JALAN Suroyo jadi salah satu ikon Kota Probolinggo. Kondisi itu sudah berlangung sejak zaman kolonial, waktu ruas jalan setempat masih bernama Heerenstraat.
Sebelum menjadi seperti sekarang, Probolinggo dulunya dikenal dengan sebutan Banger. Penamaan Banger, disematkan pada Kota Mangga tersebut, di era 1765 silam.
Hal tersebut tak lepas dari keberadaan Kali Banger. Kali tersebut menjadi sungai utama yang melalui Kota Probolinggo kala itu.
Dahulu, Banger berada di bawah kekuasaan Pakubuwono II dari Mataram.
Namun, akibat perjanjian yang ditandatangani Gubernur Jenderal Van Imhoff dengan Pakubuwono II pada 11 November 1743, Banger jatuh ke tangan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).
Saat itu, Banger masih berupa permukiman dengan sekitar 50 kepala keluarga.
Pada 1855, Probolinggo menjadi ibu kota Karesidenan Probolinggo dan ibu kota afdeling yang termasuk Karesidenan Pasuruan. Karena letaknya yang strategis dan penting.
Setelah tahun 1855, Pasuruan, Probolinggo, Besuki dan Banyuwangi, dijadikan ibu kota Karesidenan dengan nama Karesidenannya mengikuti nama-nama ibu kotanya.
Setelah adanya undang-undang desentralisasi tahun 1903 (Desentrasatie-wetgeving 1903), barulah Probolinggo berganti status menjadi gemeente yang pelaksanaannya dimulai tahun 1905.
Probolinggo lantas memiliki gemeente raad (Dewan Kotamadya) pada 1918, yang tercatat dalam lembaran negara atau Staatsblaad 322-1918 tanggal 1 Juli 1918.
Probolinggo kemudian dipimpin oleh Asisten Residen bernama Ferdinand Edmond Meijer yang kemudian menjadi wali kotanya pada 1928.
Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, pemerintah Hindia Belanda kala itu menetapkan Undang-Undang Wijkenstelsel. Peraturan tersebut mengharuskan tiap etnis mendiami daerahnya secara terpisah.
Sehingga, membentuk tata kota dengan pola grid yang simetris dengan sumbu kota di Heerenstraat di Kota Probolinggo.
Sementara pembagian kawasan disebut kapiten seperti Kampung Arab, Melayu, Pecinan, kawasan Eropa, dan kawasan pribumi.
Heerenstraat merupakan sumbu utama sekaligus pusat kota. Di ujung selatan, terdapat Asisten Residen, sebagai pusat kontrol kekuasaan administratif, kekuasaan kolonial yang tertinggi di kota tersebut.
Sementara, di ujung utara, terdapat alun-alun sebagai simbol pusat pemerintahan pribumi.
Sehingga, bila dilakukan pawai atau arak-arakan, maka publik bisa berkumpul di alun-alun dan diakhiri di halaman depan kantor Asisten Residen.
Demi menambah estetika, sisi kanan kiri Heerenstraat, ditanami pohon asam yang rindang.
Tak hanya itu, sepanjang jalan tersebut, berdiri gedung-gedung pemerintah, yang didirikan guna mendukung pemerintahan kolonial di Probolinggo.
Penataan kota seperti ini, mengadopsi penyusunan kota-kota Eropa di jaman renaissance.
Kota condong ditata simetri dengan pemandangan barisan pepohonan. Diakhiri focal point berupa bangunan monumental atau ruang terbuka kota.
“Di Probolinggo ruang terbuka kotanya adalah alun-alun dan bangunan monumentalnya adalah kantor Asisten Residen tadi,” kisah Edi, yang merupakan warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Beberapa gedung lainnya, yaitu Societeit de Harmonie, memiliki fungsi sebagai tempat aktivitas orang-orang Belanda dan Eropa lainnya, untuk mengadakan pesta dan pergelaran seni.
Kemudian, ada Gereja Protestan sebagai tempat ibadah bagi orang-orang Eropa dan Melayu yang menganut agama Kristen.
Tak hanya itu, Edi mengatakan Heerenstraat juga didominasi permukiman orang Belanda dan Eropa.
“Makanya disebut Heerenstraat atau jalan tuan-tuan. Sebab, banyak menir-menir yang tinggal di wilayah tersebut dulunya,” jelasnya.
Sebelah barat Heerenstraat terdapat kampung Arab dan Melayu.
Sedangkan kawasan timur Heerenstraat agak kurang teratur karena adanya Kali Banger yang melintasi kawasan tersebut.
Di sebelah barat kali adalah kawasan perdagangan bagi orang Cina, sementara di timurnya menjadi kawasan tempat tinggal orang Cina. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin