Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Bong Kasri, Bangunan Belanda untuk Distribusi Air Bersih

Rizal Syatori • Minggu, 12 Januari 2025 | 20:25 WIB
BERSEJARAH: Bangunan Bong Kasri yang berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah, yang merupakan peninggalan Belanda.
BERSEJARAH: Bangunan Bong Kasri yang berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah, yang merupakan peninggalan Belanda.

SEBUAH bangunan tua berdiri di perkampungan warga Lingkungan Kasri, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan.

Bentuknya persegi empat dengan kondisi menjulang ke atas. Persis seperti menara mini. Disebut-sebut, bangunan tersebut merupakan bagian dari sejarah.

Berukuran 3x3 meter, bangunan tersebut memiliki tinggi sekitar 4 sampai 5 meter. Bangunannya terbuat dari material batu. Warga menyebutnya dengan nama bong.

“Karena berada di Lingkungan Kasri, maka lebih dikenal dengan sebutan Bong Kasri,” ungkap Dadang Priyatno, 63, tokoh masyarakat di Lingkungan Kasri, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan.

Dadang mengaku, tak mengetahui pasti kapan Bong Kasri dibangun. Namun, banyak yang percaya, kalau bangunan tersebut didirikan pada era penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1900-an.

TERJAGA: Dibangun pada 1900-an, kondisi Bong Kasri tetap terjaga. Masyarakat setempat melestarikannya.
TERJAGA: Dibangun pada 1900-an, kondisi Bong Kasri tetap terjaga. Masyarakat setempat melestarikannya.

“Pembangunannya direalisasikan setelah Tandon Air Pelintahan didirikan. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Antara tahun 1903 hingga 1905,” sampainya.

Tidak banyak referensi tentang Bong Kasri tersebut. Sepanjang yang diketahuinya, Bong Kasri merupakan tempat untuk pengaturan air bersih. Airnya berasal dari tandon air di Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan.

“Ada pintu besi, sebagai masuk dan keluar ke Bong Kasri. Setiap harinya, bong ini dikunci dengan gembok dari luar,” bebernya.

Kini, bangunan tersebut bisa dikatakan masih utuh. Bahkan, kondisinya terawat dengan baik. Warga sekitar, turut melestarikannya.

“Bahkan, setiap kali ada panggung gembira, seperti peringatan Agustusan. Tembok sisi sebelah utara Bong Kasri, digunakan sebagai background panggungnya,” ucapnya.

 

Menjadi Lokasi Pertempuran

Di sisi utara bangunan Bong Kasri, terdapat sumur tua. Letaknya, sekitar 1,5 meter hingga 2 meter dari bong tersebut. Sumur tersebut disebut-sebut sudah ada sejak zaman Belanda.

“Sumur tersebut sudah tua seperti halnya bangunan Bong Kasri yang didirikan di era penjajahan Belanda,” jelas Dadang Priyatno, 63, tokoh masyarakat setempat.

Dahulu, bangunan sumur tua itu, terbuka. Bentuknya persegi. Dengan panjang sekitar tiga meter.

Sementara lebarnya, sekitar dua meter. Kini, bangunan sumur tua itu, kondisinya sudah tertutup. Penutupan itu dilakukan sekitar tahun 1988-1989.

BERFUNGSI: Valev dan pipa air yang ada di dalam Bong Kasri. Melalui pipa tersebut, air dari Tandon Air Plintahan dialirkan ke pelanggan.
BERFUNGSI: Valev dan pipa air yang ada di dalam Bong Kasri. Melalui pipa tersebut, air dari Tandon Air Plintahan dialirkan ke pelanggan.

“Waktu dibuka dahulu, airnya ditimba untuk dijual. Seperti ke terminal dan lainnya di wilayah Kelurahan Petungasri. Setelah ditutup, hanya dimanfaatkan oleh warga sekitar,” timpalnya.

Menurut Dadang, diantara sumur tua dan Bong Kasri, dahulu pernah menjadi tempat pertempuran, para gerilyawan dari Kasri. Mereka bertempur melawan tentara Belanda.

“Bahkan, dalam pertempuran tersebut, ada satu tentara Belanda yang tewas. Cerita itu, diperoleh kami secara turun temurun,” sambungnya.

 

Aset Milik PDAM Kota Surabaya

Meski berada di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, aset Bong Kasri bukanlah milik Pemkab Pasuruan.

Melainkan milik PDAM Kota Surabaya. Keberadaan bong tersebut, dimanfaatkan oleh Permudam Giri Nawa Tirta Kabupaten Pasuruan.

“Asetnya milik PDAM Kota Surabaya. Sementara untuk pemanfaatan Bong Kasri, dilakukan Perumdam Giri Nawa Tirta Kabupaten Pasuruan,” jelas Eko Christian selaku Kabag Teknik Perumdam Giri Nawa Tirta Kabupaten Pasuruan.

Menurut Eko, bangunan Bong Kasri, berisi valev-valev dan pipa untuk mengalirkan air ke masyarakat ataupun pelanggan.

Seperti ke Terminal Tipe A Pandaan. Juga Pasegan dan sekitarnya. Sedangkan airnya, berasal dari Tandon Air Plintahan.

“Valev dan pipanya merupakan pengadaan baru, tahun 2022 lalu. Meski begitu, ada satu pula pipa yang merupakan peninggalan Belanda. Namun tak lagi difungsikan,” bebernya.

Ia menambahkan, air dari Tandon Pelintahan tak hanya menjadi sumber untuk kebutuhan pelanggan di wilayah Pandaan.

Tetapi juga, dialirkan ke Surabaya. Meski saat ini, tidak lagi melewati Bong Kasri.

Melainkan, langsung didistribusikan dengan melalui pipa besar, yang ditanam di tanah.

Cara kerjanya, melalui proses gravitasi. Dengan melewati Tandon Air di Toyoarang, Desa Sumberejo, Kecamatan Pandaan dan Tandon Air Tamanan, Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol.

Eko menuturkan Bong Kasri dimanfaatkan oleh Perumdam Giri Nawa Tirta Kabupaten Pasuruan, sejak tahun 1983 lalu hingga sekarang.

“Di dalam bangunan Bong Kasri, tidak ada sumber air dan bukan juga tandon air. Hanya ada valev dan pipa saja, untuk dialirkan ke pelanggan,” tegasnya. (zal/one)

Editor : Jawanto Arifin
#sejarah #PDAM #peninggalan belanda