Perang Jawa yang berkecamuk pada awal abad 19 membuat kolonial Belanda sedikit sempoyongan. Keuangan pemerintah amburadul. Rakyat segera dihadapkan pada masa-masa kelam.
Dikutip dari berbagai sumber, Johannes van den Bosch yang baru diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda memberlakukan sistem tanam paksa.
Cultuurstelsel bertujuan untuk memulihkan kas finansial kolonial akibat krisis selama perang yang cukup melelahkan. Kebijakan ini mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor.
Lahan pertanian dibuka secara masif. Terutama di wilayah Oosthoek atau ujung timur Pulau Jawa. Meliputi Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Perkebunan tebu dianggap menjadi mata pencaharian baru yang cukup menjanjikan.
Munculnya UU Gula 1870 atau suikerwet memicu pesatnya perkembangan pabrik gula. Peraturan itu menghapus kewajiban tanaman tebu untuk diekspor ke luar negeri. Senyampang itu, keran bagi pemegang modal untuk membangun industri gula di wilayah jajahan Belanda mulai terbuka.
Taipan-taipan Tionghoa bermunculan. Diantara konglomerat terpandang di Pasuruan berasal dari keluarga Kwee dan Han. Keturunan keluarga Han dari generasi ke-27 lantas mendiami rumah megah di kawasan hoofdstraat, jalan utama yang sekarang di Jalan Soekarno-Hatta.
Han Hoo Lam sendiri hidup pada 1854 hingga 1904. Ia dan kakaknya, Han Hoo Tong mengelola Pabrik Gula Plered. Memiliki hubungan darah dengan Han Hoo Tjoan yang menjabat sebagai Kapitein der Chineezen Pasuruan, membuat keduanya mendapatkan keistimewaan dari pemerintah Hindia Belanda. Mulai dari urusan pemerintahan, perdagangan hingga perpajakan.
Meluasnya industri gula di Pasuruan lantas menjadikan rumah-rumah megah yang dibangun orang Eropa dihuni masyarakat Tionghoa. Termasuk Rumah Gading, bangunan yang kemudian berada dibawah kuasa Han Hoo Lam.
Sekilas, arsitekturnya khas Hindia Belanda. Bergaya empire yang merujuk pada gaya villa dinasti Lodewijk abad ke-18 di Prancis.
Tetapi Rumah Gading dibangun dengan pendekatan langgam Jawa. Sesuai dengan iklim dan kondisi setempat. Akulturasi ini kemudian disebut indische empire. Gaya ini terlihat dari tembok yang tebal, pilar kekar dan besar, langit-langit tinggi, berlantai marmer dan memiliki beranda yang luas. Bahkan ornamen-ornamen seperti kaca hias dan lampu didatangkan dari Eropa.
Pengangkutan barang dari luar negeri bukan menjadi masalah bagi Kota Pasuruan kala itu. Pelabuhan yang ada cukup menunjang Pasuruan menjadi daerah eksportir hasil perkebunan tebu. Setelah membongkar muatan setibanya di Eropa, kapal-kapal itu akan kembali membawa bahan bangunan berkualitas menuju Pasuruan. (tom/mie) Editor : Jawanto Arifin