------------------------------------------------------------------------------------------------------
SEKILAS, tampilan relief di salah satu jendela Kelenteng Tjoe Tik Kong itu tak jauh berbeda. Bergambar koin, yang hendak ditangkap harimau.
Siapa yang mengira, relief itu sudah berusia ratusan tahun. Dari relief itulah, ditengarai asal muasal berdirinya Kelenteng Tjoe Tik Kong.
Klenteng Tjoe Tik Kiong diperkirakan dibangun pada abad 17. Dasarnya, relief koin yang ada di relief tersebut. Menurut sejumlah literasi, simbol koin itu diperkirakan dikeluarkan pemerintahan Tiongkok pada 1.600 an silam. Selain itu, keberadaan orang Tionghoa di Kota Pasuruan diketahui sudah ada sejak abad ke-17.
Rohaniawan Kelenteng Kota Pasuruan Yudiawan menceritakan, sejak awal dibangun, kelenteng tak hanya jadi tempat ibadah semata. Namun, juga jadi tempat latihan kesenian barongsai dan tempat pertemuan dengan kelompok masyarakat kepercayaan lain.
Yudi menyebut, kelenteng dibangun warga perantauan dari Tionghoa. Berkolaborasi dengan arsitektur kejawen. Hal itu terlihat dari arsitektur yang ada di kelenteng setempat.
Salah satu ciri kelenteng Kota Pasuruan, pada bagian atas gerbang terdapat ornamen yang terlihat mencolok. Yakni berbentuk sepasang naga dan burung hong.
Cerita Dewi Mak Co
Sejauh ini tak ada arsip yang jelas terkait pembangunan kelenteng Tjoe Tik Kong. Keberadaan kelenteng diketahui dari sejumlah benda-benda yang ada di kelenteng.
Selain itu, ada juga cerita turun-temurun warga Tionghoa yang diyakini lekat dengan asal muasal kelenteng setempat. Menurut Yudi, pembangunan kelenteng Pasuruan tidak luput dari sosok legenda Dewi Mak Co. Ia disebutkan sosok dermawan yang mendorong masyarakat Tionghoa membangun tempat ibadah. Yaitu kelenteng.
Koin yang selalu dibawanya sebelum menginjak ke Nusantara disebut jadi cikal bakal berdirinya Kelenteng. Koin itulah yang saat ini dijadikan jendela sebagai simbol sejarah berdirinya kelenteng.
Menurut Yudi, alat yang merupakan pembawaan Dewi Mak Co, dipercaya memiliki berkah warga Tionghoa. Sehingga, warga Tionghoa mengabadikannya. Lalu, menjadikan perencanaan pembangunan tempat ibadah.
Dari cerita leluhurnya, Yudi menceritakan, konon Dewi Mak Co sendiri datang ke tanah Nusantara pada tahun 500-an. Dia dipercaya sebagai dewi penyelamat, penjaga laut agar tidak terjadi bencana. Kedatangannya disebutkan membawa kedamaian warga Tionghoa.
Dewi Mak Co disebutkan mempunyai dua pengawal. Yakni Sen Fung Erl dan Jen Li yen. Konon, keduanya diceritakan merupakan siluman yang sangat jahat. Namun setelah bertemu Dewi Mak Co karakternya berubah. Dia mampu mengubah karakternya menjadi baik. Dan lebih baik. Disisi lain masing-masing dari keduanya mempunyai kelebihan.
Sen Fung Erl memiliki kelebihan penglihatan yang sangat bagus. Ia mampu melihat objek dari jarak sekitar 100 kilometer. Sedangkan Jen Li Yen memiliki pendengaran yang bagus. Ia mampu mendengar suara dari jarak sekitar 100 kilometer.
Dua pengawal Dewi Mak Co itu, selalu mengikuti kemana Dewi Mak Co pergi. Kedamaian yang dilontarkan membuatnya kagum dan mengabdikan diri ke sosok Dewi Mak Co. Termasuk ke laut utara di wilayah nusantara. Yakni Kota Pasuruan.
Nah, tempat yang disinggahi Dewi Mak Co itulah yang lantas dijadikan warga Tionghoa untuk membangun tempat ibadah. Dewi Mak Co juga dipercaya warga Tionghoa menjaga laut utara dari balak musibah.
Atas dasar itu pula, bangunan kelenteng itu juga berada di dekat laut atau kawasan pesisir. “Lantaran penjaga laut utara, bangunan kelenteng dibangun di dekat laut. Di Kelurahan Tembokrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan,” terang Yudi.
Pada kisaran tahun 1625, kelenteng mulai didirikan. Konstruksinya, sebagian menggunakan kayu jati asli.
Hartono bagian PU Kelenteng Tjoe Tik Kong menambahkan, rentang waktu kedatangan Dewi Mak Co ke Nusantara hingga pembangunan kelenteng cukup panjang. Sebelum zaman penjajahan.
Nah, keberadaan warga Tionghoa yang sempat terpinggirkan selama orde baru, sempat membuat catatan terkait asal muasal kelenteng banyak yang tak tertata. Kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden yang merangkul kembali warga Tionghoa, membuat warga Tionghoa banyak kembali menggali sejarah.
“Sejak itulah warga Tionghoa mengulas kembali cerita sejarah pembangunan Kelenteng. Namun, data yang didapatkan hanya sebatas ini,” terangnya.
Saat ini, pengelolaan klenteng sendiri dalam pembinaan pemerintah. Di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia Direktorat Pembinaan Agama Buddha. Uraian tersebut dipertegas dengan adanya prasasti yang berada disamping pintu masuk tempat ibadah Klenteng Tjok Tie Kiong. (zen/mie)
Kayu Tonggak Pembangunan Awal Tetap Terjaga
KEBERADAAN Kelenteng Tjoe Tik Kiong juga jadi perhatian Pemerintah Kota Pasuruan. Bangunannya dilindungi. Saat ini, bangunan kelenteng yang terletak di jalan Lombok itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Bangunan dan benda kuno di kelenteng juga dijaga. Apa saja bangunan tua yang masih dipertahankan? Salah satunya, relief koin dikejar harimau yang kini dijadikan jendela di kelenteng setempat.
Relief koin itu disebut-sebut salah satu peninggalan Dewi Mak Co. Selain relief koin itu, juga ada kayu jati besar. Kayu itu merupakan tonggak pertama pembangunan Kelenteng Tjoe Tik Kong. Kayu-kayu itu berusia ratusan tahun. Sama dengan usia berdirinya kelenteng.
Sampai saat ini, kayu itu masih terlihat kokoh. Arsitekturnya perpaduan Tionghoa dan Jawa. “Iya, ini sudah tua kayu ini. Sama dengan usia pembangunan kelenteng. Kayu dulu memang begini. Bagus dan kuat,” jelas Biokong atau juru kunci Kelenteng Tjoe Tik Kong.
Ia menjelaskan, sejak era reformasi kelenteng kian dilengkapi dengan berbagai ornamen. Diantaranya, patung singa, kantor dan lain sebagainya. Serta pintu utama kelenteng dilengkap patung naga.
“Sejak kepemimpinan Presiden Gus Dur, perayaan Imlek menjadi libur nasional. Sejak saat itu, warga Tionghoa lebih leluasa beribadah,” bebernya.
Guru Sejarah SMAN 1 Kota Pasuruan Bagus Amrulloh Eri Pradana menambahkan, sejak tahun 2000-an, pembangunan Kelenteng makin pesat. “Sejak 2010, 2013 dan 2019 ada pembangunan. Tahun ini ada perkembangan pembangunan kelenteng lagi,” katanya. (zen/mie)
Junjung Tinggi Toleransi Antar-Umat Beragama
TAK hanya jadi cagar budaya. Kelenteng Tjoe Tik Kiong kini jadi salah satu penanda harmonisasi warga Kota Pasuruan. Warga Tionghoa pun tak hanya menjadikan kelenteng sebagai tempat ibadah semata.
“Saat ini, kelenteng juga sering menjadi pusat keramaian. Tidak hanya orang Tionghoa. Berbagai suku budaya dan agama, juga saling berkoborasi merayakan setiap momen antar agama,” ujar Rohaniawan Kelenteng Kota Pasuruan, Yudiawan.
Yudi mencontohkan saat Ramadan lalu. Warga Tionghoa juga ikut meramaikannya. Yakni dengan menyediakan tempat kelenteng sebagai tempat buka bersama. Selain itu, mereka juga menyediakan ratusan makanan untuk dibagikan ke saudara muslim yang ada di Kota pasuruan. Dengan membagikan kupon.
“Buka bersama tidak hanya orang islam. Ada juga orang katolik dan lainnya. Kami duduk bersama sembari menunggu magrib,” jelas Yudi.
Tak hanya perayaan hari besar umat muslim. Saat perayaan imlek, juga ditampilkan lintas budaya. Biokong atau juru kunci kelenteng mengaku, selama ini warga Kota Pasuruan sangat menjunjung tinggi toleransi. (zen/mie) Editor : Ronald Fernando