruang kelas 1A dan 2A di SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.

 

Berdirinya ELS di Probolinggo

Sejak masuknya Belanda di Indonesia, sejumlah sekolah didirikan. Salah satunya Europeesche Lagere School (ELS). Yaitu sekolah dasar yang diperuntukkan hanya bagi keturunan Belanda saja.

Sekolah ini, menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa wajib dalam proses belajar mengajarnya.

ELS didirikan pertama kali di Weltevreden (Jatinegara) pada tahun 1817. ELS lantas makin berkembang hingga pada 1820 ada 7 sekolah ELS di Indonesia.

Dua diantaranya, berada di Batavia (Welterden da Molenvliet). Sementara lainnya, masing-masing berada di Cirebon, Semarang, Surakarta, Surabaya serta Gresik.

Namun sejak tahun 1830 ketika kekuasaan di Indonesia beralih ke tangan Gubernur Jenderal Van de Bosh, sekolah ini dikembangkan.

Hingga tahun 1868, ada 68 sekolah. Dan akhirnya pada 1917, sudah ada 198 sekolah di seluruh Indonesia, termasuk di Probolinggo.

Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, semula ELS hanya dibuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda.

Namun pada 1903, kesempatan belajar juga diberikan kepada warga Tionghoa dan pribumi keturunan priyayi.

“Tapi setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda memutuskan untuk ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda dan Eropa saja. Sebab dinilai berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan HCS,” terang Edi.

Ia menjelaskan, lama sekolah di ELS adalah 7 tahun. Selama itupula, para siswa memiliki dua tingkatan. Yakni pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan.

Pada pendidikan dasar, para siswa akan mendapat mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, Bahasa Belanda, sejarah Belanda dan Hindia Belanda, ilmu bumi, pengetahuan alam, menyanyi, menggambar serta olahraga.

Kemudian, untuk pendidikan lanjutan, akan diberi mata pelajaran Bahasa Prancis, Bahasa Inggris, sejarah umum, ilmu pasti, menggambar pertanian, olahraga dan pekerjaan tangan untuk siswa perempuan.

Edi menguraikan pada tahun 1929/1930, ELS Probolinggo memiliki murid sekitar 500 orang. Rinciannya, 262 peserta didik laki-laki dan 238 perempuan.

“Setelah menjadi sekolah ELS, dahulu sempat menjadi Sekolah Kamiswara namanya. Baru kemudian menjadi Sekolah Tisnonegaran 1 dan 2,” ujarnya.

KOKOH: Tampak kuda-kuda kayu yang masih kokoh menopang atap bangunan peninggalan Belanda di SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.
KOKOH: Tampak kuda-kuda kayu yang masih kokoh menopang atap bangunan peninggalan Belanda di SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo.

 

Menjadi SDN Tisnonegaran 1 Kota Probolinggo

Setelah pernah menjadi Sekolah Kamiswara, bangunan bekas ELS ini berubah menjadi SD Negeri Tisnonegaran 1 dan 2 Kota Probolinggo.

Baru kemudian dimerger menjadi SD Negeri Tisnonegaran 1 pada 2018. Dan kini, memiliki 12 kelas utama yang terdiri dari kelas 1 hingga 6 A dan B.

Salah seorang TU SD Negeri Tisnonegaran 1, Widyowati Hariyadi, mengatakan bahwa bangunan ELS masih ada yang dipertahankan hingga kini. Yaitu gedung tengah dan sisi utara.

“Dahulu, gedung tengah itu pernah digunakan sebagai ruang pengawas dan sanggar tari. Setelah pindah, kini dimanfaatkan sebagai kantor dan ruang guru. Sementara ruang sanggar tari, sekarang jadi perpustakaan. Lalu di baratnya lagi ada ruang penyimpanan buku-buku yang dulunya merupakan ruang kelas,” sampainya.

Sementara, teras yang dulunya tampak los, kini di sisi barat disekat tembok dan akhirnya menjadi ruangan BK.

Kemudian untuk bangunan sisi utara yang masih tampak arsitektur zaman Belanda-nya dengan jendela-jendela lebar dan kuda-kuda kayu, kini ruangan tersebut digunakan sebagai ruang kelas 1A dan 2A.

“Sisi selatan juga ada bangunan lama, namun sudah direnovasi. Sehingga sekarang tampilannya sudah baru. Tapi kalau yang tengah dan utara, memang kami pertahankan. Karena memiliki nilai cagar budaya,” katanya

Dalam sebuah ruangan, foto kepala sekolah yang pernah menjabat di SD Negeri Tisnonegaran 2, terpajang.

Mulai dari Sulastri, Mistar, Hj. Trisnawati, H. Ganyong Suyudi, Sanusi, H. Supardi, Rita, Agus Lithanta dan Nanik.

Selain kegiatan belajar, murid-murid juga dapat mengikuti sejumlah ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Seperti basket, voli, hadrah hingga karate. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#belanda #sdn tisnonegaran 1 #bangunan kuno #sekolah #probolinggo