Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah PMI di Kota Pasuruan, Terbentuk Pada Era Hindia Belanda, Eksis Hingga saat Ini

Fahrizal Firmani • Senin, 12 Agustus 2024 | 19:25 WIB
TEMPAT DONOR: Kondisi kantor PMI Kota Pasuruan yang kini lebih menawan. Bangunan tersebut memang berubah, seiring dengan adanya pembangunan.
TEMPAT DONOR: Kondisi kantor PMI Kota Pasuruan yang kini lebih menawan. Bangunan tersebut memang berubah, seiring dengan adanya pembangunan.

KEBERADAAN Palang Merah Indonesia (PMI) di Kota Pasuruan, memiliki sejarah yang panjang. Bahkan, pembentukannya dilakukan, sebelum Indonesia merdeka.

Tepatnya, pada 12 Februari 1937 silam. Eksistensi dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat, terus terjaga hingga sekarang.

Pendirian PMI di Kota Pasuruan, tak lepas dari peranan para dokter yang ada di kota setempat.

Maklum, pendirian PMI merupakan inisiasi dari para dokter di Pasuruan. Salah satunya, dr R. Soedarsono.

Saat pertama kali dibentuk, organisasi ini bernama “Palang Merah Hindia Belanda di Pasuruan”. Saat itu, hanya ada dewan direksi. Karena anggota, belum direkrut. Gedung berlokasi di selatan RSUD dr R. Soedarsono.

BERITA: Koran terbitan Belanda yang memberitakan soal PMI Pasuruan.
BERITA: Koran terbitan Belanda yang memberitakan soal PMI Pasuruan.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan di awal pendirian PMI, organisasi ini fokus memberikan kursus pertolongan pertama.

Kursus untuk warga Eropa, dipimpin oleh dr. L.J.J. de Wolf. Sedangkan warga pribumi di bawah bimbingan dr R. Soedarsono.

Kursus ini dilakukan seminggu sekali di balai kota Pasuruan. Mereka yang menjadi anggota PMI, bisa mengikuti kursus secara gratis.

Kursus tanpa biaya tersebut, diharapkan bisa menarik minat banyak orang untuk terlibat.

Pemberian kursus dilakukan, sejak Maret. Sebulan setelah pendirian PMI.

Agar kepanitian organisasi ini semakin dikenal, diputuskan pula untuk memperluas kepanitiaan dengan anggota Cina.

“Perluasan kepanitian ini, ditujukan pula, agar salah satu kelompok penduduk penting masa itu, juga terwakili di dewan pengurus PMI,” ceritanya.

Pasca kemerdekaan, organisasi ini juga langsung bekerja aktif. Walau dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Pimpinan lokal diketuai oleh Poerwoto dengan tenaga medis dr R Soedarsono beserta 15 orang staff.

Gedung tua bekas klinik Palang Merah ini, masih berdiri hingga awal tahun 2000-an. Sebelum akhirnya dibongkar dan diganti dengan gedung baru.

Berlokasi di sebelah selatan RSUD dr R. Soedarsono.

“Lokasi gedung PMI Kota Pasuruan ini, tidak pernah berubah sejak awal berdiri. Berlokasi di Jalan Untung Suropati tepat selatan RSUD,” tutur Budiman.

 

Sempat Menjadi Poliklinik Rawat Jalan

Pasca kemerdekaan, PMI tidak hanya bertugas di bidang sosial kemanusiaan. Seperti kesiapsiagaan bantuan dan penanggulangan bencana.

Melainkan juga berfungsi sebagai klinik pengobatan bagi masyarakat.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, harian terbitan Belanda Eindhovensch Dagblad, sempat melaporkan aktivitas PMI kala itu.

Laporan ini tertulis dalam edisi 10 Desember 1947.

Disebutkan dalam surat kabar tersebut, pada 22 November 1947, terlihat kesibukan di PMI.

Banyak masyarakat datang untuk meminta bantuan medis. Mereka menderita penyakit kelamin, borok tropis, disentri hingga tipes.

Pada minggu pertama pendudukan Pasuruan oleh Hindia Belanda, staf PMI ikut membantu memberikan sandang, pangan tambahan dan obat-obatan pada masyarakat.

Mereka juga memberikan suntikan pada disentri, dan banyak penyakit kulit.

“Dari kalangan etnis disebutkan, ikut menerima bantuan medis ini. Mulai dari Jawa, Madura hingga Tionghoa,” jelas Budiman.

Dalam surat kabar itu juga dijelaskan, PMI merawat 125 orang per hari. Jumlah ini lebih banyak saat hari pemberian suntikan.

Mencapai 250 orang per hari. Meski sempat mengalami kesulitan karena jodeform untuk perawatan luka tidak ada, namun masa sulit itu bisa dilewati.

“Tertulis pula rumah sakit militer milik pemerintah, juga berkontribusi membantu kesehatan masyarakat untuk obat-obatan,” tutur Budiman.

 

Dipercaya oleh Tiga RSUD

PMI Kota Pasuruan kini sudah dipercaya untuk menjalin kerja sama dalam penyediaan stok darah bagi rumah sakit.

Kini ada tiga RSUD yang sudah menjalin kerja sama.

Ketua Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Pasuruan, dr Adi Widianto menyebut, PMI Kota Pasuruan telah terakreditasi.

Akreditasi ini upaya menstandarisasi mutu pelayanan UDD. PMI Kota menjadi semakin terpercaya.

Keamanan pendonor dan penerima donor menjadi terjamin. PMI juga semakin dipercaya untuk menjalin kerja sama dengan rumah sakit lain.

Meski saat ini baru tiga. Yakni RSUD dr R Soedarsono dan RS Graha Sehat Medika Kota Pasuruan dan RSUD Grati.

“Kami sudah terakreditasi. Sehingga, menjamin keamanan pendonor darah. Ini yang membuat kami dipercaya oleh tiga RSUD,” jelas Adi.

Pihaknya rutin menjalin kerja sama dengan perusahaan dan instansi vertikal di Kota Pasuruan untuk menjaga stok darah.

Seperti Kodim dan Polres Pasuruan Kota. Tidak jarang PMI lakukan jemput bola ke sekolah dan lembaga lainnya.

“Kami terus menjaga stok dengan kerja sama dan jemput bola. Agar stok darah tidak sampai kosong,” tutur Adi. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#belanda #sejarah #donor darah #pmi