SEBELUM dikenal sebagai wilayah lumbung padi, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan dahulu merupakan penghasil tebu.
Tebu-tebu tersebut ditanam untuk kemudian diproduksi sebagai gula. Tak heran, jika di desa setempat, dahulu terdapat banyak jalur kereta lori atau trem.
Bahkan, ada pula jembatan trem di wilayah setempat. Jembatan tersebut melintas di atas sungai yang lokasinya berada di Dusun Kembang Kuning, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.
Warga menyebutnya dengan nama Jembatan Trem Kembang Kuning. Penamaan tersebut, tak lepas dari lokasinya yang berada di Dusun Kembang Kuning.
Kepala Desa Senongagung, Kecamatan Purwosari, M. Atim Salim mengatakan, Jembatan Trem Kembang Kuning dibangun pada era kolonial Belanda.
Dahulu, jembatan trem tersebut, melintang sepanjang 125 meter. Menghubungkan antara Dusun Kembang Kuning dengan Dusun Sengon Krajan, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.
“Mengapa warga menyebutnya Jembatan Trem Kembang Kuning, karena memang lokasinya berada di dusun setempat,” ungkap Atim.
Saat memasuki musim panen, tanaman tebu di Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, yang telah ditebang, diangkut menggunakan kereta trem atau lori.
Tebu-tebu tersebut dibawa ke pabrik gula yang ada di Dusun Puntir, Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari.
Menurut Rustamaji, 63, tokoh masyarakat Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, jembatan trem di wilayah setempat telah berubah. Tidak lagi utuh seperti saat zaman kolonial Belanda.
“Setelah Indonesia merdeka, jembatan trem tersebut sudah tidak ada lagi. Hanya menyisakan fondasi penyangga. Tahun berapa jembatan tersebut tidak ada, kami tidak tahu pasti. Sebab, saat saya masih kecil, sudah tersisa fondasi penyangga saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, jejak yang tersisa dari geliat jalur produksi tebu di desa setempat, memang hanya fondasi penyangga jembatan trem. Karena untuk jalur kereta trem, sudah tidak ada lagi.
Total, ada lima tiang penyangga jembatan trem di wilayah setempat. Dua tertanam dan hanya terlihat pendek.
Sementara, tiga tiang penyangga lainnya, tampak tinggi menjulang. “Bentuknya segi empat. Materialnya terbuat dari batu kali. Semuanya masih utuh,” sampainya.
Meski begitu, fondasi penyangga Jembatan Trem Kembang Kuning ini, kondisinya tampak tak terawat.
Banyak tanaman liar tumbuh, di sekelilingnya. Seperti rumput, bambu dan tanaman liar lainnya.
Sempat Dimanfaatkan Panjat Tebing
Tiga fondasi penyangga Jembatan Trem Kembang Kuning, memang memiliki ukuran besar dan menjulang tinggi.
Bangunan bersejarah tersebut, pernah dimanfaatkan kalangan mahasiswa dari Universitas Yudharta untuk spot panjat tebing.
Kebetulan, lokasi kampung Universitas Yudharta Pasuruan, tidak terlalu jauh. Hanya berjarak sekitar 250-300 meter dari Jembatan Trem Kembang Kuning.
“Di sekitaran jembatan trem ini, dahulu kan pernah ada eduwisata. Termasuk river tubing. Nah, keberadaan fondasi jembatan trem di sisi timur, pernah dijadikan panjat tebing atau panjat dinding oleh mahasiswa dari Yudharta. Namun sekarang, memang sudah tidak lagi,” kata Rustamaji, 63, tokoh masyarakat Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.
Fondasi trem tersebut, memang cocok untuk dijadikan spot panjat tebing. Karena materialnya terbuat dari pasangan batu kali sehingga tidak licin.
“Selain itu, juga cukup tinggi menjulang. Ketinggiannya, kurang lebih mencapai 10 meter,” papar dia.
Terdapat Terowongan Air yang Jadi Tempat Persembunyian Warga saat Perang
Tak jauh dari Jembatan Trem Kembang Kuning, terdapat terowongan air. Jaraknya, sekitar 25 hingga 30 meter dari jembatan trem tersebut.
Terowongan air ini, dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Sama seperti dengan jembatan trem yang ada di wilayah setempat.
“Terowongan tersebut berfungsi sebagai tempat persembunyian warga. Ketika ada pertempuran dengan tentara Belanda. Bisa dikatakan, fungsinya sebagai bunker,” urai Rustamaji, 63, tokoh masyarakat Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.
Terowongan tersebut dibangun dengan fondasi dari batu. Sementara temboknya, terbuat dari material bata merah. Panjangnya 25 meter. Sementara tingginya, mencapai 1,25 meter.
“Terowongan itu, memiliki lebar 1 meter. Sehingga dahulu, kalau orang dewasa masuk, harus berjalan menunduk,” jelasnya.
Namun, tak ada lagi yang berani masuk ke dalam terowongan. Baik itu anak-anak maupun kalangan dewasa. Karena mereka takut, ada ular ataupun hewan liar lainnya. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin