JALAN merupakan salah satu infrastruktur penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada masa Belanda.
Jalan raya memudahkan mobilitas pasukan dan barang antara kota-kota penting, mengubah kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat secara besar-besaran.
Serta melahirkan banyak pedagang yang mencari peruntungan dari pasar dan toko yang dibangun sepanjang jalan. Banyak nama-nama jalan. Tak terkecuali di Probolinggo.
Pada masa kolonial, nama jalan mengunakan berbagai istilah dalam Bahasa Belanda. Seperti straat, weg, laan, gang, dan passage.
Salah satu jalan raya yang pernah dibangun pada masa penjajahan Belanda adalah Jalan Raya Pos atau Groote Postweg.
Jalan sepanjang seribu kilometer ini, membentang dari barat ke timur Pulau Jawa, termasuk di Kota Probolinggo.
Jalan ini yang kini serang disebut Jalan Panglima Sudirman oleh warga Kota Probolinggo.
Groote Postweg sangat kental dengan nama Herman Willem Daendels, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Kendati demikian, menurut FW Stapel dalam Geschiendenis van Nederlandsch Indie (1940), Jalan Raya Pos ini sudah ada sebelum masa Daendels.
Namun ketika menjabat, Daendels lantas memperbaikinya, melakukan perkerasan dan menghubungkan jalan tersebut dengan jalan-jalan desa.
Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, klasifikasi jalan di Kota Probolinggo terbagi menjadi 4 kelas.
Berdasarkan koran kuno De Indische Courant edisi tanggal 29 Januari 1935 Wali Kota Probolinggo pertama, Ferdinand Edmond Maijer mengusulkan jalan kelas I, kelas II, kelas III, dan kelas IV dengan persetujuan Komisi Keuangan kepada Dewan Kota Probolinggo.
“Hal ini bertujuan untuk menghitung pajak jalan sesuai kapasitas jalan dan kepentingannya,” tutur Edi.
Selain Groote Postweg yang masuk dalam jalan kelas I, ada beberapa jalan yang masuk dalam kelas yang sama.
Seperti Heerenstraat, Zeestraat, Chineesche Voorstraat, Paradijsstraat, Paradijsstraat van Groote Postweg af tot Oosterstraat, dan Passerdwarsstraat.
“Jalan Chineesche Voorstraat atau Jalan Pecinan disematkan karena di sekitar tersebut, banyak ditinggali oleh masyarkat Cina. Mereka juga banyak melakukan aktivitas perdagangan di sana. Mengingat dahulu jalan tersebut juga dekat dengan jalur perdagangan melalui sungai menuju pelabuhan,” imbuh Edi.
Pada jalan kelas II ada jalan Bromostraat, Arabische Voorstraat, Gang Pen, Missigitlaan, Gevangenislaan, Passerstraat van Oosterstraat af tot Verlengde Regentstraat, Klentengstraat, Spoorstraat, Regentstraat, Schoolstraat van Bromostraat af tot Klentengstraat, Landraadstraat, Zuiderstraat, Boomstraat, Oosterstraat van Chineesche Voorstraat af tot Klentengstraat, Verlengde Regentstraat van Chineesche Voorstraat af tot Klentengstraat en Ketapanweg, Groote Postweg van de Westgrens van de gemeente af tot den Achterweg, dan Groote Postweg van de S. S.-kruising- halte Djati af tot de Oostgrens van de gemeente.
“Dinamakan Spoorstraat karena di lokasi tersebut, ada rel kereta api dan stasiun. Sementara Regentstraat artinya Jalan Pemerintahan. Di jalan inilah, dahulu letak pusat tatanan dan Pemerintahan Kota Probolinggo,” tambah Edi.
Sementara pada jalan kelas III ada Nieuwstraat, Jongstraat, Verlengde Zeestraat, Westerstraat, Maleische straat, Middenstraat, Wonoasihweg, Verlengde Chineesche Voorstraat, Bentengweg, Passage-west, Station Karrenweg, Noordstraat, Soemberpatjarweg, dan Loemadjangweg.
“Penamaan Zeestraat atau yang berarti Jalan Laut, dikarenakan jalan tersebut menuju pelabuhan. Sedangkan jalan Maleische straat yang artinya Jalan Kampung Melayu, karena dahulu di sana banyak bermukim etnis Melayu. Middenstraat yang artinya Jalan Tengah, ini karena dahulu Kota Probolinggo terbagi menjadi bagian timur dan barat. Sementara jalan tersebut berada di tengah-tengahnya,” sampainya.
Kemudian untuk jalan kelas IV ada Tisnoweg, Lombokanweg, Gajamweg, Sapianweg, Kebonsariweg, Serangweg, Kerkhoflaan, 1e Djatilaan, Verlengde Regentstraat van Klentengstraat en Ketapanweg af tot de gemeentegrens, Ketapanweg, Gang Keles I, Gang Keles II, Gang Keles III, Schoolstraat van Klentengstraat af tot de 1e Djatilaan, Achterweg, Karrenstraat, Karrenweg, Havenstraat, Passage-Oost, Somberkarengweg dan Weg achter Europeesche Begraafplaats van Klentengstraat af tot de 1e Djatilaan.
Edi mengatakan, bahwa dari sekitar 60 nama jalan berbahasa Belanda tersebut, hanya Gang Keles I, Gang Keles II, Gang Keles III yang tak berubah hingga sekarang. Dinamakan gang atau Kampung Keles, sebab di sana ada Lapas.
