Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sejarah Stasiun Pasuruan, Salah Satu Stasiun Tertua di Jawa Timur

Fuad Alyzen • Senin, 3 Juli 2023 | 00:00 WIB
TAK BANYAK BERUBAH: Bangunan utama Stasiun Pasuruan saat difoto dulu.
TAK BANYAK BERUBAH: Bangunan utama Stasiun Pasuruan saat difoto dulu.

 

DI Kota Pasuruan, banyak berdiri bangunan kuno. Salah satunya, Stasiun Pasuruan yang termasuk salah satu stasiun tertua di Jawa Timur.

Stasiun Pasuruan termasuk salah satu stasiun tertua di Jawa Timur. Dari data yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Pasuruan diresmikan oleh Staatsspoorwegen sebagai perusahaan kereta api negara milik Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 16 Mei 1878.

Stasiun Pasuruan saat itu sebagai titik akhir salah satu pembangunan jalur kereta api pertama lintas Surabaya-Pasuruan. Stasiun ini dibangun tak jauh dari Jalan Raya Pos, yang kini berubah nama Jalan Soekarno-Hatta.

Dihubungkan dengan Jalan Stasiun yang bersebelahan dengan Pasar Besar Kota Pasuruan. Sekaligus sebagai jalan arteri primer bagi Kota Pasuruan, yang menghubungkan kota-kota pantai utara di Jawa.

Karenanya, jalan kereta api yang memasuki Kota Pasuruan diletakkan sejajar dengan jalan utama tersebut. Letak stasiun tegak lurus dengan kota lainnya. Di sebelah timur dari stasiun tersebut terdapat pasar.

Stasiun dengan pasar dan pangkalan kendaraan umum, memang merupakan ciri khas kota-kota yang punya stasiun kereta api di Jawa. Hal itu seperti yang terlihat di kota-kota kawasan pesisir. Seperti Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, dan sebagainya.

Dulu, stasiun kereta api memang selalu dihubungkan dengan pelabuhan. Sebab, salah satu tujuan penting jaringan kereta api di Jawa memang untuk pengangkutan barang. Terutama hasil perkebunan.

Jika dipandang dari tata ruang kota, maka perletakkan Stasiun Kereta Api Pasuruan sangat strategis sekali. Sebab, cukup mudah dan dekat, mencapai seluruh penjuru kota. Baik daerah hunian, pusat kota, maupun pelabuhan.

Stasiun juga sangat dekat dengan jalan arteri primer kota. Tidak banyak crossing dengan jalan-jalan utama kota. Selain itu, kehadiran stasiun juga tidak mengganggu lingkungan sekitarnya.

SAAT INI: Bangunan utama Stasiun Pasuruan kondisinya kini. Bangunan stasiun tak banyak alami perubahan. Gedung stasiun sudah jadi salah satu cagar budaya di Kota Pasuruan.
SAAT INI: Bangunan utama Stasiun Pasuruan kondisinya kini. Bangunan stasiun tak banyak alami perubahan. Gedung stasiun sudah jadi salah satu cagar budaya di Kota Pasuruan.

Dari segi arsitektur kota, peletakan stasiun cukup baik. Sebab, letaknya tegak lurus di tengah-tengah jalan arteri primer kota Jalan Raya Sukarno-Hatta. Hanya sayangnya, jarak jalan yang tegak lurus jalan arteri primer kota tersebut terlalu pendek. Sehingga, kesan bangunan stasiun kota sebagai focal point menjadi kurang terasa.

Kepala Stasiun Pasuruan Moch Choirudin menjelaskan, di Pasuruan sendiri ada sejumlah stasiun. Namun, yang paling tua adalah Stasiun Pasuruan. “Paling tua Stasiun Pasuruan. Bahkan, seluruh stasiun se-Jatim, Stasiun (Pasuruan) ini paling tua,” terangnya.

Sampai saat ini, sejumlah bangunan pun masih orisinal. Bangunannya tak diubah-ubah. Kondisi itu seperti terlihat di gedung utama stasiun, bangunan bekas Dipo lokomotif, tandon air atau dongki. Serta menara bekas peralatan komunikasi.

Hanya saja, di antara beberapa bangunan kuno itu, kini banyak yang berubah fungsi. Tandon air atau dongki misalnya. Dulu, bangunan itu sebagai pengisi air lokomotif kereta api. Sebab, lokomatif KA terdahulu menggunakan air untuk memompa lokomotif. “Di sini tempat penambahan air lokomotif dulu,” ujar Humas Daop 9 Jember Anwar.

Bangunan kuno lainnya, Dipo Lokomotif. Dulu, bangunan itu digunakan untuk memperbaiki lokomotif yang rusak oleh orang-orang Belanda. Tidak hanya itu, bagian KA yang rusak juga diperbaiki di ruangan yang ada di sebelah barat bangunan stasiun itu.

Sementara menara bekas peralatan komunikasi, letaknya di sebelah barat peron Stasiun Pasuruan. Menara ini sudah tidak difungsikan lagi. Sebab, kondisinya sudah berubah.


BERALIH FUNGSI: Kepala Stasiun Pasuruan Moch Choirudin menunjukkan tandon air atau dongki yang dulu dimanfaatkan sebagai pengisi air lokomotif kereta api.
BERALIH FUNGSI: Kepala Stasiun Pasuruan Moch Choirudin menunjukkan tandon air atau dongki yang dulu dimanfaatkan sebagai pengisi air lokomotif kereta api.


Pasar Besar Dulu, Baru Stasiun

Letak Stasiun Pasuruan cukup strategis. Kawasan pesisir lokasi berdirinya Stasiun Pasuruan merupakan pusat keramaian sejak dulu.

Lokasi Stasiun Pasuruan juga berdekatan dengan kawasan Pasar Besar. Kawasan yang juga sudah berdiri cukup lama. Mana yang lebih dulu berdiri, Stasiun Pasuruan atau Pasar Besar?

Kepala Stasiun Pasuruan Moch Choirudin menjelaskan, sejak awal proses pembangunan stasiun, aktivitas berdagang di Pasar Besar sudah ada. Namun, pihaknya tidak bisa memprediksi mana yang lebih dulu antara Pasar Besar dengan stasiun. “Berdasarkan data di stasiun, tidak ada,” ujarnya.

Sejarawan asal Kota Pasuruan Budiman menambahkan, Stasiun Pasuruan diresmikan 16 Mei 1878. Sedangkan Pasar Besar sudah ada sebelumnya. Disebutkan sudah ada sejak Keresidenan Pasuruan H. J. Domis, pada periode 1827 sampai 1831.

Kemudian, los bangunan Pasar Besar yang baru dibangun pada masa Wali Kota Paduruan pertama. Yaitu, H. E. Boissevain pada periode 1928 sampai 1934.

Jadi, sebelum stasiun berdiri, sudah ada pasar besar. “Lebih dulu pasar besar daripada stasiun. Karena Pasar Besar itu pasar kuno,” jelas Budiman.

Setelah diresmikan pada 1878, Stasiun Pasuruan dijadikan transportasi orang-orang Belanda juga warga pribumi. Selain mengangkut penumpang, stasiun ini juga digunakan sebagai alat transportasi rempah-rempah dan alat kemiliteran tentara Belanda. “Memang dibangun untuk itu,” kata Kepala Stasiun Pasuruan Moch Choirudin.

Bahkan, setelah merdeka, Stasiun Pasuruan masih masuk masa kependudukan militer Belanda. Saat itu, masih periode 1946 sampai 1949. Mekanisme di stasiun masih ala-ala Belanda.


LETAK STRATEGIS: Kawasan Stasiun Pasuruan saat dipotret dari udara pada zaman dahulu.
LETAK STRATEGIS: Kawasan Stasiun Pasuruan saat dipotret dari udara pada zaman dahulu.

MANFAATKAN KERETA: Sejumlah tentara Belanda saat sampai di Stasiun Pasuruan dulu.
MANFAATKAN KERETA: Sejumlah tentara Belanda saat sampai di Stasiun Pasuruan dulu.



Suasana Sudah Banyak Berubah

Stasiun Pasuruan sudah melintasi zaman. Jadi saksi perubahan era. Di era modern saat ini, keberadaan Stasiun Pasuruan masih cukup vital. Tiap hari, 28 jenis kereta api (KA) melintas di stasiun ini. Baik lokal maupun KA jarak jauh.

Saat ini, Stasiun Pasuruan memiliki 4 jalur rel KA. Jalur itu difungsikan untuk melakukan persilangan dan penyusulan KA yang datang bersamaan di waktu yang sama.

“Sejumlah jalur itu berfungsi untuk melakukan persilangan jalur. Misalkan KA yang akan mengangkut penumpang dari stasiun, maka KA lainnya yang jalurnya sama atau berlawanan, bisa menyilang di jalur rel lainnya. Itu juga bisa berfungsi penyusulan KA dari stasiun lainnya,” jelas Kepala Stasiun Pasuruan Moch Choirudin.

KA yang tiba di stasiun secara bersamaan itu biasanya pada pukul 15.30. Di antaranya KA Sub-Pas, Wijayakusuma, dan Logawa. Tiga kereta ini biasa melakukan persilangan saat tiba di Stasiun Pasuruan. Secara bersama-sama, tiga kereta itu juga menunggu penumpang setelah boarding oleh petugas.

Yang banyak berubah di Stasiun Pasuruan saat ini adalah suasananya. Sama seperti stasiun-stasiun kebanyakan di era modern, saat ini tak lagi ditemukan pedagang asongan dan pengamen di kawasan stasiun.

Suasananya juga tak seramai sebelum-sebelumnya. Sebab, saat ini yang masuk di kawasan stasiun cukup penumpang saja. “Dulu, banyak pengamen yang nongkrong dan asongan. Mereka mengais rezeki. Saat ini, yang boleh masuk ke peron stasiun hanya penumpang. Suasananya lebih bersih dan tertata rapi,” terangnya.

Namun, bangunan di Stasiun Pasuruan tidak banyak perubahan. “Penataan ulang di bagian depan stasiun saja. Sedangkan bangunan gedung stasiun sendiri tidak boleh diubah. Sebab, sudah masuk pada cagar budaya,” jelas Choirudin pada Jawa Pos Radar Bromo. (zen/mie)

Editor : Jawanto Arifin
#stasiun pasuruan