Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah dan Perkembangan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel di Probolinggo

Inneke Agustin • Minggu, 13 Oktober 2024 | 21:35 WIB
HITAM PUTIH: Pater Elias Wouters berfoto di depan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel.
HITAM PUTIH: Pater Elias Wouters berfoto di depan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel.

PROBOLINGGO, Radar Bromo - Masuk dan berkembangnya agama Katolik di Indonesia dibagi menjadi tiga bagian waktu.

Yakni sebelum kolonialisme Belanda sekitar abad ke-7, saat kolonialisme Belanda sekitar tahun 1534 dan setelah kolonialisme Belanda sekitar abad ke 20.

Katolik Roma pertama tiba pada 1534 di Kepulauan Maluku melalui bangsa Portugis dan Spanyol yang berdagang rempah-rempah.

Di Indonesia, ada orang pertama yang menjadi Katolik setelah menerima pemberitaan Injil.

Mereka adalah Kolano (kepala kampung), Mamuya (di Halmahera, Maluku Utara), bersama sebagian besar warga kampungnya yang dibabtis seorang pedagang Portugis, Gonzalo Veloso pada 1534.

DULU: Tampak depan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo tempo dulu.
DULU: Tampak depan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo tempo dulu.

Peristiwa ini menjadi titik tolak peringatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia pada 1984.

Buku Gereja Katolik Indonesia Jilid I yang diterbitkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menjelaskan, ada juga P. Simon Faz OFM yang membaptis lebih dari 5.000 orang di Halmahera sekitar tahun 1534.

Salah seorang misionaris besar, Santo Fransiskus Xaverius juga membaptis beberapa ribu penduduk di pulau Ambon, Saparua, dan Ternate pada 1546 hingga 1547.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), sebanyak 8,6 juta penduduk Indonesia memeluk agama Katolik hingga akhir tahun 2023.

Sementara, Gereja Katolik di Indonesia, tersusun dalam 10 keuskupan agung metropolit, 28 keuskupan sufragan dan satu ordinat militer, yang seluruh uskupnya tergabung dalam organisasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Di Probolinggo sendiri, agama Katolik masuk sekitar 1924. Hal ini seiring kehadiran Pater Elias Wouters di Probolinggo sebagai pastur pertama.

Pastur Ketua Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, Rm. F.X. Agis Triatmo mengatakan, tahun ini Gereja Paroki Maria Bunda Karmel telah genap berusia 100 tahun. Artinya gereja tersebut telah dibangun sejak tahun 1924.

Pembangunannya tercatat dalam Misi Ordo Karmel yang terdapat di Perpustakaan Ordo Karmel Provinsi Belanda.

Diketahui, Ordo Karmel atau yang bahasa latinnya Ordo Fratrum Beatissimae Virginis Mariae de Monte Carmelo merupakan salah satu ordo keagamaan Katolik dari Katolik Roma yang didirikan pada abad ke 12 oleh para rohaniawan di Gunung Karmel.

Para rohaniawannya pun biasanya menyandang nama O.Carm di belakang namanya.

Di Indonesia Ordo Karmel masuk pada 1511. Tepat saat kedua anggotanya, yakni Dionisius dan Redemptus ikut serta dalam suatu kelompok dagang Portugis mengunjungi Aceh dari Malaka.

“Dalam catatan berbahasa Belanda tersebut dijelaskan, bahwa pada 7 April 1924 Pater Elias Wouters tiba di Probolinggo sebagai pastur pertama.

Dan secara resmi dilantik oleh Pemimpin Misi, Pater Clemens van der Pas, O.Carm. Sementara Pater Linus Henekens, menjadi kapelannya yang bertanggung jawab atas perjalanan dinas pastur ke Besuki dan Madura,” jelas Rm. F.X. Agis Triatmo.

MEGAH: Gereja Paroki Maria Bunda Karmel di Probolinggo yang tampak begitu megah, seiring dengan beberapa rehabilitasi yang dilakukan.
MEGAH: Gereja Paroki Maria Bunda Karmel di Probolinggo yang tampak begitu megah, seiring dengan beberapa rehabilitasi yang dilakukan.

Hal tersebut diperkuat dengan penjelasan Bapa Uskup Keuskupan Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O. Carm dan Vikaris Yudisial Keuskupan Malang, RD. Alfonsus Catur Raharso yang disampaikan dalam pertemuan Keuskupan Malang, pada Selasa (28/11) tahun lalu.

Mereka menjelaskan, bahwa dasar berdirinya sebuah paroki dapat ditinjau dari pengangkatan seorang pastor sebagai Pastor Kepala Paroki atau baptisan awal di paroki yang bersangkutan.

Sementara itu, warga paroki yang telah dibabptis sebelum paroki berdiri, disebut pioneer atau perintis.

Rm. F.X. Agis Triatmo mengatakan, bahwa Romo Pater Elias Wouters dan Pater Linus Henekens memang ditugaskan untuk mendirikan paroki baru di Probolinggo dan mengadakan perjalanan-perjalanan dinas di daerah sekitarnya.

Pertama-tama, mereka mendirikan gereja kecil dan perumahan yang pantas bagi para imam.

“Pembangunannya sudah mulai dilaksanakan sejak 27 Agustus 1924. Pada tanggal 27 Desember 1924, gereja dan pastoran sudah dapat digunakan. Gereja ini lantas dinamakan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel, sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria dengan gelar Bunda Tercinta di Gunung Karmel,” ujarnya.

Pada 17 Desember 1924, pemberkatan dan peresmian Gereja Paroki Maria Bunda Karmel dilakukan oleh Pater Clemens van der Pas, O.Carm bersama Pater Linus Henekens, O.Carm dan Pater De Bakere, CM.

 

Perkembangan Agama Katolik di Sektor Pendidikan

Perkembangan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel semakin mewarnai Kota Probolinggo. Khususnya setelah kehadiran para suster Santa Perawan Maria (SPM) yang bergerak di bidang pendidikan.

Para suster tersebut hadir atas permohonan RP. Ellias Wouters kepada RP. Cyprianus Verbeek, O.Carm selaku Provinsial Ordo Karmel Belanda tertanggal 25 Maret 1926.

Surat tersebut kemudian diterima oleh pemimpin tertinggi Kongregasi para Suster SPM saat itu, yakni Sr. Marie Philomena SPM. Ia membaca surat itu dan percaya SPM dapat melaksanakan karya-Nya.

“Beliau (Sr. Marie Philomena SPM) saat itu berpikir. Kabar tersebut untuk kepentingan gereja, terlebih diterima pada Pesta Maria menerima kabar gembira. Sehingga boleh dikesampingkan begitu saja. Beliau pun mempertimbangkan dan merenungkan permohonan itu. Bahkan membicarakannya dengan para penasihat. Ternyata, Tuhan memperlihatkan kehendak-Nya dalam hal ini,” jelas Pastur Ketua Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, Rm. F.X. Agis Triatmo.

Pada 11 Oktober 1926, tujuh misionaris Suster SPM pun tiba di Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo.

Pater Clemens van der Pas, O.Carm pun memberi sambutan dan ucapan selamat datang.

Acara tersebut juga dihadiri oleh para pejabat pemerintah di Probolinggo seperti Kepala Pemerintah Daerah, Bupati, dan Asisten Residen.

Rm. F.X. Agis Triatmo menjelaskan, para suster SPM memulai pelajaran-pelajaran privat untuk mengenal keluarga-keluarga di paroki Maria Bunda Karmel pada 3 November 1926. Kegiatan berlanjut dengan membuka sekolah TK pada 1 Desember 1926.

“Mulanya, jumlah murid hanya 9 orang. Di mana, 5 orang keturunan Belanda dan 4 lainnya keturunan Tionghoa. Lalu meningkat pada 15 Desember 1926 menjadi 24 orang,” tuturnya.

Pergerakan di bidang pendidikan terus digencarkan. Hingga pada 6 Januari 1927 dibuka sekolah rendah ELS (Europese Lagere School)/SDK Mater Dei.

Dilanjutkan dengan pendirian SMPK Mater Dei pada 1 Agustus 1948, dan SMAK Mater Dei pada 1 Agustus 1957.

Tak hanya bangunan sekolah, untuk melengkapi sarana para murid juga dibangun asrama purti pada 1 Agustus 1929, dan asrama putra pada 1 Agustus 1940.

 

Perkembangan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel

Gereja Paroki Maria Bunda Karmel ini, termasuk dalam wilayah Keuskupan Malang. Wilayah Keuskupan Malang sendiri, meliputi wilayah seluas 24.409 kilometer persegi.

Mencakup Provinsi Jawa Timur bagian timur seperti kawasan Malang Raya, Pulau Madura, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kota Pasuruan, dan Kota Probolinggo.

Perkembangan fisik Gereja Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, mengalami beberapa kali renovasi.

Pada 1979, gedung gereja direnovasi dengan mengubah teras depan menjadi ruangan.

PRASASTI: Pastur Ketua Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, Rm. F.X. Agis Triatmo menunjukkan prasasti pembangunan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel.
PRASASTI: Pastur Ketua Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, Rm. F.X. Agis Triatmo menunjukkan prasasti pembangunan Gereja Paroki Maria Bunda Karmel.
LONCENG: Pater Elias Wouters (kiri) dan Pater Linus Henekens berfoto dengan lonceng Gereja Paroki Maria Bunda Karmel dan Gereja Paroki Santo Yusuf, Jember.
LONCENG: Pater Elias Wouters (kiri) dan Pater Linus Henekens berfoto dengan lonceng Gereja Paroki Maria Bunda Karmel dan Gereja Paroki Santo Yusuf, Jember.

Kemudian pada 2002, ditambah ruang sakristi baru sekaligus diperindah interior ruang altarnya.

Sehingga, luas keseluruhan bangunan termasuk sakristi dan balkon menjadi 407 meter persegi dengan kapasitas 300 orang.

Setelah 86 tahun didirikan, gedung gereja tetap kokoh dan bagus. Kondisinya pun masih layak pakai.

Namun perkembangan jumlah umat yang sudah lebih dari 3.000 jiwa menuntut gedung gereja, diperluas lagi.

“Karena ada perkembangan jumlah jemaah juga saat kepemimpinan RP. Anton Setyo Darmanto, O.Carm maka gedung gereja dibongkar total atas izin Mgr. H.J. Pandoyoputro, O.Carm pada 2010. Supaya kapasitasnya menjadi lebih besar. Ini juga disertai Surat Keputusan Walikota Probolinggo nomor 503/053/425.202/2010 tentang IMB Perluasan Bangunan Gedung Gereja Katolik Bunda Karmel Probolinggo,” papar Pastur Ketua Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo, Rm. F.X. Agis Triatmo.

Pembangunan dimulai sejak 11 Juli 2010 tepat ketika perayaan Ekaristi. Mgr. H.J.S. Pandoyoputro, O.Carm meletakkan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan perluasan gedung.

Setelah renovasi rampung, RD Josephus Cuperano Eko Atmono selaku Vikjen Keuskupan Malang didampingi RP Anton Setyo Darmanto, O.Carm selaku Pastor Kepala Paroki Maria Bunda Karmel dan RP Ignatius Joko Purnomo, O.Carm selaku Provinsi Ordo Karmel Indonesia pun, memberkati gedung gereja baru pada 3 Februari 2013.

“Sehingga kini, luas keseluruhan gereja baru termasuk sakristi dan balkon menjadi 1.126 meter persegi,” jelas Rm. F.X. Agis Triatmo. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#gereja #Kota Probolinggo