Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Makam Inggris di Probolinggo yang Kini Menjadi Perpustakaan Daerah

Inneke Agustin • Minggu, 9 Juni 2024 | 16:25 WIB

 

 

 

TRANSFORMASI: Gedung Perpusda Probolinggo yang kini berdiri kokoh. Sebelumnya, kawasan setempat merupakan Makam Inggris.
TRANSFORMASI: Gedung Perpusda Probolinggo yang kini berdiri kokoh. Sebelumnya, kawasan setempat merupakan Makam Inggris.

 

Sebelum berdiri Perpustakaan Daerah Probolinggo, dahulu terdapat Makam Inggris di atas lahan setempat.

Lokasinya berada di sisi utara Lapas Kelas II B Probolinggo.

Adanya makam tersebut tak lepas dari sejarah Keproek Tjina atau Kepruk Cino (Pukul Cina) yang terjadi di Kota Probolinggo pada Mei 1813.

Istilah Kepruk Cino pertama kali muncul dalam catatan penulis Belanda bernama Jan Gerrit Willem Lekkerkerker dalam Probolinggo Geshiedenis en Overlever (1931).

Hal tersebut terjadi, karena kelompok Cina sejak akhir abad ke-18 hingga sebelum Perang Jawa (1825-1830), memainkan peran penting di bidang ekonomi dan pengelolaan lahan.

Salah satunya, adalah kepemilikan tanah partikelir atau particuliere landerijen.

Ada pula yang memangku jabatan berpengaruh dalam administrasi kolonial.

Serta diberi gelar setingkat Ronggo Tumenggung dan Bupati.

Kebijakan particuliere landerijen berkembang di masa VOC.

Particuliere landerijen adalah tanah partikelir atau tanah swasta yang dijual oleh unsur kolonial dan pemerintah kolonial di nusantara.

Berbeda dengan penjualan tanah biasanya, pembeli tanah diberikan hak menjadi tuan tanah lengkap dengan wilayah, tenaga petani, dan pajak keduanya.

“Sehingga tidak heran, rakyat menjadi menderita. Sebab pemilik tanah partikelir, mempunyai hak mutlak untuk menindas rakyat,” kata Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono.

Edi mengatakan, tanah partikelir muncul dari situasi krisis keuangan paska bubarnya VOC tahun 1799, yang meninggalkan utang sebesar 134,7 juta gulden.

Kebijakan ini lantas dilanjutkan pada pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Williem Deandels (1808-1811) dan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816).

“Karena VOC lemah saat itu, maka mereka memberikan dan menjual tanah kepada orang-orang kepercayaannya. Bisa kepada pribumi dan Cina sejak tahun 1680-an,” imbuhnya.

Hingga pada 1870, tercatat bahwa dari 1,6 juta bouw tanah partikelir di nusantara, dua pertiga telah dimiliki orang Eropa.

Kemudian 58.000 milik pribumi dan sisanya milik orang Cina. “Sebab orang Cina saat itu, unggul dengan bisnis kayu hingga tahun 1900,” tutur Edi. (inneke agustin/one)

 

Peristiwa Kepruk Cino di Probolinggo

Orang Tionghoa yang sebelumnya hanya sebagai kelompok Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), menonjol berkat kegigihan dan keuletan mereka.

Keberadaan mereka mulai tumbuh sebagai pesaing dalam urusan penguasaan lahan di pedalaman.

Sentimen rasial yang berlebihan, timbul ketika Gubernur Jeneral Deandels mendirikan pemerintahan birokratis pertama di Jawa.

Kebijakannya mereduksi kekuasaan elite pribumi dan memberikan kesempatan pada orang-orang kaya Tionghoa.

Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono mengatakan, saat itu Deandels memutuskan untuk menjual sejumlah tanah negara di Jawa Timur.

Hal itu dilakukan, untuk menutupi kondisi keuangan pemerintahannya yang morat-marit.

Distrik Besuki dan Panarukan dijual kepada Han Chan Piet, putra ketiga Kapiten Cina Han Bwee Kong.

“Karena dianggap membuahkan hasil, Deandles kembali menjual wilayah lainnya. Tahun 1810, Deandles menjual wilayah Probolinggo pada Han Tik Ko senilai satu juta ringgit (rijksdaalders) yang dibayarkan secara bertahap selama sepuluh tahun,” kisahnya.

Han Tik Ko yang merupakan Kapiten Cina asal Pasuruan ini, lantas memperoleh gelar Mayor Cina.

Dia diberikan izin, membentuk kesatuan bersenjata dan membuat uang kertas baru.

Edi menjelaskan, pembuatan uang baru dilakukan, karena pembayaran dilakukan secara berangsur.

Setiap bulan Juni, pembeli diharuskan mengangsur sebesar 50.000 ringgit. Dan pada bulan Desember sebesar 50.000 ringgit.

Sehingga lunas dalam 20 kali angsuran. Han Tik Ko telah mulai mengangsur pada akhir 1811.

“Keadaan di ujung timur Jawa Timur, kekurangan sarana tukar saat itu. Sehingga, pembayaran sebesar harga beli, tidak mungkin dilakukan oleh Han Tik Ko. Maka dari itu, untuk menjamin pemerintahan mendapat biaya pembelian, atas usul Deandels dilakukanlah pembuatan jenis uang kertas baru senilai satu juta ringgit, bernama Uang Kertas Probolinggo,” jelasnya.

Sementara dari sisi kekuasaan Han Tik Ko, menyamai bekas bupati sebelumnya.

Hingga akhirnya, dia dijuluki sebagai Babah Tumenggung.

Dia diberi izin untuk tinggal di kediaman bupati yang bagus. Sementara bupati sebelumnya, dimutasi ke Sedayu, Gresik.

Namun keluarganya masih terasa kuat pengaruhnya di Probolinggo.

“Bahkan para pejabat desa pribumi, banyak yang dipecat dan digantikan orang-orang Tionghoa,” jelas Edi.

Untuk memenuhi kewajiban pembayaran, penguasa baru berusaha memeras dan memberikan beban yang berat kepada rakyat.

Separuh dari total tanaman yang ditanam di Probolinggo, wajib diserahkan pada dirinya.

Sementara sisanya, wajib dijual ke Han dengan harga yang sangat murah. Terdapat juga pajak untuk sejumlah hal lain.

Di samping itu, Han Tik Ko juga harus menghadapi oposisi dari keluarga bupati lama. Akibatnya, ketidakpuasan muncul di mana-mana.

Puncaknya meletus dalam bentuk perlawanan rakyat, yang berlangsung pada 18 Mei 1813.

Peristiwa ini dikenal sebagai Kepruk Cino atau Perang Kedopok.

Dinamakan Kepruk Cino, karena sasaran utamanya adalah orang-orang Cina. Terutama keluarga Han Tik Ko.

Sementara disebut Perang Kedopok, karena merupakan salah satu nama daerah di Probolinggo, yang menjadi tempat rakyat petani banyak mendukung pemberontakan ini.

“Rakyat berhasil menguasai kota dan menduduki rumah bupati selama tiga hari. Sejak tanggal 18 hingga 20 Mei 1813. Han Tik Ko tewas bersama para pejabat Britania Raya yang sedang berkunjung saat itu,” beber Edi. (inneke agustin/one)

MAKAM INGGRIS: Foto kenangan Makam Inggris yang sempat diabadikan. Makam tersebut akhirnya dipindah dan lahannya saat ini, dibangun Perpustakaan
MAKAM INGGRIS: Foto kenangan Makam Inggris yang sempat diabadikan. Makam tersebut akhirnya dipindah dan lahannya saat ini, dibangun Perpustakaan

Pemindahan Makam Dua Perwira Britania Raya

Dijelaskan berdasarkan The Indian Newspaper 12 Agustus 1925, bahwa dua perwira Inggris turut tewas dalam kejadian Kepruk Cino tersebut.

Mereka adalah Letkol James Freser dan Kapten James Mpherson dari His Majesty`s Highland Regiment.

Pasukan dari Surabaya dan Pasuruan di bawah Komando Mayor Forbes dari Detachment of Haare Majesty`s 78th, berhasil menumpas pemberontakan tersebut dan menduduki kembali Probolinggo.

Kesatuan ini terdiri dari 100 anggota, ditambah sepasukan Jayeng Sekar di bawah pimpinan Letnan Dwyer.

“Di sini mereka melawan Saridaka atau Mbah Srendaka yang menjabat Demang Wonosari. Ia terbunuh dalam peristiwa ini. Sehingga seperti yang terjadi pada gerakan sosial lain di Jawa, tewasnya pemimpin biasanya sekaligus mengakhiri perlawanan,” jelas Pemerhati sejarah dari Lembaga Masyarakat Warisan Pertahanan (Defense Heritage Society) Kota Probolinggo, Edi Martono.

Edi mengatakan, kedua perwira Inggris tersebut, kemudian dimakamkan di pemakaman Inggris, dekat Lapas Kelas IIB Probolinggo.

Tepatnnya, di lahan yang kini menjadi Perpustakaan Daerah Probolinggo.

“Mungkin ada juga rekan-rekannya yang juga turut dimakamkan di sana. Bahkan Inggris terus menguburkan rekan senegaranya di sana, selama bertahun-tahun setelahnya. Hingga ada sekitar 25 batu nisan di pemakaman tersebut,” ceritanya.

Beberapa makam, tampak dilengkapi piramida. Satu di antaranya, berbentuk segi empat dan setengah kubus.

Sehingga, tampak lebih indah dan paling menarik di banding yang lain.

Tempat inilah, yang diduga merupakan peristirahatan terakhir kedua perwira Inggris tersebut. Yaitu Letkol James Freser dan Kapten James Mpherson.

Pada tahun 1923, Pemerintah Hindia Belanda, bahkan sempat mengeluarkan edaran kepada kepala pemerintah daerah, untuk merawat dan tidak melakukan pembongkaran terhadap makam tersebut.

Pemerintah Kota Probolinggo pun melakukan pemutihan monumen di makam tersebut, sebanyak satu kali setahun dan membersihkan rumput liar yang tumbuh.

Namun sayangnya, pemutihan prasasti hanya dilakukan ala kadarnya.

Sekitar tahun 1947, makam tersebut masih dapat dijumpai dan dikenal sebagai Makam Inggris.

“Hingga sekitar tahun 1950-an, makam ini masih ada. Tetapi pada masa Orde Baru, makam tersebut dibongkar. Di atasnya, kemudian berdiri Gedung Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Probolinggo dan Perpustakaan Daerah Probolinggo. Sementara, dua makam perwira Inggris tadi, dipindahkan ke kawasan Benteng, Kelurahan/Kecamatan Mayangan,” tutur Edi.

Tahun 2019, gedung Perpustakaan Daerah Probolinggo direnovasi.

Gedung pramuka di sisi utara, akan dibongkar dan menjadi milik perpusatakaan. Area perpustakaan akan diperluas dan dibangun menjadi dua lantai.

Pembangunan tersebut, direncanakan membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Sehingga, selama masa pembangunan, kegiatan membaca dipindahkan ke Taman Baca di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran. (inneke agustin/one)

Editor : Abdul Wahid
#dulu dan kini #belanda #perpustakaan daerah #VOC #makam