Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak PLTD di Maron Wetan

Ronald Fernando • Minggu, 26 Maret 2023 | 16:09 WIB
PENINGGALAN BELANDA: Bangunan PLTD saat masih beroperasi. (Istimewa)
PENINGGALAN BELANDA: Bangunan PLTD saat masih beroperasi. (Istimewa)
Peninggalan zaman kolonial Belanda masih banyak dijumpai di Kabupaten Probolinggo. Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Desa Maron Wetan, Kecamatan Maron. Di era jayanya dulu, bangunan yang kini tak terawat itu jadi penyuplai energi listrik perusahaan milik Belanda.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

LOKASINYA tak jauh dari Kantor Desa Maron Wetan, Kecamatan Maron. Persisnya, berjarak 700 meter ke arah barat di RT 8/RW 2, Dusun Krajan. 

Tampak sungai kecil yang dihubungkan oleh jembatan setapak. Berukuran sekitar 1,5 meter. Dari titik ini, berjarak 300 meter ke sebelah utara, terdapat sebuah bangunan berbentuk lonjong. Bangunan inilah yang merupakan tempat menyimpan mesin diesel milik Belanda.

Bangunan PLTD tersebut ukurannya begitu kecil. Hanya  sekitar 2,5 x 3 meter. Berada persis di tepi selokan dengan fondasi bangunan setinggi 1,5 meter. 

Pada bagian atas bangunan terdapat sebuah pahatan tertulis tahun 1915. Diduga tahun tersebut merupakan tahun berdirinya bangunan dan mulai difungsikannya PLTD.

"Warga sekitar menyebutnya Dinamoan. Sebab, dulu ada mesin seperti dinamo besar di dalamnya. Namun, saat ini sudah tidak ada. Hanya menyisakan bangunannya saja," kata Kepala Dusun Krajan Harsono.

Pria asli Maron Wetan yang saat ini sudah berusia 55 tahun ini menceritakan, PLTD tersebut dulunya merupakan salah satu penopang tenaga listrik Pabrik Gula (PG) Maron. Berada di sebelah barat PLTD berjarak sekitar 800 meter. 

Photo
Photo
TAK TERAWAT: Kepala Dusun Krajan Harsono menunjukkan bangunan PLTD yang saat ini sudah ditumbuhi tanaman liar. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

Saat pabrik tersebut masih berjaya, PLTD hanya dijadikan tenaga cadangan listrik. Saat pembangkit listrik utama sedang mengalami kendala. Maka, PLTD dihidupkan agar listrik tetap terjamin dan produksi gula pun bisa dilakukan dengan lancar.

"Belum ada data pasti apakah benar atau tidak? Sebab, ini cerita turun temurun. Cerita dari kakek, turun ke bapak, dan diceritakan pada saya," beber Harsono.

Staf Kecamatan Maron Hasan menjelaskan, jika memang kawasan sekitar bangunan bekas PLTD. Di bawahnya, terdapat sebuah pipa bawah tanah sisa jaringan listrik. Pipa itu mengarah ke PG Maron yang saat ini sudah menjadi Lapangan Maron. 

Hal ini ditemukan saat warga hendak membangun rumah. Saat menggali untuk fondasi, tanpa sengaja cangkul dan sekop membentur sebuah pipa. 

Pipa tersebut cukup panjang mengarah ke timur (PLTD, Red) dan ke barat (PG Maron, Red). "Pipa panjang, bisa jadi dulu tempatnya kabel yang ditanam. Mengarah ke lokasi PG Maron," bebernya.

Walaupun bukti-bukti yang ada menunjukkan jika bangunan PLTD ini merupakan infrastruktur penting pada zamanya. Tetapi, masih memerlukan kajian yang mendalam dan banyak referensi lainnya. 

Apakah benar hanya digunakan untuk penopang tenaga listrik PG Maron? Ataukan juga digunakan sebagai tenaga listrik rumah Dinas Pejabat Belanda dan Pegawai PG Maron saat itu?

"Dulu saat saya masih kecil. Lapangan Maron belum sebagus saat ini. Ada beberapa fondasi panjang. Mirip seperti fondasi gedung. Namun sudah hilang," imbuhnya. (ar/mie)

Photo
Photo
BANGUNAN KUNO: Kondisi ventilasi PLTD yang banyak ditumbuhi tanaman liar.

Ditumbuhi Banyak Tanaman Liar, Dianggap Angker Warga

DULU perannya cukup vital. Kini kondisinya terbengkalai. Tak terawat. Bangunan PLTD itu memang masih berdiri. Namun, sudah tidak utuh lagi. 

Tak digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama, membuat bangunan ini tak terurus dan terbengkalai. Bahkan, penduduk sekitar menganggap bangunan tersebut angker karena berada di sekitar rimbunnya pohon bambu.

Kepala Dusun Krajan Harsono mengatakan, belum ada yang mengetahui sejak tahun berapa PLTD sudah tidak berfungsi lagi. Sebab, saat dirinya masih anak-anak bangunan tersebut sudah tidak digunakan. Namun, seingatnya, kondisinya masih terawat. 

Sehingga, sering digunakan oleh anak-anak untuk bermain saat pagi atau sore hari. "Itu bangunannya kan persis pinggir sungai, digunakan main saat hendak mandi. Ramai anak-anak main waktu saya masih kecil," katanya.

Saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi lokasi bangunan PLTD, kondisinya sudah tidak terawat. Fondasi bangunan sudah ditumbuhi tanaman liar. Sehingga, tidak tampak kaki bangunan tersebut. 

Seluruh bangunan juga mulai lapuk ditumbuhi oleh tanaman liar. Tidak didapati lagi daun pintu sebagai penutup ruangan. Bahkan, parahnya lagi, jika hendak menuju bangunan terlebih dahulu harus membersihkan bambu yang melintang. Nyaris tidak ada akses untuk ke lokasi bangunan.

Dengan kondisi demikian, warga sekitar pun enggan datang ke lokasi tersebut. Kondisinya yang jauh dari kata aman dan nyaman membuat warga menganggap angker bangunan tersebut.

Hanya orang-orang tertentu saja yang datang menuju ke lokasi. "Sekarang sudah tidak terawat, jadi tidak ada warga yang ke sana. Apalagi bangunan berada di tengah barongan, jadi agak menakutkan. Bukan hanya makhluk yang tidak kasat mata, tetapi juga takut ada binatang liar seperti ular, biawak, dll," terang Harsono sambil tertawa. (ar/mie)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Secuil Cerita PLTD di Maron Wetan

-Pada bagian atas bangunan tertulis angka 1915. Diduga tahun itu merupakan pembangunan PLTD.

-Bangunan PLTD berukuran sekitar 2,5 x 3 meter. Berada persis di tepi selokan dengan fondasi bangunan setinggi 1,5 meter. 

-Menurut cerita warga, PLTD hanya dijadikan tenaga cadangan listrik. Saat pembangkit listrik utama ada kendala, PLTD baru dimanfaatkan. 

-Di bawah PLTD ada pipa, yang diduga sisa jaringan listrik. pipa itu mengarah ke PG Maron (saat ini jadi lapangan Maron). Editor : Ronald Fernando
#sejarah probolinggo