Viaduk Gempol disebut ikonik karena sampai sekarang masih bertahan. Bahkan masih berfungsi dan dilalui KA. Lokasinya berada di Desa/Kecamatan Gempol. Menjadi bersejarah karena jembatan jalur rel KA melintang di atas jalan nasional jurusan Surabaya–Banyuwangi.
Disebut bangunan bersejarah, karena dibangun sebelum Indonesia merdeka. Tepatnya dibangun oleh kolonial Belanda. Tidak banyak yang tahu kapan Viaduk Gempol mulai ada. Ada yang menyebut sudah ada sejak tahun 1900-an. Tetapi masyarakat sekitar mempercayai bangunan ini ada sejak lima tahun Indonesia belum merdeka atau 1940.
“Ini bangunan peninggalan Belanda, dibangun sebelum negara ini merdeka. Adalah jembatan rel KA dan oleh masyarakat dari dulu hingga sekarang disebut Viaduk Gempol,” beber Sekdes Gempol Makful Arif.
Makful Arif terbilang paling mengerti akan viaduk Gempol, Maklum saja, dia dan keluarganya adalah orang asli dari Desa Gempol. Banyak cerita yang dia dapat tentang viaduk.
Jembatan viaduk ini memiliki dimensi dengan tinggi 2,5 meter, lebar terowongan tengah 6 meter. Di sela-sela terowongan sisi kanan dan kiri masing-masing lebarnya tiga meter.
“Jadi, untuk lebar totalnya 12 meter. Terowongan tengah untuk kendaraan roda empat dan lebih melintas, kemudian terowongan sisi kanan dan kirinya untuk motor,” bebernya.
Tinggi viaduk saat ini, kata Makful Arif, sejatinya lebih pendek dari zaman dulu. Kemungkinan perubahan ketinggian ini terjadi bukan karena jembatan yang semakin menurun. Tetapi karena pengaruh perubahan pengaspalan jalan, yang kian lama aspalnya semakin tinggi.
Dalam kurun waktu puluhan tahun ini, sudah tak terhitung mengalami perbaikan aspal atau badan jalannya. “Otomatis ketinggian berkurang, dibandingkan dulu dengan sekarang,” tuturnya.
Makful menyebut, bentuk dan konstruksi viaduk zaman dulu dengan sekarang, juga agak berbeda. Karena dalam perkembangan zaman, pernah ada perubahan. Termasuk perbaikan.
“Dulu di sekelilingnya rindang. Banyak terdapat pohon. Selain itu juga ada pembatas berbentuk Cremona (menjadi ciri khas bangunan Eropa). Sekarang tidak ada. Hanya ada pembatas beton saja,” ujarnya.
Tingginya aspal di bawah viaduk ini belakangan juga kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Sudah beberapa kali kendaraan berat seperti truk bahkan bus, yang menabrak pembatas baja. Umumnya terjadi karena pengemudinya tidak tahu medan dan tak melihat adanya rambu petunjuk.
Batas maksimal ketinggian kendaraan yang melewati viaduk adalah 2,5 meter. Jika lebih sedikit saja, pasti akan menabrak. Sebab itulah kendaraan yang tingginya melebihi 2,5 meter, harus memutar ke arah bundaran Gempol, jika hendak menuju Porong, Sidoarjo.
Makful tak mengingat, sudah berapa insiden serupa terjadi. Yang pasti pembatas dari baja sudah dipasang sekitar kurun waktu 7 tahunan.
Sebelum ada pembatas, jembatan juga kerap tertabrak. “Meskipun langganan tertabrak kendaraan, bangunan viaduk tetap kuat dan kokoh. Inilah kelebihannya, dan faktanya memang demikian,” terangnya.
Tak Dipindah walau Ada Relokasi
Sampai saat ini, viaduk Gempol masih menjadi jalur perlintasan penting. Setiap hari ada kereta api yang lewat di jembatan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, ada rencana relokasi rel KA Porong Sidoarjo-Gununggangsir di Beji. Bahkan rencana itu kini sedang dalam kajian dan penentuan lokasi hingga ditetapkan gubernur. Ada empat desa yang menjadi lokasi relokasi. Perlintasan single track akan diubah menjadi double track.
Bagaimana nasib viaduk Gempol dengan adanya relokasi rel? Menurut Totok dari Dirjen Perkeretaapian Wilayah Timur Kemenhub RI, keberadaan viaduk Gempol sangatlah vital. Karena merupakan jalur rel KA, penghubung antara jalur dari arah Banyuwangi ke Surabaya dan dari Malang ke Surabaya. Begitu juga sebaliknya.
“Di lapangan, perkembangannya terus kami pantau dan monitoring. Karena berada di jalur rel KA vital serta utama,” ungkapnya.
Meskipun ke depan akan ada relokasi rel KA, menurut Totok, viaduk Gempol tetap terus difungsikan. Tidak akan diubah.
“Kalau relokasi sudah jadi, viaduk Gempol tetap ada. Jembatan tidak dibongkar. Ke depan akan difungsikan sebagai jalur komuter dari Bangil ke Surabaya dan sebaliknya,” ucap Totok. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin