BERDIRI di tengah kota, SDN Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan memiliki sejarah panjang.
Sebelum menjadi tempat belajar bagi siswa sekolah dasar, dulunya sekolah ini menjadi tempat menimba ilmu bagi anak-anak Eropa.
Bangunannya, khas arsitektur Belanda. Lokasinya, berada di sisi timur Kantor Pemkot Pasuruan.
Tepatnya, di Jalan Pahlawan, Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo.
Sempat menjadi sekolah rakyat sebelum menjadi sekolah dasar seperti saat ini.
Pendidikan dasar bagi anak Belanda dan Eropa di Kota Pasuruan, sudah dimulai sejak masa Perang Jawa, sebutan untuk perang Diponegoro pada 1825-1830.
Sekolah itu, diberi nama 1ste Lagere School atau sekolah Eropa pertama. Dibangun pada 1829.
Pembangunannya, bersamaan dengan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) PNIEL.
Ini menunjukkan komunitas orang Eropa yang bermukim di Pasuruan pada waktu itu cukup banyak.
Pasuruan dinilai aman untuk tempat pendidikan.
“Ini tidak terlepas dari gugurnya Untung Suropati, beserta kelurga dan pengikutnya oleh tentara Belanda,” kata Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Sayangnya, tidak diketahui jelas di mana titik awal bangunan sekolah ini didirikan.
Pada bangunan lama, terdapat tempat pemondokan untuk para gurunya.
Diperkirakan, lokasi sekolah tersebut, berada di wilayah yang diberi istilah “kota bawah”.
“Yaitu, area di sekitar Pelabuhan Pasuruan atau sebelah utara jalan yang disebut Kerkstraat atau jalan gereja. Sekarang adalah jalan DI Panjaitan dan jalan Anjasmoro,” sebut Budiman-sapaannya.
Sempat Kekurangan Dana untuk Pembangunan Gedung Baru
Karena kondisi gedung sekolah yang sudah bobrok, maka diperlukan gedung sekolah yang baru.
Dengan dekrit pemerintah tanggal 15 November 1837 nomor 7, diperoleh anggaran sebesar 3000 gulden.
Dana itu, kemudian digunakan untuk membangun gedung sekolah baru di “kota atas”.
Istilah kota atas, dipakai untuk menyebut kawasan heerenstraat atau dulu dikenal masyarakat dengan nama embong Loji. Namun rupanya dana ini tidak cukup.
Kekurangan dana pembangunan, ditutupi dengan dana hasil penjualan gedung sekolah yang lama dan pondokan guru yang laku sekitar 400 gulden.
Gedung baru ini selesai dibangun, tahun 1838. Gedung yang baru, hanya digunakan untuk ruang kelas. Tidak ada lagi tempat pemondokan bagi guru.
Maka, para guru, diberi biaya untuk sewa rumah atau pondokan sebesar 30 gulden per bulan.
“Jumlah muridnya dalam satu kelas, bervariasi. Sekitar 70 sampai 80 anak. Guru-guru dikontrak, dengan status sebagai pegawai pemerintahan Belanda (PNS),” jelas Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Kala itu, ada sembilan mata pelajaran yang diberikan.
Selain membaca, menulis, berhitung, bahasa, geografi, sejarah umum, sejarah nasional, pelajaran alkitab juga menyanyi.
Guru-guru yang pernah mengajar di antaranya, Wilkens (1829-1834), Van Alphen (1829-1842), Reitgers (1834-1839, dan Van Soest (1830-1840).
Adapula, De Bruin (1840-1843), Van Der Kolk (1843) hingga Andela (1845).
“Para guru yang mengajar di sekolah Eropa, selalu diumumkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda, lewat koran atau majalah secara rutin,” tuturnya.
Bentuk Bangunan Tidak Berubah
Bangunan SDN Pekuncen, tidak berubah sejak awal didirikan. Hanya ada rehab, pada bangunan yang rusak.
Bahkan, ada satu ruang kelas dalam sekolah setempat, yang masih menggunakan bangku peninggalan Belanda hingga sekarang.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan, bangunan SDN Pekuncen sudah masuk dalam cagar budaya.
Bentuk bangunan sama persis seperti saat dibangun pada 1838. Bagian belakang ruang kelas SD Pekuncen, juga masih menggunakan tiang penyangga besi yang masih asli.
Pasca kemerdekaan, Sekolah ini menjadi sekolah rakyat (SR) yang diberi nama SR Erlangga.
Lalu pada 1976, Gubernur Jatim saat itu, Soenandar Priyo Sudarmo meresmikan sekolah ini sebagai SDN Pekuncen.
“Jendela, pintu, tiang besi dan bentuk bangunan masih orisinal. Hanya dipugar dan diperbaiki sesuai kebutuhan,” imbuh Budiman-sapaannya.
Mantan Kepsek SD Pekuncen, Asiyah menguraikan, dahulu SDN Pekuncen ini dikenal sebagai nama SD Loji.
Ini berdasarkan pada lokasi bangunan, yang berada di jalan yang dulunya dikenal sebagai embong Loji.
Saat awal menjadi SD, bangunan ini terdiri dari tiga lembaga. SDN Pekuncen I, II dan III.
Barulah pada 2004, tiga lembaga ini digabung menjadi satu yaitu SDN Pekuncen dan dipimpin oleh satu kepala sekolah.
“Beberapa bangunan memang orisinal. Satu ruang kelas 6 yang berada di dekat ruang guru, masih menggunakan bangku sekolah lama. Ruang kelas lainnya, sudah menggunakan yang baru,” tukas Asiyah. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin