Oleh: Herumawan P A
Aku memandangi empat bendera Merah Putih terpasang di atas tiang bendera yang berjajar rapi di pinggir jalan kampung. Salah satu bendera Merah Putih mulikku. Kuperhatikan satu per satu.
“Lihat Pak, Bendera Merah Putih nomor empat paling bersih dan warnanya tidak pudar.” kudengar seorang anaik kecil tetanggaku berkata pada bapaknya yang berdiri di sampingnya. Lalu kulihat sang bapak tersenyum menanggapinya sambil bergegas mengandengnya pergi.
Kalau tidak cepat-cepat digandeng bapaknya pergi, aku akan menjawab perkataannya, “O iya, itu Bendera Merah Putihku. Aku membelinya sejak kecil, selalu mencucinya hingga bersih dan kering, kutaruh dalam wadah khusus lalu kusimpan di lemari.” Tapi untunglah keduanya cepat pergi, aku malah bersyukur karena tak jadi pamer.
***
Tapi semenjak bendera Merah Putih yang kusayangi kuhibakan untuk kampung karena dana membeli keperluan 17 agustusan terpotong untuk efisiensi anggaran keuangan RT/RW, aku tidak bisa tidur tanpa menciumi bendera Merah Putihku.
Karena biasanya, aku selalu mencium bendera Merah Putih sebelum kuberangkat tidur. Kebiasaan yang sulit kuhilangkan sejak pertama kali aku membelinya saat kecil. Hati ini pun terasa nyaman. Semua perasaan sedih yang terjadi padaku seakan hilang tidak berbekas dan aku pun bisa segera tertidur nyenyak.
Kini aku masih terjaga, membayangkan keadaan bendera Merah Putihku di atas tiang bendera. Akankah tetap berkibar di sana atau ada tangan jahil yang mengambilnya? Atau merusaknya?
Bendera Merah Putih seolah sudah menjadi bagian penting hidupku. Dan kini kenangan itu menerorku untuk terus mengingatnya. Membuatku ingin kembali melihatnya. Aku bangun dari tempat tidur, Kemudian beranjak keluar kamar, menaiki sepeda onthel.
Sampai di pinggir jalan kampung tempat empat bendera Merah Putih terpasang, kulihat jalanan tampak lengang Aku melangkah menuju ke salah satu tiang tempat bendera Merah Putihku terikat. Kulepaskan simpul ikatan tali di bawah lalu menurunkannya. Kuciumi bendera Merah Putihku seakan tidak mau lagi berpisah darinya. Seolah aku tidak rela membiarkannya sendirian berada di atas tiang bendera.
Beberapa warga mendatangiku. Mereka kaget melihatku ada di dekat tiang bendera, memegang sebuah bendera Merah Putih, saat tengah malam pula.
“Mau mencuri bendera ya?!” salah seorang warga langsung menuduhku. Aku menggeleng pelan.
“Cuma ingin tuntaskan kerinduan pada bendera Merah Putihku ini.” jawabku sambil berhenti menciumi benderaku. Mereka menggeleng-gelengkan kepala.
“Ooo Masnya yang dulu punya Bendera Merah Putih ini ya?” tanya seorang warga. Aku mengangguk pelan.
“Mas sudah ikhlas kan hibahkan Bendera Merah Putihnya untuk kampung.” kata seorang warga yang lain. Aku tersenyum sebentar. Lalu menjawab, “Masalah ikhlas itu urusanku dengan Tuhan.” Mereka terdiam, tidak menjawab lalu membubarkan diri.
Kukembalikan lagi perhatianku pada bendera Merah Putih yang ada di tangan. Aku bisa melihat benderanya tampak bercahaya, tak seperti biasanya. Kurasakan aura kebahagiaan terpancar di bendera Merah Putihku. Kuduga ia lebih suka berada di pucuk tiang bendera daripada dalam kondisi terlipat, ditaruh di wadah khusus lalu dimasukan ke dalam lemari.
Kuikatkan kembali bendera Merah Putihku pada tali lalu kunaikkan pelan-pelan sambil kunyanyikan lagu Indonesia Raya. Selesai kubernyanyi, bendera Merah Putih tepat terpasang di atas tiang bendera.
Aku melangkahkan kaki meninggalkan bendera Merah Putihku yang tampak ceria di atas tiang. Terus berjalan. Tanpa pernah menengok ke belakang. Karena kerinduanku malam ini sudah terbayarkan tuntas.
Mungkin esok pagi dan hari-hari berikutnya, aku akan selalu datang untuk melihatnya berkibar dengan gagah di atas tiang bendera. Tanpa perlu kuturunkan lalu menciuminya lagi. Karena aku sadar itulah hakikat kebahagiaannya sebagai sebuah bendera, berkibarlah dan terus berkibarlah wahai Sang Saka Merah Putih.
Yogyakarta, 11 Agustus 2026
Nama lengkap: Herumawan Prasetyo Adhie (Herumawan P A)
*Karya cerpenn saya pernah dimuat di Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Harian Rakyat Sultra, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya Republika, Serambi Ummah, Solopos, Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia).
Editor : Muhammad Fahmi