Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Fransisco “Pancho” Rotunno, Eks Persekabpas yang Bisnis Mebeler di Chile

Fandi Armanto • Minggu, 30 Oktober 2022 | 23:18 WIB
SERBA BISA: Gaya Pancho saat membawa bola dengan seragam oranye Persekabpas. FORMASI SEMIFINAL: Skuad Persekabpas di musim 2006. Saat itu ada Pancho, Zah Rahan dan sejumlah pemain yang berhasil membawa Persekabpas tembus ke semifinal. (Foto: Pancho for Ja
SERBA BISA: Gaya Pancho saat membawa bola dengan seragam oranye Persekabpas. FORMASI SEMIFINAL: Skuad Persekabpas di musim 2006. Saat itu ada Pancho, Zah Rahan dan sejumlah pemain yang berhasil membawa Persekabpas tembus ke semifinal. (Foto: Pancho for Ja
 

Terakhir kali Fransisco “Pancho” Javier Rotunno Merino bermain di Persekabpas saat tim ini terlempar dari Divisi I musim 2008. Saat itu aturan kompetisi Liga Indonesia, hanya memperbolehkan pemain asing bermain di Divisi I. Pancho akhirnya pulang kampung awal tahun 2019 ke kampung halamannya di Chile.

SEBELUM menginjakkan kakinya di Indonesia, Pancho memang pemain sepakbola. Pria yang kini berusia 46 tahun itu, pernah bergabung di sejumlah klub. Utamanya di divisi kedua di Chile, Amerika Latin. Terakhir dia bermain di Chile Coquimbo Unido tahun 2002.

 

Photo
Photo
FORMASI SEMIFINAL: Skuad Persekabpas di musim 2006. Saat itu ada Pancho, Zah Rahan dan sejumlah pemain yang berhasil membawa Persekabpas tembus ke semifinal. (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)

Saat akhir 2002, mendadak dia mendapat tawaran untuk bermain diluar negaranya. Salah satunya dari Indonesia. Pancho yang saat itu sudah berusia 26 tahun langsung mengiyakan untuk berangkat. Apalagi ada 12 kawannya yang sama-sama dari Chile, untuk beradu nasib menjadi pemain sepakbola.

“Tujuanku dan kawan-kawan waktu itu adalah Bali. Kebetulan di Bali ada seleksi yang difasilitasi agen pemain. Aku masih ingat, agen itu adalah Jian yang sering kontak dengan klub Arema,” kata Pancho melalui video call WhatsApp.

 

Photo
Photo
KIRI-KANAN: Alfredo Vera, Rubén Checo dan Panho saat latihan di lapangan Samsung (kini CJI). (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)



Singkatnya, Pancho mengikuti seleksi yang saat itu diikuti pemain dari benua Amerika dan Afrika. Seleksi yang berlangsung singkat itu, membuat kawan-kawannya banyak diminati tim yang berlaga di Divisi 1 dan 2. Termasuk Pancho, Juan Castello, Chiko Cristian dan Sabastian yang direkrut Persekabpas.

Di musim itu, Persekabpas masih bermain di Divisi II. Tapi dengan kedatangan pemain asing, akhir musim 2003 berhasil menjadi juara. Hingga kemudian promosi ke Divisi I.

“Aku senang sekali waktu itu bisa membantu tim naik kasta. Tapi sedihnya, teman-temanku dari Chile, ada yang keluar dan tak dikontrak,” beber suami dari Claudia.

Pancho masih ingat, saat itu sejatinya tak hanya Persekabpas saja yang meliriknya. Ada dua tim besar yakni Persita Tangerang dan Persema yang mau menggunakan jasanya. “Tapi aku sudah terlanjur cinta dengan Pasuruan. Dengan Persekabpas. Aku memilih bertahan,” kata Pancho.

 

Photo
Photo
LATIHAN FISIK: Pancho saat berlatih di Tretes, Prigen. Kenangan ini yang paling dia ingat bersama skuadra Persekabpas. (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)

Bermain di Liga 1 sungguh menjadi idaman pemain seperti Pancho. Apalagi saat itu Liga Indonesia menjadi sasaran pemain asing seperti dirinya. Liga di Asia Tenggara yang punya penonton dan fans terbilang besar.

Bermain di liga utama, jelas menuntut Pancho harus bekerja ekstra. Lebih-lebih manajemen juga mulai mendatangkan pemain asing, yang semuanya punya kelas. Sebut saja seperti Angel Alfredo Vera dan Ruben Cheko yang sama-sama berasal dari Argentina.

Posisi bermain Pancho sejatinya adalah gelandang serang. Tapi dia kerap diplot untk menjadi gelandang bertahan. Bahkan beberapa kali dia menempati posisi second striker. “Mungkin ini yang membuat Papa Bangkit (Subangkit, coadh) menyukai saya. Bisa membantu pertahanan dan menyerang,” beber Pancho.

Boleh dibilang Pancho adalah pemain serba bisa. Apalagi, Pancho tak pernah sambat. Di lapangan, Pancho sering bermain penuh. Dia tak tergantikan karena jarang cedera.

Di musim keduanya bersama Persekabpas bermain di kasta tertinggi, dirasakan Pancho, terjadi di tahun 2006. Saat itu skuadra Persekabpas punya Murphy Kumonpole

Zah Rahan. Duet asal Liberia yang benar-benar membuat komposisi Lassak begitu tangguh. Di musim inipula prestasi paling tinggi yang diraih Persekabpas karena mampu tembus semifinal.

Tetapi Persekabpas bak roller coaster. Setelah gagal juara di musim itu, prestasi Persekabpas kian melorot. Pelan-pelan tersingkir dan degradasi kembali ke Divisi II. Hingga di tahun 2008, Persekabpas turun kasta.

Pancho yang saat itu usianya sudah 32 tahun menyadari, ada yang salah dengan tim kebanggaan masyarakat Kabupaten Pasuruan ini. Tenaganya yang sudah berkurang dan kerap diganggu cedera, diakuinya tak bisa membantu tim lagi.

Tetapi dia enggan untuk cabut dari Persekabpas. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang kampung. “Aku tak bisa pindah ke lain hati. Aku pulang awal tahun 2009 dan pamit ke Bupati Dade Angga di pendopo,” kata Pancho.

 

Kangen Nasi Punel dan Jalan-jalan di Alun-alun

Photo
Photo
BAHAGIA: Paulito, Claudia, Pancho dan Renato yang kini menetap di Coquimbo, Chile. (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)

ENAM tahun di Persekabpas membuat banyak kenangan yang dilalui Fransisco “Pancho” Rotunno. Bukan hanya suasana di stadion R Soedrasono. Baginya, Pasuruan adalah rumah keduanya.

“Saya rindu dengan riuhnya penonton. Berteriak Pancho...Pancho...Kejar...Kejar...” katanya mengingat.

Sejak bangun pagi dan berangkat latihan, Pancho selalu diikuti fans. Dia menganggapnya sebagai saudara. “Wes kayak dulur dewe. Hahaha. Semuanya sudah seperti keluarga bagi saya,” kata Pancho yang masih fasih berbahasa Indonesia.

 

Photo
Photo
LIBURAN: Pancho saat berada di Taman Safari. Dia kerap mengajak istri dan anaknya liburan saat masih membela Persekabpas. (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)

Pancho yang juga bisa sedikit berbahasa Jawa ini mengaku, di Pasuruan dia juga bahagia. Buktinya, dia pernah mengajak Claudia sang istri dan Paulito, anak pertamanya, untuk tinggal di Pasuruan.

Kebetulan saat itu Pancho dan pemain asing lainnya, mendapat mess di daerah Prigen. Claudia dan Paulito lah yang menjadi penyemangatnya. Dia, bersama istri dan anak tentu saja juga kerap family time. Biasanya mengunjungi tempat wisata di Pasuruan. Paling sering adalah mencicipi kuliner.

“Aku paling suka nasi punel di Bangil yang semuanya enak-enak. Aku juga rindu makan rawon, gule dan bakso di depan Pasar Prigen. Istriku dan Paulito juga senang,” beber Pancho.

Bahkan keluarganya juga dikenal oleh fans. Hampir tiap hari ada saja yang mendatanginya di mess. Membawa oleh-oleh hasil kebun dan mengajak bermain Paulito yang saat itu masih seusia anak SD.

 

Photo
Photo
LIBURAN: Pancho saat berada di Taman Safari. Dia kerap mengajak istri dan anaknya liburan saat masih membela Persekabpas. (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)

Pancho juga sering nongkrong di alun-alun Pasuruan dan Bangil. Ngopi-ngopi sembari mencicipi gorengan. Suasana yang sangat berbeda dengan di Chile.

 

Tekuni Bisnis Mebeler, Suatu Saat Ingin ke Pasuruan Lagi

 SEPULANG dari Pasuruan, Pancho langsung kembali ke Coquimbo. Claudia dan Paulito, sudah lebih dahulu pulang ke Chile. Pancho menyebut, waktu itu dia perlu waktu untuk pamitan ke orang-orang Persekabpas.

Selama wawancara, Pancho tak sediktpun menyinggung soal gaji. Baginya, saat bersama Persekabpas adalah loyalitas yang bisa dia tunjukkan ke Sakera Mania (sebutan supporter Persekabpas). Bahwa dia memang mencintai klub ini.

 

Photo
Photo
SEBELUM KE PASURUAN: Pancho saat bermain di tim Chile Coquimbo Unido. (ancho for Jawa Pos Radar Bromo).

“Tiba di Chile, aku tak langsung gantung sepatu. Masih bisa membela klub meski bukan di kasta tertinggi liga di Chile,” beber Pancho.

Dia baru benar-benar pensiun saat usianya beranjak 35 tahun. Di usia itulah Pancho mengaku susah untuk menemukan klub yang mau merekrutnya. Dengan berat hati, Pancho harus rela tak lagi bermain profesional.

Tentu saja hidup Pancho di Chile juga tak mudah. Dia masih memiliki keluarga. Apalagi Claudia melahirkan Renato, anak keduanya. “Renato ini bikinnya di Pasuruan tapi lahir di Chile. Hahahahaha,” kata Pancho.

 

Photo
Photo
TEKUNI BISNIS LAIN: Pancho di salah satu pabrik furniture di Kota Cocuimbo, Chile. Dia kini menekuni bisnis mebeler. (Foto: Pancho for Jawa Pos Radar Bromo)

Sebagai ayah, Pancho jelas harus bekerja. Apalagi anaknya kian besar. Paulito anak pertamanya yang pernah tinggal di Pasuruan, kini sedang menyelesaikan kuliah di universitas. Sedangkan Renato yang masih sekolah, bercita-cita ingin menjadi polisi.

Untungnya dia memiliki banyak koneksi. Setelah tak lagi menjadi pemain sepakbola, Pancho haus tetap bekerja. Dan pekerjaan diluar karirnya sebagai pesepakbola, adalah menjadi pelatih gymnasium. Kira-kira dua tahun dia melakoni itu.

Seiring berjalannya waktu, Pancho mengaku, dia juga berbisnis. Membuka usaha mebeler. “Membuat dan menjual mebel. Sama persis seperti yang orang Kraton (Bukir, Red) lakukan. Aku sering melihat perajin disana dan terinspirasi. Kebetulan aku punya kenalan dan usaha mebel berkembang. Aku mengambil bahan, membuatnya dan menjualnya,” kata Pancho.

Meski berada jauh di benua Amerika, Pancho beruntung masih terkoneksi dengan sosial media. Dia juga kerap membagikan kenangannya saat di Persekabpas hingga kisahnya di kampung halaman. Termasuk Sakera Mania yang pasti akan diterimanya bila diajak berteman.

Tak terkecuali bagi eks Persekabpas. Pancho mengaku terkadang dia bertelpon dengan Kasan Soleh atau Irfan Junaedi untuk pemain lokal. Atau berkirim pesan dengan Zah Rahan dan Murphy Kumonple. Termasuk Sakera Mania yang menjadi motivasinya sampai sekarang.

“Beberapa dari mereka masih kuingat. Suatu saat aku ingin kembali ke Pasuruan. Tentu saja bersama keluarga. Mengajak Claudia, Paulito dan Renato untuk menyapa dulur-dulur di Pasuruan. Atau mungkin bermain sepakbola lagi dengan teman-teman Persekabpas, supaya klub ini kembali bermain di kasta tertinggi dan jadi juara,” pungkas Pancho. (tom/fun) Editor : Fandi Armanto
#pancho persekabpas #persekabpas #laskar sakera