“Dalam Bahasa Belanda tempat untuk mengamankan baik itu berangkas atau Lapas juga dapat disebut dengan istilah kluis. Sehingga diperkirakan nama keles itu berasal dari kosa kata Bahasa Belanda yakni kluis yang artinya aman atau berangkas,” katanya.
Diubah untuk Mengobarkan Semangat Kemerdekaan
Penamaan jalan adalah suatu julukan yang diberikan, untuk mengidentifikasi suatu jalan. Sehingga dapat dengan mudah dikenali dan dicantumkan dalam peta jalan.
Penggantian nama jalan berbahasa Belanda, sejatinya mulai terjadi sejak pendudukan Jepang. Namun tujuannya, untuk merangkul seluruh rakyat Indonesia.
Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, nama-nama jalan di Kota Probolinggo, sempat beberapa kali mengalami perubahan.
Seperti Zeestraat menjadi Jalan Laut, Chineesche Voorstraat jadi Jalan Pecinan, Paradijsstraat jadi Jalan Surga atau Firdaus, Arabische Voorstraat jadi Jalan Arab, Missigitlaan jadi Jalan Masjid serta Gevangenislaan jadi Jalan Penjara.
Selain itu, ada pula Klentengstraat jadi Jalan Klenteng, Spoorstraat jadi Jalan Stasiun, Regentstraat jadi Jalan Bupati, Landraadstraat jadi Jalan Pengadilan, Jongstraat, jadi Jalan Muda, Maleische straat jadi Jalan Melayu, Middenstraat jadi Jalan Tengah, Bentengweg jadi Jalan Benteng dan lain yang lainnya.
Kemudian saat Indonesia merdeka, Presiden Soekarno ingin melenyapkan semua hal yang berbau kolonial.
Semua jalan yang masih menggunakan nama Belanda, diubah oleh Soekarno. Proklamator Indonesia itu, ingin mengobarkan semangat kemerdekaan kepada seluruh rakyat.
Edi menjelaskan, pemberian nama jalan dapat berasal dari nama-nama pahlawan, nama hewan, nama bunga, nama kota dan nama tokoh berpengaruh yang tinggal di kawasan tersebut.
Jalan sering dinamai sesuai nama pahlawan nasional maupun lokal untuk menghormati jasa mereka. Seperti Jalan Soekarno Hatta, Jalan Pattimura, Jalan Cut Nyak Dien.
Beberapa jalan juga dapat menggunakan nama hewan yang khas atau simbolis bagi masyarakat setempat.
Ada pula nama bunga yang populer digunakan terutama di area perumahan atau kompleks tertentu seperti Jalan Melati, Jalan Mawar, atau Jalan Kenanga.
“Sebagian juga menggunakan nama kota, provinsi atau pulau di Indonesia sebagai cara untuk mengingatkan tentang kekayaan geografi nusantara. Contohnya Jalan Sumatera, Jalan Bali, atau Jalan Jakarta. Termasuk penggunaan nama-nama tokoh berpengaruh atau berjasa di bidang tertentu,” ujarnya.
Paska kemerdekaan, nama-nama jalan di Kota Probolinggo kembali mengalami perubahan.
Groote Postweg jadi Jalan Panglima Sudirman, Heerenstraat jadi Jalan Suroyo, Zeestraat jadi Jalan dr Mohammad Saleh, Chineesche Voorstraat jadi Jalan dr Sutomo, Paradijsstraat jadi Jalan Suyoso, dan Passerdwarsstraat jadi Jalan Brigjen Katamso.
Kemudian Bromostraat jadi Jalan D.I Panjaitan, Arabische Voorstraat jadi Jalan dr. Wahidin, Gang Pen jadi Jalan Kolonel Sugiono, Missigitlaan jadi Jalan KH Agus Salim, Gevangenislaan jadi Jalan Trunojoyo, Klentengstraat jadi Jalan WR Supratman, Spoorstraat jadi Jalan KH. Mansyur, Regentstraat jadi Jalan Ahmad Yani, Schoolstraat van Bromostraat af tot Klentengstraat jadi Jalan Imam Bonjol, Landraadstraat jadi Jalan Diponegoro, Zuiderstraat jadi Jalan Pahlawan, dan Oosterstraat van Chineesche Voorstraat af tot Klentengstraat jadi Jalan Teuku Umar.
“Lalu Jongstraat jadi Jalan Prajurit Siaman, Verlengde Zeestraat jadi Jalan Ikan Hiu, Maleische straat jadi Jalan Wahidin, Wonoasihweg jadi Jalan HOS Cokroaminoto, Bentengweg jadi Jalan Lumba-lumba, Passage-west jadi Jalan Nusa Indah, Station Karrenweg jadi Jalan Ikan Belanak, Noordstraat jadi Jalan Ikan Tengiri, dan Loemadjangweg jadi Jalan KH Hasan Genggong,” ujar Edi.
Sedangkan, Tisnoweg jadi Jalan Sutan Syahrir, Kebonsariweg jadi Jalan KH. Abdul Hamid, Serangweg jadi Jalan Slamet Riyadi, Kerkhoflaan jadi Jalan Letjend Suprapto, 1e Djatilaan jadi Jalan Gatot Subroto, Verlengde Regentstraat van Klentengstraat en Ketapanweg af tot de gemeentegrens jadi Jalan Basuki Rahmad, Ketapanweg jadi Jalan Pattimura, Achterweg jadi Jalan Anggrek, Somberkarengweg jadi Jalan Brantas, dan Weg achter Europeesche Begraafplaats van Klentengstraat af tot de 1e Djatilaan jadi Jalan Cut Mutiah. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin