KANTOR Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) Pasuruan memiliki sejarah panjang.
Bangunan yang terletak di jalan Pahlawan, Kota Pasuruan tersebut, dahulunya adalah Bank Perkreditan Rakyat Umum atau disebut Algemene Volkscredietbank.
Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan, Algemene Volkscredietbank yang disingkat Volkscredietbank, dibuka pertama kali pada 1 Juli 1940.
Menggantikan Volkscredietbank yang telah menetap di Bangil selama 20 tahun.
Bangunan lama yang dilengkapi dengan rumah dinas itu, berpindah tangan dan dibeli seharga f 3000 gulden.
Kondisi ini terjadi, salah satunya karena hilangnya pabrik gula di sekitar Bangil dan penghapusan kabupaten.
“Selain itu, sekolah eropa di Bangil, juga menghilang. Sehingga, anak-anak warga eropa, melanjutkan sekolah mereka di Lawang, Malang,” tutur Budiman.
Volkscredietbank ini dibangun sejak Februari 1940. Desain gedung dibuat oleh J. C. Ch. Lang, seorang arsitek yang tinggal di Malang. Dampak pemindahan ini, administraturnya, Lobato, ikut pindah ke Kota Pasuruan.
Bagian depan memiliki panjang 16 meter dan lebar 13 meter. Bangunan dibentuk dalam gaya modern yang sederhana, dengan pintu masuk yang indah, memberikan kesan yang aktif secara keseluruhan.
Tata letak bangunan praktis dan tertata dengan baik. Pintu masuk mengarah langsung ke ruang tunggu, di belakangnya adalah kantor administrator.
Area kantor untuk karyawan diproyeksikan di sebelah pintu masuk, hampir di sepanjang bangunan.
“Di salah satu sudut ruangan volkscredietbank dibangun lemari besi dengan beton bertulang. Ada garasi di bagian belakang bangunan,” tutur Budiman.
Berdiri di Kawasan Elit Pasuruan
Volkscredietbank atau Bank Perkreditan Umum ini berdiri di jalan Pahlawan yang dahulunya diberi nama heerenstraat artinya jalan tuan tuan.
Jalan ini merupakan tempat para petinggi atau orang kaya eropa bertempat tinggal.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan, lokasi volkscredietbank ini, berada di sisi selatan sportpark atau stadion.
Bersama dengan jalan Balaikota, lokasi berdirinya volkscredietbank ini dikenal sebagai heerenstraat atau jalan tuan-tuan.
Surat kabar terbitan Belanda menyebutkan, pembukaan sistem kredit rakyat umum cabang Pasuruan ini, menggantikan bank di Bangil. Dalam koran tersebut juga disebutkan, jika gedung yang ada, bisa menjadi aset bagi Pasuruan.
“Lokasinya berada di kawasan elit Pasuruan. Di jalan heerenstraat. Jalan ini mencakup Pahlawan hingga Balaikota saat ini,” jelas Budiman.
Pemerhati sejarah, Achmad Rosidi menguraikan, di masa kolonial, bisa dibilang, Pasuruan adalah pusat perekonomian terbesar di Indonesia.
Pada saat itu, industri opium, rempah-rempah dan gula sedang naik daun.
Ketiga komoditi ini, menjadi komoditi utama. Pengolahan dan pemasarannya, berada di wilayah Pasuruan. Dan diikuiti dengan industri pembuatan besi serta kapal.
Daerah lain di Jawa Timur memesan kereta api dan kapal dari Pasuruan.
“Saat ada industri besar di suatu wilayah, maka lumrah diikuti adanya bank. Bisa dibilang, perekonomian Pasuruan adalah yang terbesar,” ungkapnya.
Bangunan Lama Tidak Berbekas
Gedung volkscredietbank ini, sebenarnya relatif kokoh. Namun sayangnya, kini bangunan lama sudah tidak berbekas.
Bahkan pondasi gedung lama tidak ditemukan dan berubah menjadi bangunan baru.
Achmad Budiman Suharjono, pemerhati sejarah Pasuruan menyebut, gedung volkscredietbank kini tidak berbekas sama sekali.
Dalam foto-foto udara di tahun 1946 hingga 1947, gedung ini masih ada dan utuh.
Namun di tahun 1970-an, menurut keterangan saksi mata, bangunan ini hanya tinggal bagian pondasi.
Kemungkinan besar, ikut hancur atau menjadi korban aksi “bumi hangus” masa agresi militer Belanda.
“Di lokasi saat ini, yang kini digunakan kantor cabang BRI Pasuruan, tidak ditemukan bekasnya. Seluruh bangunan lama sudah hilang,” terang Budiman.
Achmad Rosidi, yang juga pemerhati sejarah, membenarkan jika bangunan lama volkscredietbank sudah tidak berbekas.
Bangunan BRI Pasuruan yang ada saat ini, adalah bangunan baru. Kemungkinan, pondasi lama ikut dirobohkan saat gedung baru dibangun.
“Memang tidak ada yang tersisa. BRI Pasuruan ini berdiri di salah satu bangunan bersejarah yang sudah hilang,” paparnya. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin