Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Kejayaan PG Bagoe Besuk

Ronald Fernando • Minggu, 9 April 2023 | 18:40 WIB
MEGAH PADA ZAMANNYA: Kondisi gedung pelayanan Pabrik Gula Bagoe saat masih jaya dulu. (Istimewa)
MEGAH PADA ZAMANNYA: Kondisi gedung pelayanan Pabrik Gula Bagoe saat masih jaya dulu. (Istimewa)
Kabupaten Probolinggo jadi salah satu daerah penghasil gula di masa Hindia Belanda. Banyaknya pabrik gula jadi saksi kejayaannya. Salah satunya, Pabrik Gula (PG) Bagoe. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------

PG Bagoe terletak di Desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Belum diketahui secara pasti kapan pabrik ini didirikan. Namun, menurut sejumlah referensi warga, aktivitas PG Bagoe telah ada jauh sebelum kemerdekaan. 

Pada tahun 1800-an, PG Bagoe pernah dikelola oleh pengusaha asal Belanda. Bernama G.von Bultzings-Lowen dan administrator perusahaannya yaitu C.H. Jeltes. 

Saat itu, rata-rata pekerja yang bekerja di pabrik ini, setiap harinya sekitar 350 orang. Pabrik Bagoe disebut-sebut sebagai salah satu pabrik gula terbesar di Kabupaten Probolinggo. 

Tingkat produksinya cukup tinggi. Hamparan tanaman tebunya saja sebanyak 432 titik. Pabrik ini mampu memproduksi berton-ton gula. 

Kejayaan PG Bagoe ini masih bisa dirasakan dari peninggalan puing-puing bangunan setempat. Sisa bangunan berupa fondasi maupun besi sisa pabrik masih utuh di Desa Bago.

PG Bagoe berdiri di tanah berukuran 15 hektare. Mulai dari lapangan Desa Bago, sampai utara Balai Desa Bago. “Informasi dari para sesepuh, PG Bagoe merupakan pabrik gula terbesar yang pernah ada di Probolinggo. Luasnya saja 15 hektare,” kata Kepala Desa Bago, Nawawi. 

Photo
Photo
KURANG TERAWAT: Kades Bago Nawawi (kiri) bersama perangkat desa Slamet Sudaryanto (pegang celurit) saat melihat tungku pabrik yang masih tersisa. Inset: Kondisi gedung pelayanan Pabrik Gula Bagoe saat masih jaya dulu. (Istimewa-Agus Faiz Musleh/ Radar Bromo)

Salah satu peninggalan bangunan pabrik yang masih bisa dinikmati, yakni bangunan tungku pabrik. Tungku itu terbuat dari bahan dasar batu bata. Tungku itu disebut-sebut merupakan lokasi pengolahan gula. Panjang tungku tersebut sekitar 15 x 4 meter. 

“Bagian barat tunggu ada dua lubang. Tungku ini berfungsi sebagai tempat pengolahan gula. Jadi, proses pemanasannya di sini, pengolahannya di sini,” kata Nawawi saat ditemui di lokasi tungku.

Selain tungku, kejayaan PG Bagoe juga masih terlihat dari sisa-sisa bangunan fondasi pabrik. Fondasi itu diyakini sebagai cerobong pabrik.

“Seperti besi sisa-sisa pabrik itu masih ada sampai sekarang. Digunakan sebagai jembatan, juga banyak bahan-bahan lainnya yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun begitu, juga ada barang-barang peninggalan pabrik yang hilang begitu saja utamanya besi-besian,” terangnya. 

Photo
Photo
CEK: Nawawi saat memperlihatkan fondasi sisa cerobong PG Bagoe.



Cerita Pria Belanda Melacak Kiprah sang Ayah 

PG Bagoe berdiri di lahan yang cukup luas. Selepas PG Bagoe tak produksi lagi, bangunannya pun mulai beralih fungsi. Areal lahan PG dimanfaatkan warga untuk membangun rumah, lembaga pendidikan, toko-toko hingga kantor desa. 

Di area PG, saat ini terbangun sejumlah lembaga pendidikan yang menjadi satu hamparan. Mulai dari SD, SMP, samapai SMA. 

“Untuk sisa-sisa tungku PG itu ada di area lahan milik SMA. Dulunya juga ada sebuah sumur milik pabrik di area lapangan bola Desa Bago,” terang Kades Bago Nawawi.

Sejumlah rumah warga yang berdiri di areal PG Bagoe, saat ini juga sudah memiliki surat-surat tanahnya. “Warga yang saat ini rumahnya di bekas lahan PG, sudah memiliki sertifikat hak milik (rumah). Hal itu setelah diurus dulu pada saat saya menjabat kepala desa di tahun 90-an,” beber Nawawi yang juga pernah menjabat kepada desa Priode 1990-1999 dan 1999-2007 tersebut. 

Photo
Photo
BANGUNAN BELANDA: Slamet Sudaryanto saat menunjukkan lobang tungku Pabrik.

Meski terbilang cukup lama menjadi seorang kepala desa, Nawawi mengaku, tidak banyak mengetahui asal-muasal PG Bagoe. Hanya saja, ia menyebutkan beberapa cerita yang berkaitan dengan orang-orang yang memiliki garis cerita dengan pabrik tersebut.  

Beberapa tahun lalu, ada seorang pria asal Belanda yang mendatangi kantor desa. Medio tahun 90-an. Saat itu pria tersebut mencari tempat ayahnya dulu dilahirkan.  

“Jadi, jauh-jauh dari Belanda untuk cari tempat ayahnya dilahirkan dulu. Kakeknya dulu Memang pernah kerja di pabrik gula sebagai arsitek kayu. Pria yang datang ke sini merupakan tentara dari Belanda,” cerita Nawawi sang kades. 

Rupanya, ada salah satu perangkat desa yang sudah sepuh. Perangkat desa yang sepuh itu ternyata mengenal ayah pria asal Belanda itu. 

“Jadi, pria asal Belanda itu bicara menggunakan juru bicaranya. Rupanya, tebakan perangkat desa yang sepuh itu benar. Ciri-ciri lelaki yang dicari, diketahui oleh perangkat desa kami ini. Saat itu, ayah pria asal Belanda itu suka memelihara kucing saat masih di sini dan setelah berada di Belanda,” jelasnya. (mu/mie)  Editor : Ronald Fernando
#dulu dan kini #sejarah probolinggo #pabrik gula probolinggo