Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Sekolah Pertama Warga Tionghoa di SMAN 1 Pasuruan

Jawanto Arifin • Minggu, 2 April 2023 | 19:16 WIB
SUDAH MODERN: Tampak depan bangunan kantor di SMAN 1 Pasuruan yang sudah beberapa kali direhab. (Fuad Alyzen/Radar Bromo)
SUDAH MODERN: Tampak depan bangunan kantor di SMAN 1 Pasuruan yang sudah beberapa kali direhab. (Fuad Alyzen/Radar Bromo)
KOTA Pasuruan sejak dulu sampai sekarang dihuni multi etnis. Bahkan sebelum Indonesia Merdeka, Kota Pasuruan sudah menjadi tempat tinggal bagi warga lokal, keturunan Tionghoa hingga Arab. Peninggalannya juga semenjak dulu, masih bertahan sampai sekarang. Salah satunya SMAN Negeri 1 Pasuruan yang berada di Jalan Soekarno Hatta.

Dahulu namanya Tiong Hwa Hwee Kan (THHK) yang didirikan tahun 1904. Ihwal berdirinya THHK erat kaitannya dengan keberadaan Kelenteng Tjoe Tik Kiong di Jalan Lombok. Saat itu warga Tionghoa yang merantau ke Pasuruan, ingin anak-anak memperoleh pendidikan maju.

Namun saat itu, aktivitas pendidikan baru digelar di kelenteng. Warga Tionghoa begitu antusias untuk menyekolahkan anaknya. Supaya mereka tidak melupakan budayanya maupun demi kepentingan generasi penerus.

Bagus Amrulloh Eri Pradana Guru Sejarah SMA N 1 Pasuruan mengatakan, awal perencanaan pembangunan THHK terjadi di tahun 1903 hingga 9 Mei 1904. Selain di kelenteng, aktivitas warga Tionghoa banyak dilakukan di Gedung Woloe yang berlokasi di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gadingrejo.

Kala itu para bangsawan Tionghoa kerap berkumpul. Bahkan beberapa tokoh Tionghoa dari tanah, sering berkunjung. Salah satunya King You Wei seorang reformis Dinasti Qing ke Pasuruan.

Photo
Photo
SETELAH KEMERDEKAAN: Sejumlah siswa dan siswi warga keturunan Tionghoa di Tiong Howa Hwee Kan Pasuruan yang saat itu sudah berubah nama menjadi Sekolah Rendah-Menengah Tionghua Pasuruan. (Istimewa)



Setiap berkumpul, mereka ingin sukses di tanah perantauan. Namun mereka ingin tidak melupakan identitas Tionghoanya. Di sinilah cikal bakal THHK terbentuk.

Singkatnya di tahun 1903, Han Roo Tong yang merupakan konglomerat di zaman itu, ingin THHK semakin maju. Pengusaha gula yang punya kekayaan melimpah ini, merelakan aset tanahnya untuk dibangun sekolah baru yang gedungnya lebih luas. Gedung baru ini berlokasi di tempat saat ini, di Jalan Soekarno-Hatta.

“Sebagai wakil ketua THHK adalah Liutenan Liem Bong Lien yang menyandang pangkat Letnan dianggap sebagai tokohnya Tionghoa Pasuruan,” Bagus yang sudah pernah melakukan riset tentang sekolahnya ini.

Di zaman itu, etnis Tionghoa memang menjadikan kawasan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Hasanuddin, sebagai pecinan. Terbukti di jalan ini, banyak peninggalan-peninggalan bangunan Tionghoa yang masih bertahan sampai sekarang.

“Untuk tipe pendidikan THHK yang berdiri waktu itu adalah tipe SD dan SMP termasuk menyisipkan pendidikan SMP sebagian ke SD. Apabila ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya mayoritas menyebar ke Malang atau Surabaya,” jelasnya.

Photo
Photo
KONSEP MASIH LAMA: Salah satu sudut bangunan ruangan kelas di SMAN 1 Pasuruan. (Istimewa)



Waktu itu sekolah memiliki kemandiraan yang tinggi dengan dibuktikan membuka Chung Hua Theatre (gedung bioskop) tahun 1951 dengan usaha pemutaran film. Selain itu ada penyewaan tempat sehingga pemasukan yang ada bisa dipakai untuk kepentingan membangun sekolah.

 

Menjadi Sekolah Negeri

Keberadaan THHK tentu mengalami pasang surut. Apalagi sebelum merdeka, Indonesia sempat dijajah oleh Belanda dan Jepang. Ini juga mempengaruhi sistem pemerintahan.

Perubahan ini juga dialami THHK. Sekolah ini berubah menjadi SMAN 1 Kota Pasuruan berawal saat bangsa Jepang menguasai Indonesia, yang waktu itu berhasil menaklukkan penjajahan Belanda dari Indonesia.

“Jepang juga merasuk ke belajar mengajar di Pasuruan. Saat Jepang menguasai Indonesia, mereka tanamkan pembelajaran ala khas Jepang pada waktu itu,” ujar guru sejarah SMAN 1 Bagus Amrulloh Eri Pradana.

Praktis sistem dan pengajarannya pun berubah. Misalnya saja, saat Jepang belum menguasai, sebelumnya ada mata pelajaran Al Jabar, logaritma, matematika Bahasa Cina dan Konghucu serta yang lainnya. Namun saat berkuasa, Jepang mengubah sistem pelajaran di sekolah tersebut menjadi sekolah ala-ala Jepang.

Photo
Photo
SEBELUM KEMERDEKAAN: Siswa-siswi warga Tionghoa di THHK sekitar tahun 1927. (Istimewa)



Namun di era penjajahan Jepang inilah, siswa lokal sudah mulai masuk. Setelah perubahan itu terjadi, pelajaran yang berbau Tionghoa seperti Konghucu, pelan-pelan dihapus.

Kebiasaan sekolah juga berubah. Misalnya, setiap Jumat pagi, siswa wajib mengikuti senam taiso. Namun mata pelajaran yang lainnya tetap digelar.

Perubahan besar mulai terjadi saat penjajah benar-benar angkat kaki dari bumi pertiwi. Saat memasuki tahun 1958, sekolah ini resmi menjadi sekolah negeri. Semenjak itu sekolah ini dihuni siswa dan siswi dari berbagai kalangan. Lokal maupun nonlokal.

Gejolak di dalam negeri seperti adanya pemberontakan PKI, juga mempengaruhi sekolah ini. Bahkan di tahun 1966, sekolah ini sempat vakum. Sempat siswa di sekolah berkurang. Tapi perlahan Indonesia yang mulai bangkit, sistem Pendidikan makin dibenahi. Sekolah-sekolah lalu diurus oleh pemerintah daerah.

Namun nama sekolah waktu itu bernama Sekolah Menengah Pasuruan. “Masih bukan SMAN 1 Kota Pasuruan, ujar Guru Sejarah SMAN 1 Kota Pasuruan lainnya Sutitno.

Di waktu itu, siswa sebenarnya masih minim. Beruntung setelah siswa SMA Poncol, dialokasikan ke SMAN 1. Sehingga kebutuhan menjadi sekolah negeri terpenuhi.

Di tahun 1978, SMAN 1 mulai berkembang pesat. Apalagi saat itu tiap daerah juga sudah memiliki sekolah menengah atas yang berdiri sesuai wilayah. Misalnya di Pandaan, Bangil, dan Grati. “Tetapi SMAN 1 di Kota ini bisa dikatakan pusat daripada SMAN 1 lainnya di Pasuruan,” ujarnya.

Perlahan, SMAN 1 semakin berkembang. Sebelum sistem zonasi diberlakukan, sekolah ini pernah disebut sebagai sekolah favorit.



Peninggalan Lawas Hanya Sisakan Lapangan Basket

Banyak perubahan di SMAN 1 Kota Pasuruan. Sekolah ini menampung ratusan siswa dan memiliki 21 ruang kelas dan 3 laboratorium dan 1 perpustakaan. Rata-rata semuanya bangunan baru. Tidak ada lagi bangunan peninggalan THHK.

Tentunya banyak bangunan baru di lingkungan mantan sekolah Tionghoa ini. Begitu pula sistem pelajaran dan lainnya.

Namun masih ada peninggalan zaman sekolah Tionghoa, bangunan yang masih ada hingga sekarang.

Apa itu? Salah seorang guru Sosiologi Nila Suyanti mengatakan, peninggalan bangunan sekolah Tionghoa hanya lapangan basket di sisi barat sekolah.

“Tinggal ini saja, yang lain sudah banyak perubahan,” ujar guru paling senior SMAN 1 Kota Pasuruan.

Photo
Photo
DIPERTAHANKAN: Lapangan basket SMAN 1 Pasuruan yang sampai kini masih ada. Hanya lapangan basket ini saja peninggalan yang masih dipertahankan orisinal. (Fuad Alyzen/Radar Bromo)



Sebelumnya, memang ada benda-benda peninggalan sekolah Tionghoa. Mulai dari mebeler seperti lemari, hingga kayu kusen di sejumlah pintu dan jendela gedung. Peninggalan paling lawas adalah gedung paling depan SMAN 1. Meski sudah kesannya lawas, namun pelapisannya dan tampilannya diperbarui.

Kini SMAN 1 masih menjadi sekolah favorit di Pasuruan. Terutama di Kecamatan Panggungrejo yang menjadi zonasi sekolah ini. “Sudah banyak siswa yang prestasi alumni dari sekolah ini,” ungkap Sutitno, guru di SMAN 1 Sutitno. (zen/fun)

 

Tentang SMAN 1 Pasuruan
Editor : Jawanto Arifin
#dulu dan kini #sman 1 pasuruan